PEMILIK SENYUM MENTARI (part.16)

55199 medium screenshot 20181227 143106
Dear kak Ibrahim,
Bismillahirrahmaanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh,

Ketika aku ingin menghitung nikmat yang telah Allah berikan padaku, walau aku tahu sampai kapanpun aku takkan pernah bisa menghitungnya, karena menghitungnya sama seperti menghitung jumlah butiran pasir di pantai, takkan pernah bisa terhitung. Saat itulah aku ingat kakak, kak Ibra adalah salah satu anugerah indah Allah untukku, seorang kakak yang hebat yang selalu ada dalam suka dukaku, kakak yang tak pernah berhenti memikirkan kebahagiannku, walau sebenarnya tugas itu sudah berpindah ke pundak laki-laki lain setelah ijab bersambut qabul beberapa waktu yang lalu.

Kak Ibra, pematang sawah tak jauh dari rumah kita itu masih membentang tegas, pematang yang pernah menjadi saksi ketika kita menghabiskan hari libur dengan ikut Inaq kesawah, memetik daun singkong dan menyiangi tanaman jagung yang baru tumbuh sejengkal tangan Inaq, namun menjadi dua jengkal dengan tanganku. Sungai itu juga airnya masih cukup jernih kak, airnya dulu pernah membawa pergi jepit rambutku, lalu kakak terjun dan berenang mengambilnya sampai kakak basah kuyup, ketika kakak akhirnya menyerah dan kembali menghampiriku di bawah pohon jambu biji. Ah…waktu itu aku menangis karena ternyata kakak tidak berhasil mengambil jepit rambutku yang terbawa arus.

Kakak masih ingat kan…saat aku memeluk erat tubuhmu, tak mau melepasmu untuk pergi bermain bersama teman-temanmu. Walau ketapel dan bunga jambu air sudah kau siapkan, kau bersedia membatalkan janji dengan teman-temanmu, aku tahu, memburu burung pipit dengan ketapel adalah petualangan terasyikmu, namun kau abaikan semua itu demi menemaniku bermain boneka.

Masih jelas ditelingaku, saat bapak memegang erat tangan kakak, meminta tolong untuk menjagaku jika bapak sudah tiada, yah…tiga hari setelah itu bapak meninggalkan kita setelah penyakit asmanya kambuh. Kak, aku tahu, tanpa wasiat bapakpun, kakak pasti menjagaku kan…

Kak Ibrahim kebangganku, seperti yang pernah Bapak, Inaq dan kakak ajarkan, bahwa setiap keputusan harus meminta petunjuk terlebih dahulu kepada Sang Pemilik Kehidupan. Adekmu yang sudah dewasa ini, bahkan sebentar lagi akan menjadi ibu, saat ini merencanakan sebuah ikhtiar besar, ikhtiar yang diyakininya mendapat ridho dari Sang Maha Rahim.

Kak Ibra, dua hari yang lalu, Nina dan kak Komar sudah sepakat untuk menyetujui usul dariku untuk poligami, Nina bersedia menjadi isteri kedua kak Komar setelah istiharah terlebih dahulu, begitu juga dengan kak Komar. Rencananya kami akan segera mengurus surat-surat ke pengadilan agama, karena kami ingin pernikahan kedua ini juga tercatat oleh negara. Sebelumnya kami juga akan memohon restu dari Inaq dan Ibu juga.

Kak Ibrahim, aku dan kak Komar sangat mengharap restu darimu, demikian juga dengan Nina yang bukankah dari dulu kau anggap seperti adikmu sendiri?, restuilah niat baik kami kak, do’akan kami agar dengan ikhtiar ini, semoga syurga Allah yang akan menjadi tempat berkumpul kita semua kelak. Aamiin…

Adik semata wayangmu

Mufidatunnisa’

----------------------------------------------------------------------
Kumasukkan kertas bertulis tangan itu kedalam amplop putih setelah melipatnya terlebih dahulu. Ah…aku sungguh kehabisan akal untuk membangun komunikasi yang indah seperti dulu dengan kak Ibra. Kutulis surat untuknya setelah hampir sebulan telefonku tak mau diangkat, WA juga tak kunjung di balasnya.

