PEMILIK SENYUM MENTARI (part.19)

59454 medium screenshot 20181227 143106
Siang yang terik, tak seharusnya, karena ini adalah bulan dengan curah hujan tinggi, tapi bukannya hujan, siang ini justru teriknya yang mengganas. Kuusap peluh yang mengalir deras di pelipis. Membersihkan seluruh kaca jendela rumah cukup memancing lelah dan peluh.

Kursi panjang di ruang tamu menjadi tempat pilihanku untuk melepaskan lelah. Kuhirup teh manis dari gelas didepanku. Kulirik hapeku yang tergeletak di sampingnya. Uuhh…kenapa kak Komar tidak menelefon dari tadi malam ya, biasanya ia akan menelefonku setiap hari saat ia bersama Nina, namun tumben ia tidak menghubungi aku lebih dari duabelas jam. Hal ini memang sudah dari awal menjadi kesepakatan kami, saat kak Komar bersama Nina, ia meminta ijin Nina untuk menghubungiku kapan saja, karena kondisiku yang sedang hamil, hingga butuh perhatian suami setiap waktu, dan Nina sama sekali tidak keberatan, bahkan beberapa kali ia datang menjengukku saat kak Komar bersamanya. Begitu juga denganku, aku tak pernah merasa keberatan saat kak Komar sminta ijin untuk mengantar Nina pergi ke dokter saat hari-harinya bersamaku.

Sebenarnya dari lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin terus menjaga utuh perasaan cintaku pada suami dan sayangku pada Nina. Namun kini entah apa yang aku rasakan, akupun tak mengerti. Apakah rasa cintaku pada belahan jiwaku akan berkurang, ketika hatiku dikungkung rasa cemburu yang berlebihan ?. Apakah rasa sayangku pada sahabatku akan tergerus oleh iri dan cemburu yang kerap mengunjungiku akhir-akhir ini?. Ah…akhirnya gerimis turun juga siang ini, gerimis yang ditemani sinar mentari, tak indah bagiku, walau dulu aku pernah suka sekali menikmati perjalanan ditemani gerimis. Namun kini entahlah, sepertinya pelangipun berubah warna, tak seceria dulu.

Gawaiku berdendang, cepat kuraih saat kulihat wajah terkasih dengan senyum sehangat mentari muncul di layarnya.
“Sayang, kami di rumah sakit ini, dari tadi malam ibu kumat sesaknya, sebentar lagi Nina datang menjemputmu, kamu siap-siap ya sayang”. Cukup mengagetkanku, namun aku menjadi lega karena pertanyaanku terjawab sudah, kak Komar tidak sempat menghubungiku dari tadi malam karena mengurus Ibu yang sakit, bukan karena keasyikan besama Nina, ups…bukankah Nina adalah istrinya juga, jadi sudah kewajibannya memberikan nafkah lahir bathin yang cukup kepadanya.

Suara klakson mobil di depan memicu gerakku untuk segera berkemas dan mengganti baju.
“Tidak usah buru-buru Fid, pelan-pelan saja, ibu hamil geraknya harus hati-hati”. Nina mengingatkanku yang memang kadang tidak menyadari kondisi kehamilanku saat sedang beraktifitas. Kusyukuri itu, karena aku tidak pernah mengalami gangguan yang berarti, seperti yang diceritakan kawanku, bahwa ketika hamil sering tidak bisa makan dan sangat kurang tenaga.
--------------------------------------------------

“Mertua sakit dari kemarin, baru sekarang dijenguk, seperti orang yang tinggalnya diluar negeri saja, untung aja kamu menikah lagi Komar, istri pertamamu yang manja itu sama sekali tidak bisa diandalkan, datang menjenguk juga karena di jemput”.

Ya Allah…entah apa yang aku rasakan. Baru sampai didepan pintu rawat inap, adek perempuannya Ibu sudah menyambutku dengan kata-kata pedas. Namun aku belum sempat berkata apapun, tanganku sudah digandeng kak Komar dan mendekat ke arah Ibu yang sedang berbaring lemah dengan bantuan pernapasan. Kucium tangannya dan berbisik meminta maaf karena baru menjenguknya sekarang. Kulihat wajahnya mengangguk pelan, matanya memberi isyarat menyuruhku duduk disampingnya.
-----------------------------------------------------------

Angin seperti berhenti berhembus, terlihat pucuk cemara membisu di halaman rumah sakit. Hanya separuh daun kecilnya yang berayun pelan. Kunikmati sejenak lewat jendela disamping tubuh kurus Ibu yang terbaring lemah. Sejak siang tadi tak pernah merespon sapaan kami yang mengelilingi dipannya.

Bibir kak Komar gemetar saat mengucap tahlil dan syahadat ditelinga ibu. Kulihat air matanya tumpah, kesedihan yang memuncak saat ibu hanya mampu merespon dengan kedipan mata saja. Namun sebentar saja, mata itu juga tak mampu merespon lagi setelah lidah yang kelihatan dari mulut sedikit terbuka itu, bergerak pelan mengikuti tuntunan bacaan syahadat dari mulut putranya.

