PEMILIK SENYUM MENTARI (part.18)

14 April 2019, 12:08 WIB
3 0 101
Gambar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (part.18)
Seperti ada kereta lewat, lalu menyerepet dinding hatiku, perih…
Ah…apakah perih ini cukup penting untuk menyita waktuku?, itu kan hanya luka bekas gigitan semut, sebesar apapun bengkaknya, tak perlu memanggil dokter bedah, cukup minyak kayu putih yang berjuang, bengkaknya pasti hilang.

Banyak hal yang berebut ingin menyita sedikit sampai banyak waktu dan pikiranku. Dari ocehan teman-teman di kampus, dari sindiran ibu-ibu arisan di dharma wanita persatuan Universitas Mataram.

“Kasian ya Bu Komar, baru menikah beberapa bulan saja sudah harus dipoligami”,
“Arisannya tidak gantian ya bu ?, tapi biar Bu Komar satu aja dah yang datang, jangan gantian sama Bu Komar dua, kita-kita ini kan perempuan baik-baik, gak bakalan nyambung sama pelakor”.

Pelakor ?, bukankah itu kata yang dulu pernah tidak kusukai, walaupun kata itu kemungkinan besar tidak akan disematkan pada namaku, namun sebutan pelakor untuk kaumku yang menurut para penyebutnya, adalah kaumku yang punya cerita miring tentang kisah cintanya dengan kaum adam.

Teringat dulu aku pernah beradu argumen dengan teman di kampus.
“Sebut saja dia itu isteri kedua, jangan sebut sebagai pelakor, belum tentu kok pernikahannya dengan seorang laki-laki yang sudah beristeri itu karena dia merebut suami orang, tidak mustahil kan, kalau isteri pertamanya ikhlas merestui suaminya menikah lagi”, kelihatan Alya menoleh cepat, dari tatapannya kutahu ia tidak sependapat denganku.

“Laahh…mana ada perempuan yang mau berbagi suami Fida, berbagi pacar aja gak ada yang mau, apalagi suami”, dengan suara tinggi Alya menimpal.
“Dengar ya Fid, kalaupun ada isteri yang mengijinkan suami untuk menikah lagi, itu pasti dalam keadaan terpaksa, mungkin saja isterinya sudah divonis dokter tidak bisa punya anak misalnya, atau suaminya mengancam akan menceraikan dia, sehingga si isteri memilih bertahan demi anak-anaknya”, mendengar kata-kata Alya yang sedang berang, aku memilih menyudahi diskusi lepas siang itu.
-------------------------------------------------

“Semua orang menyalahkan Nina, seakan-akan dia itu seorang wanita yang tidak baik, bahkan ada teman yang menyebutnya pelakor, mereka tidak tahu yang sebenarnya, mereka tidak tahu bahwa ide poligami sebenarnya adalah keinginanku yang awalnya tidak disetujui oleh suamiku dan juga Nina”, kak Komar hanya memandangku tanpa kata, membiarkan aku menumpahkan kesal di depannya, hanya sesekali tangannya mengusap kepalaku.

“Kasihan sekali Nina ya kak, dia pernah sampai menangis ketika teman-teman di kampus menyindir dengan kata-kata pedas, aku jadi merasa bersalah telah membuat orang-orang memandang negatif atas keberadaan Nina, seharusnya mereka menyadari bahwa Nina bukan pelakor, dia menjadi isteri kedua atas restu bahkan bujukan dariku yang menjadi isteri pertama”, mataku menerawang jauh keluar jendela yang tirainya sengaja terbuka, kebiasaanku setiap purnama, menikmatinya dari dalam kamar melalui jendela.

Purnama tersenyum kearahku, tapi aku masih ragu, apakah senyumnya itu tulus menyapa malam letihku ataukah ia sedang mencemoohku ? seorang perempuan dengan rajutan resah yang tak berkesudahan. Resah yang berarak bak mendung di bulan april, terus menerus membingkai angkasa, meski baru saja selesai menumpahkan isinya lewat hujan yang mengguyur persada.

Ah…kenapa mesti harus kupertanyakan keikhlasan rembulan ? bukankah disetiap purnama ia selalu manis menemani warna warni malamku. Bahkan saat malamku sangat letih dan kadang bergerimis, ia selalu berusaha menyapaku dari celah jendela kamar, meski harus bersusah payah menyibak gumpalan awan di langit april.

“Nina tidak selemah yang kamu kira sayang”, kak Komar menanggapi kata-kataku dengan tak menoleh padaku, melainkan masih sibuk dengan tafsir Al-Azhar ditangannya.

“Sebenarnya dari dulu ia cukup kuat kok, dia itu perempuan yang mandiri dan tak suka mengeluh, apalagi sampai menangisi nasib”, kak Komar memuji Nina dengan kalimat panjang.

“Kadang aku melihat dalam diri Nina itu satu paket perempuan dengan kecerdasan Aisyah, ketabahan Khadijah dan kebaikan Fatimah”.

