PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.14)

12 March 2019, 5:39
2 0 66
Gambar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.14)
Kutemui beberapa wajah cemas ketika aku membuka mata. Wajah kak komar yang paling dekat denganku, ada Inaq, ibu mertua juga kak Ibra. Ah…kenapa mereka kelihatan begitu cemas?, bukankah aku hanya sedikit kelelahan karena kurang istirahat dan beberapa kali lupa makan?.

“Alhamdulillah”, berbarengan kalimat ini diucapkan oleh orang-orang terkasih di hadapanku.

“Bagaimana sayang, kepalanya sakit ya, masih pusing?” kecemasan jelas terlihat dari wajah kekasih halalku itu, dengan lembut dia mengusap kepalaku. Gelengan keras kepalaku tak meyakinkannya kalau aku tidak apa-apa, dia berikan isyarat padaku untuk tidak bangun dan memegang tanganku yang saat ini sudah berada dalam kungkungan jarum infus.

“Kita pulang aja kak, aku baik-baik saja kok, cuma tadi itu agak pusing”. Rumah sakit memang tempat yang tak nyaman bagi siapapun, tak terkecuali aku, namun kak komar meyakinkan akan segera membawaku pulang setelah mengetahui hasil pemeriksaan dokter segera.

“Kak, apa Nina pernah telfon tadi? Hapeku mana?”, kulihat raut muka kak komar berubah, kelihatan sekali dia tidak senang dengan pertanyaanku.

“Lebih baik tidak usah pegang hape dulu ya, kamu istirahat aja, katanya mau cepat pulang”, dengan lembut kekasih halalku itu merapikan posisi tidurku, dan memberi isyarat agar aku istirahat dengan tenang.

Mereka semua beranjak ke bangku panjang di dekat pintu kamar rawat inap, kecuali kak Ibra yang langsung pamit pulang karena anaknya di rumah sedang demam. Aku pejamkan mata dan berusaha istirahat setenang mungkin, berharap kesehatanku pulih kembali.

Sayup-sayup kudengar suara ibu mertuaku ngobrol dengan kak komar. “Kalian sedang ada masalah?, Ibu lihat muka kamu berubah gitu begitu isterimu menanyakan tentang temannya?”, terdengar lembut suara Ibu mertuaku.

“Maaf kalau ibu menanyakan itu, kalau menurutmu Ibu tidak perlu tahu, tidak apa-apa, Ibu do’akan semoga kalian baik-baik saja, tapi kalau mau curhat sama Ibu, silahkan…Ibu akan berusaha membantu semampu Ibu”. Jelas ditelingaku walau Ibu sudah berusaha berbicara dengan intonasi suara serendah mungkin.

“Iya, kalau bisa jangan kamu tutupi nak, kami inginkan yang terbaik untuk kalian”, inaq juga menambahkan. Ah…dua wanita yang sama-sama kucintai dan kuhormati itu kini sedang menginterogasi suamiku, ingin sekali aku membuka mata dan bangun dari ranjang pasien ini lalu mendampingi suamiku untuk menjelaskan kepada kedua wanita sepuh di hadapannya itu.

Kudengar kak komar menghela napas sebentar sebelum menceritakan semuanya kepada dua wanita terkassih dihadapannya itu. Tentang kegalauanku selama ini yang menurutnya berlebihan dalam memikirkan kondisi Nina, juga tentang kondisi kesehatanku yang akhir-akhir ini terganggu karena sulit tidur serta jarang makan dan terakhir tentang permintaan anehku tadi pagi.

Aku memicingkan mata mengintip reaksi Inaq dan juga Ibu mertuaku. Kulihat raut wajah mereka berubah aneh, lalu seperti dikomando, mereka bersamaan menghela napas panjang bak sedang menghempaskan bongkahan batu yang menghimpit dinding gowa, berat…namun tak terasa plong jua meski bongkahan itu sudah dihempaskan.

“Inaq tidak menyangka Mufida punya pikiran seperti itu, Fida…Fida…”.
“Pikirkan baik-baik sebelum kalian melangkah untuk mengambil sebuah keputusan, tidak ada perempuan manapun yang bisa terbebas dari rasa cemburu, pun tidak ada laki-laki yang mampu sepenuhnya berlaku adil jika mempunyai isteri lebih dari satu”. Petuah padat dan cerdas dari ibu mertuaku mengembalikan perih di dinding hatiku, persis ketika kak komar marah-marah menanggapi permintaanku pagi itu.

“Inaq hanya berharap kamu sebagai laki-laki bisa mengambil keputusan bijak untuk keutuhan rumah tanggamu nak”, kudengar suara serak wanita yang pernah kudiami rahimnya duapuluh tiga tahun yang lalu itu. Sepertinya Inaq menahan tangis ketika mengucapkan kalimat itu.

Ah…Inaq…Ibu…percayalah, rumah tangga kami akan baik-baik saja, bukankah banyak laki-laki sukses di luar rumah yang berangkat dari rumah tangga berpoligami ?, bukankah tidak sedikit anak-anak yang tumbuh menjadi orang hebat dan mereka lahir dari ibu-ibu yang ikhlas dipoligami ? dan bukankah praktek poligami itu menjadikan seorang isteri mempunyai waktu lebih banyak untuk beribadah diluar rumah, karena urusan domestiknya bisa dibagi dengan isteri-isteri yang lain ? Ah…mungkin sebaiknya aku istirahat dulu, sebelum nantinya aku akan melanjutkan misiku untuk meyakinkan kak komar agar mau menikahi Nina.

“Keluarganya Ibu Mufida”, perempuan berkostum putih itu memanggil dengan memegang kertas di tangannya. Suamiku sontak berdiri menghampirinya.

“Kondisi isteri bapak tidak perlu dikhawatirkan, tensi darahnya sedikit rendah sehingga dia sering pusing dan sampai pingsan”, senyum mengembang dari bibir kak komar sambil menerima kertas hasil pemeriksaan dokter itu.

“Oh ya pak, selamat ya, isteri bapak positif hamil”, selembar kertas lagi di berikannya. Sebuah berita yang membuatku tersentak, sebuah perasaan haru menyeruak di dada, bersama dengan butiran Kristal bening jatuh di sudut mataku, ucapan hamdalah ku gaungkan dengan segenap jiwa. Rasa ini, ya…rasa yang membuat basah dipelupuk mata dan basahnya merembes sampai kerelung jiwa, sebuah rasa syukur yang mendalam, senada dengan rasa yang merangkulku sesaat setelah kak komar mengucap akad, saat tangannya disalami oleh kak Ibra yang menggantikan almarhum bapak sebagai wali nikahku. Moment yang merupakan salah satu episode kehidupanku itu tergambar jelas, sudah genap lima bulan berlalu, namun terasa baru kemarin. Kulihat senyum merekah bersamaan dari mulut dua wanita yang kuhormati, bersamaan dengan itu kurasakan kecupan manis mendarat dikeninggku.

Bersambung...

  Komentar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.14)

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!