Kak Intan sampai tertawa ketika aku menitipkan amplop itu padanya dan memintanya untuk memberikannya pada kak Ibra.

“Kok seperti orang pacaran jaman dilan aja”, aku hanya tersenyum mendengar gurauan kakak iparku itu.

“Oh ya dek, sebenarnya ada yang mau kak Intan tanyakan”, kalimat kak Intan hanya berhenti sampai di situ, sepertinya ia segan untuk melanjutkan pertanyaannya.

“Iya, mau tanyakan apa kak”, aku sudah was-was kalau yang mau ditanyakan kak Intan adalah masalah rumah tanggaku, menurutku lebih baik kak Intan mengetahui ini dari kak Ibra saja.

“Itu…masalah…eh kamu baik-baik saja kan dek, kandunganmu bagaimana, masih susah makan ya…”.

Aku tahu sebenarnya bukan itu yang mau kak Intan tanyakan, pasti ini tentang hal serius yang membuat hubunganku dengan kak Ibra kini berjarak, tapi sudahlah…aku menjawab ramah pertanyaan yang menunjukkan perhatiannya pada kondisiku itu, walau sebenarnya itu adalah pertanyaan alihan dari yang sebenarnya ingin ditanyakan.

-------------------------------------------------------------------
Hari itupun semakin dekat, pernikahan kedua suamiku dengan sahabat terkasihku sejak belia. Pernikahan sederhana yang akan digelar dirumah ibunya kak Komar itu, pada akhirnya mendapat restu dari seluruh keluargaku dan keluarga kak Komar.

“Sebaiknya jangan dek, belikan saja yang baru, baju pernikahanmu biar kau simpan, cukup kau saja yang pernah memakainya”, kak Komar menolak waktu aku menawarkan gamis brukat indah warna putih itu di pakai Nina di hari pernikahannya. Gamis yang pernah aku pakai juga waktu akad nikah enam bulan yang lalu. Gamis hasil tanganku sendiri itu kusimpan kembali dilemari.

“Maaf ya Nin, seandainya aku tidak sedang hamil, aku pasti sudah membuatkan gamis pengantin yang cantik untukmu”, Nina hanya tersenyum memelukku ketika kami bertiga ke butik sederhana milik temanku, ia lebih banyak menyerahkan semuanya kepadaku, mulai dari memilih bahan sampai model, sedang kak Komar hanya menunggu di kursi pojok sambil memainkan hapenya.

“Kamu temeni Intan di sini aja dek, kakak akan datang besok”, suara kak Ibra di telefon seperti mengkhawatirkanku, ia menawarkan agar aku tidak hadir saat pernikahan kak Komar dan Nina, tapi tentu itu sesuatu yang tak mungkin bagiku. Pernikahan ini adalah atas inisiatif aku sendiri, aku merestui sepenuhnya pernikahan suamiku dengan sahabatku, restuku bukan hanya di atas kertas putih. Kertas putih yang bertulis kalimat panjang berpasal-pasal yang disodorkan oleh petugas di pengadilan agama untuk kutandatangani beberapa hari yang lalu, namun restuku juga tergaung dari dasar hatiku dan menggema di seluruh bilik-bilknya, lalu berwujud dalam sujud panjangku di sepertiga malam, mengetuk pintu langit merayu sang pemilik kehidupan, dengan sebuah nyanyian indah.

Rabbi…
Hambamu yang lemah datang menghadapmu,
Tidak ada kekuatan selain yang datang darimu
Hambamu yang pendosa ini datang menghadapmu
Jangan pernah menutup pintu ampunan bagiku
Hambamu yang hina ini menghadapmu,
Hanya berharap perlindungan darimu yang Maha suci
Ridhoi setiap ikhtiar kami,
Karena hanya kematian dengan ridhomu, adalah kepulangan yang kami impikan.


Bersambung....
Sudah dilihat 65 kali

Komentar