Byuuuurrrr…seperti nyemplung ke sungai dengan deras air yang tak bisa kompromi sama kemampuan renangku yang tidak bisa diandalkan. Air masuk melalui mata, perihnya membuat hati ikut teriris. Masuk juga lewat hidung, uuuhhh…tidak enak sekali.

Apakah aku salah dengar ?, suamiku memuji wanita lain didepanku ?, pujiannya juga tak tanggung-tanggung, mengatakan kalau ia melihat tiga tipe perempuan mulia ahlul bait ada dalam diri seorang perempuan yang kini sudah jadi isterinya. Hatiku terasa remuk redam, karena yang dimaksud bukan aku, tetapi isteri keduanya. Isteri yang sama sekali tak pernah ia inginkan, tapi kegigihanku membujuknya, akhirnya membawanya menjadi seorang laki-laki pelaku poligami.

Ah…mungkin inilah cinta yang tumbuh subur setelah menikah, cinta yang awalnya kupupuki dengan susah payah. Yah…cinta yang kini merebak mewangi antara suamiku dengan sahabatku yang kini sudah menjadi isteri keduanya. Bukankah kemarin juga aku pernah mendengar Nina memuji kesholehan kak Komar, pujian yang hanya ku timpali dengan tawa renyah. Namun kenapa kini semua itu terasa mengangguku, bagai menelan makanan saat tengah mengalami radang tenggorokan, sakit…

Cemburu, yah…aku cemburu mendengar kak Komar memuji Nina. Aku pusing, aku ingin ke dapur lalu meracik secangkir kopi, lalu meminumnya dengan segera, agar beban di kepalaku ringan kembali.

“Kenapa minum kopi malam-malam?” raut heran suamiku kutanggapi cuek.
“Kepalanya pusing ?”, kembali pertanyaanya dilontarkan dengan raut muka sedikit berbeda dimataku.

Lembut pijitan tangannya di kepalaku tak mampu mengusir pusing. Biasanya kepala ini akan terasa nyaman, ketika tangan yang pernah berjabat dengan wali nikahku ini menyentuhnya. Nyaman, bahkan sampai aku tertidur sambil tersenyum. Namun ternyata malam ini berbeda, sentuhannya hanya kurasa tak ubahnya sebuah cemoohan, mencemoohku sebagai perempuan yang selalu terkungkung resah, perempuan yang tak pandai mengelola rasa, hingga segala rasa selalu menjadikannya resah.

“Nina itu sangat pandai mengelola rasa, ia tak pernah terpuruk dalam kesulitan, ia selalu bisa bersikap positif dalam menghadapi kondisi terburuk sekalipun, jadi jangan terlalu mengkhawatirkannya”. Kata-kata suamiku kembali terngiang di delinga. Ah…aku baru sadar ternyata suamiku sangat mengagumi Nina.

Aku ternyata tidak berhasil mengusir gundah, kulirik suamiku yang sudah tertidur, kelepaskan pelan-pelan pelukannya, aku beranjak mengambil air wudhu’.

Purnama masih menggantung di langit. Kutatap berulang ia dari jendela yang sengaja kusibak gordennya. Ah…ia masih setia dengan sinar lembutnya, lalu kenapa gundah ini memanjakan jiwa ?. Apakah hatiku sudah hangus terbakar api cemburu, mendengar kak Komar memuji istrinya yang lain didepanku ? kalaupun benar, bukankah Aisyah juga pernah marah dihadapan Rassulullah karena alasan cemburu ?

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan keatas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya”.

Mahfuzhot yang menjadi makanan sehari-hari ketika di pondok dulu itu, kembali terngiang di telinga dhaifku. Kata-kata bijak dari sang ulama kontemporer, Abu Abdullah Muhammad bin Idris Al-Syafi’I, yang lebih dikenal dengan Imam Syafi’I, menyentil dinding lemah di hatiku.

Apakah mungkin Allah sedang cemburu kepadaku ? rasa cinta kepada suami yang mungkin melebihi kadarnya. Hingga Allah timpakan ujian ini, memberiku ibrah, bahwa kecintaan yang berlebihan kepada selain Dia, pasti suatu saat akan menuai kecewa. Ah…aku memang kecewa pada suamiku, tak bisa kupungkiri itu. Suamiku yang dulu pernah berucap akan menjadi mentari yang akan menerangi seluruh bilik-bilik dalam rumah kami, suamiku yang dulu pernah menolak praktek poligami karena alasan tak sanggup menduakanku. Namun kini dengan lumrahnya memuji perempuan lain dengan pujian yang sangat istimewa. Pujian yang ditujukan kepada istri keduanya, yang dulu ia nikahi atas bujukan dariku.

Astagfirullah…tak seharusnya aku melamun di atas sajadah, wirid singkatpun terlupakan. Akupun terkejut dan beranjak bangun saat mendengar kak Komar memanggil.

Berssambung...

  Komentar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (part.18)

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!