PEMILIK SENYUM MENTARI (part.2)

44293 medium screenshot 20181227 143106 1
Part. 2
Persiapan yang kurasa cukup untuk memaparkan makalah, seperti biasa Nina mengambil posisi aman sebagai operatorku saja. Nyebelin memang si Nina ini, selalu mengambil posisi itu, sedangkan aku harus mati-matian menjawab satu persatu pertanyaan dan sanggahan teman-teman, belum lagi kalau ada teman yang berniat menguji, ah…keringatan sekujur tubuh, ditambah lagi sang dosen pemilik senyum mentari itu meminta ijin padaku untuk mengajukan beberapa pertanyaan. Kubetulkan letak kacamataku lalu menarik napas dalam-dalam sebelum menjwab pertanyaan-pertanyaannya satu persatu, ia mengunggapkan cukup puas dengan jawabanku dan itu dia ucapkan tentu dengan dibarengi bonus senyum sehangat mentari itu.

Kenapa akhir-akhir ini kepalaku terus-terusan dipenuhi oleh bayangan pak Komar, bukankah dosen yang ganteng dikampus ini bukan dia saja, malahan dia tidak masuk kategori itu, entahlah…

Aku semakin tak bertenaga melangkahkan kaki ke parkiran. Kalau saja aku tidak ingat hari sudah semakin sore dan kampus ini sudah mulai sepi, aku akan duduk sebentar di taman, bukan untuk memandangi kuntum-kuntum mawar yang sudah mulai merekah di tengah-tengah taman itu, atau menikmati harum melati di pojok kiri taman, bukan…bukan itu, tapi aku ingin sebentar saja menata rasa yang semakin semrawut dan menyiksa ini. Tapi mau tidak mau, langkahku segera menuju parkiran, dimana motor maticku masih setia menunggu walau ia kesepian sendiri tak berkawan.

Angin sore kunikmati di atas motor sendiri, aku tahu ia tidak begitu bersahabat dengan kondisi badanku yang gampang masuk angin, tapi akhir-akhir ini aku sering lupa pada hal-hal kecil. Seperti tadi pagi lupa memakai jaket, hingga angin leluasa menerobos hijabku dan memancing mual diperut. Kemarin lupa tempat taruh kunci motor, hingga akhirnya aku harus mondar mandir di halaman dekat parkiran, merunduk laksana tanaman padi yang menunggu panen raya, mengaduk-aduk tanah dengan sepatu, berharap kunci motorku akan nongol di situ, tapi ternyata ia kutemukan di saku gamisku, uuuuhhhhh… .

“Pak Komar itu masih single loh…”, terngiang kembali suara maya, teman disebelahku yang sedang berbincang dengan Nina, entah apa judulnya, sampai pembicaraan mereka menuju ke status Sang Dosen pemilik senyum mentari itu. Dalam hati sebenarnya aku ingin sekali nimbrung dengan mereka, tapi aku urungkan, aku tidak ingin perasaan aneh yang sedang mengembara sampai kedasar hatiku itu semakin kuat mencengkeram dinding hati, enggan untuk melepaskannya dan akhirnya semakin menyiksaku.

“Da…kakak pingin ngobrol sama kamu, kapan ya”, suara kakak semata wayangku menyiratkan rasa kangen. Bersambung...
#masihSukaNgeFiksi #TitipDiAtmago
Sudah dilihat 23 kali

Komentar