Innalillahi wainna ilaihi roojiun…gumam pelan dari orang-orang terkasih ibu yang berusaha melepas kepergiannya dengan ikhlas. Dokter jaga memegang pundak kak Komar sambil mengucapkan ucapan bela sungkawa. Yah…beliau sudah pergi, wanita baik yang sangat kuhormati sama seperti hormatku pada Inaq. Wanita yang dulu menyambutku dengan hangat ketika kak Komar membawaku ke hadapannya, wanita yang pernah memberiku sebuah sajadah dan kalung emas indah dengan sebuah mutiara cantik di liontinnya. Kuusap dan kucium wajahnya dengan tak henti do’a terpanjat demi kedamaiannya di alam sana.
------------------------------------------------------------------------------------------

Gundukan tanah basah didepanku, aroma kamboja mengakrabi penciuman dan wajah suamiku yang masih tertunduk. Para pentakziah dan kerabat sudah meninggalkan kami. Tinggal keluarga dekat yang masih berada di sini. Kak Ibra merangkul bahu suamiku, membisikkan sesuatu, namun lirih kudengar suara kak Ibra, bahwa ia menyilahkan semuanya untuk pulang, sedangkan ia akan menemani jasad ibu yang sudah di alam kubur hingga maghrib tiba. Akhirnya hanya tinggal kami berempat yang ada di depan pusara Ibu, melanjutkan zikir dan do’a-do’a. Kak Ibra, Nina dan juga aku tentu takkan tega membiarkan kak Komar sendiri menyelesaikan pengabdian terakhirnya pada Ibu.

-------------------------------------------------------------------
“Sebaiknya kita bertiga tinggal disini aja, rumah ini terlalu banyak menyimpan kenangan bagiku”, begitu kata kak Komar dengan suara serak menahan haru didepan aku dan Nina. Sudah seminggu sejak kepergian Ibu, kami memang tetap berada disini. Begitu juga kerabat yang lain setiap hari datang untuk menemani para tetangga yang datang berzikir dan berdo’a setiap malam.

“Rumah ini sudah menjadi hak milik Nina, Ibumu sudah memberikannya pada Nina sebelum dia jatuh sakit beberapa waktu yang lalu, jadi tidak ada orang lain yang boleh mengambilnya dari tangan Nina, termasuk kami Mufida”, tak disangka jawaban bibi Najma sangat berang, ia mengira kalau aku akan menuntut hak di rumah besar dan mewah peninggalan Ibu ini. Kak Komar juga tertegun mendengarnya, mungkin dia juga tidak menyangka kalau bibi Najma akan seberang itu, karena kak Komar juga tidak pernah bermaksud mengungkit warisan Ibu, melainkan hanya ingin terus mengenang Ibu dan Bapak dengan tetap tinggal disini.

“Lagian hanya Nina yang sudah susah payah merawat Ibumu, sedangkan istri pertamamu tak pernah bisa merawat mertuanya, kerjaannya hanya bermanja-manja padamu, entah bagaimana jika besok sudah melahirkan, bakalan dia suruh kamu yang menyusui anak kalian”. Kembali bibi Najma melanjutkan caciannya padaku, ya Allah aku harus bertahan untuk tidak menggapinya, aku yakin suamiku akan memilih jalan terbaik untuk kami.

Entah disengaja atau tidak, tangan Nina dan kak Komar bersamaan menggenggam tanganku dalam diam, posisi dudukku memang di antara mereka berdua. Sepertinya mereka berusaha menguatkanku. Kami masih dalam diam, kak Komar sepertinya tak mampu menjawab sepatah katapun ujaran ketidak sukaan bibi Najma padaku, sampai akhirnya Nina mengeluarkan suara.

“Semua peninggalan Ibu adalah milik kak Komar bi’ Najma, termasuk rumah ini, jadi terserah kak Komar nantinya yang mau menempatinya bersama istri-istrinya atau tidak, kami akan patuh kalau kak Komar mengajak kami tinggal disini, karena beliau ingin terus berada di tempat yang pernah menyimpan banyak kenangan bersama Bapak dan Ibu”, dengan sangat sopan, Nina berusaha meyakinkan bibi Najma.

“Terserah kalian dah, bibi juga besok tidak akan sempat menjenguk kalian, setelah sembilan hari wafatnya ibumu, bibi harus pulang ke bali lagi”. Suara bibi Najma akhirnya menurun. Ah…aku tahu sebenarnya beliau baik, sebaik almarhum Ibu yang merupakan kakak satu-satunya. Buktinya beliau selalu datang lebih cepat dariku, saat Ibu sakit, walaupun dia tinggal di pulau seberang mengikuti tempat tugas suaminya yang memang aslinya berasal dari sana.

--------------------------------------------------------------------------
Nina baru saja selesai bekerja merapikan rumah, termasuk kamarku juga. Aku sebenarnya tidak enak memanggilnya, pasti dia sedang istirahat dikamarnya, kak Komar juga sedang berada di kampus. Aku berusaha tak menghiraukan sakit yang menyerang pinggangku, seperti rasa pegal yang sangat. Ah…pakaian dalamku basah, ada apa ini, aku meringis dan tidak kuat berjalan lagi saat mau ke kamar Nina. Aku berusaha meraih gawaiku dan menenefon Nina yang berada hanya belasan meter dariku.

“Astagfirullah, kamu harus kuat Fid, sebentar aku telfon kak Komar dulu”, Nina kaget melihat kondisiku, dengan cekatan ia membantuku mengganti pakaian yang sudah basah terutama di bagian bawah. Sebelumnya sempat kudengar suara kak Komar di telefon bahwa ia akan segera pulang.

bersambung...
Sudah dilihat 66 kali

Komentar