PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.13)

4 March 2019, 10:57
1 0 139
Gambar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.13)
Kopi hitam dengan aroma khas kuletakkan didepan kekasihku. Aroma kopi akan masuk ke relung hatinya, lalu merasakan pesan cinta yang kukirim melaluinya dan akupun akan berbicara dengannya dari hati kehati, berharap permintaanku kali ini akan mendapat sambutan indah seperti sebelumnya.

“Kak, aku boleh ngomong ya!”.Kalimatku mendapat tertawaan dari kak komar.
“Serius amat, emang mau ngomong apa sayang?”.
“Aku selalu kepikiran Nina kak, aku sayang sekali sama dia, aku benar-benar tidak tega melihatnya hidup sendiri di pengungsian, aku adalah satu-satunya orang terdekat yang dia punya setelah semua kerabatnya meninggal, aku…”

“Apa perlu kita bujuk lagi dek, kita berangkat besok pagi ya, mumpung kakak sedang kosong kegiatan minggu ini”. Belum sempat kuselesaikan kalimatku, kak komar memotongnya dengan menawarkan untuk menemui Nina ke tanjung.

Ah…aku kesulitan melanjutkan kata-kataku lagi. Namun tekadku sudah bulat, aku harus bicarakan ini dengan kak komar, aku harus bisa meyakinkannya bahwa permintaanku ini akan membawa kebaikan untuk kami semua.

“Kak aku boleh minta sesuatu ya”, mengernyitkan dahi adalah jawaban sementara yang ku peroleh, kak komar tidak menjawab, hanya senyum dan anggukan yang mewakili jawaban bolehnya.

“Kak, tolong nikahi Nina ya…!”, kalimat yang membuat tangan kak komar tiba-tiba terlepas dari bahuku. Bukan kak komar saja yang terkejut, aku juga terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulutku sendiri, ternyata akhirnya aku punya cukup keberanian untuk mengajukan permintaan itu pada suamiku, sebuah permintaan yang mustahil keluar dari mulut seorang istri, namun ternyata kalimat itu mampu keluar dari dasar hatiku yang diwakili oleh lisan ikhlasku.

Kak komar melepaskan pelukan di bahuku, ia menatapku dengan pandangan yang sulit kumengerti. Mungkin dalam pikirannya aku sedang mengigau karena rasa sayang yang berlebihan kepada seorang sahabat, atau aku adalah perempuan milenial yang kini terobsesi dengan syariat poligami, atau mungkin saja dalam pikirannya aku sedang bergurau untuk menguji cintanya.

“Sudah ah…guyonannya ndak lucu”, cepat kuraih tangannya dan meletakkannya di dadaku, berharap dia bisa meraba kondisi hatiku yang tidak sedang bergurau bahkan sangat serius.

“Kak aku serius, aku ikhlas kok, itu jalan terbaik agar Nina mau tinggal sama kita”.
“Tapi itu ide konyol tau”.Nada suara kak komar sedikit meninggi.
“Sebenarnya ada apa dengan kamu Fid, kamu itu bikin kakak bingung tau”.

Aku menunduk dalam-dalam, tumben aku mendengar suara kak komar meninggi ketika berbicara denganku. Aku mengikuti langkahnya ke kamar, memandangi punggungnya yang sudah berada di depan laptop yang sudah menyala. Yah…aku tidak mau mengusiknya, aku sudah hafal, kalau menulis adalah aktifitas yang di kerjakannya sesering mungkin, dalam beraneka suasana.

Aku kembali ke dapur, merapikan sisa-sisa sarapan dan membersihkan peralatan dapur sambil merapikan pecahan puzzle hatiku. Potongan puzzle yang entah berapa jumlahnya dan entah bagaimana rupa warnanya.

“Aku tidak boleh menyerah, ayo mufida…teruslah berjuang untuk meyakinkan suamimu, bukankah ini adalah salah satu cara pembuktian keimananmu? Bukankah Nina sedang butuh pertolonganmu?, bukankah kamu mencintai sahabatmu seperti kamu mencintai dirimu sendiri?”.

Berbagai kalimat untuk memotivasi diri berjejer panjang dibenakku. Dapur sudah kubereskan, langkahku sedikit lunglai menapaki lantai. Kakiku terasa berat, tapi tak lebih berat dari beban yang kurasakan menindih dinding hatiku, terasa menyesakkan.

Sambil terduduk di depan cermin, entah mengapa tiba-tiba aku melihat mukaku tak seperti biasanya, sedikit pucat dan kelelahan terlihat jelas dari tirus pipiku. Ah…memang akhir-akhir ini aku sering merasa kelelahan walaupun aktifitas tak bertambah. Kuamati kembali wajah di cermin itu, namun tiba-tiba aku terkejut, bak melihat makhluq bertanduk dengan warna merah mendiminasi rupanya.

“Mufida, kamu itu benar-benar wanita bodoh, wanita-wanita lain sanggup melakukan apapun agar suaminya tidak berpaling kepada wanita lain, beda dengan kamu yang justeru meminta suamimu untuk poligami. Sadarlah Mufida, kamu wanita beruntung, suamimu seorang laki-laki sholeh, bertanggung jawab dan dari segi ekonomi, dia orang yang berkecukupan, dia memberimu cukup nafkah lahir bathin. Pertimbangkan lagi Mufida, syariat poligami itu bukan jalan satu-satunya sebagai pembuktian keimananmu, kamu seorang muslimah yang baik, fokuslah pada keutuhan rumah tanggamu, lupakan syariat poligami, karena itu akan menjadi fitnah dalam rumah tanggamu nantinya”.

Ah…apa-apaan ini, seperti dalam sinetron saja. Apa mungkin yang berbicara panjang lebar padaku tadi itu adalah syetan ?, makhluq yang dalam sinetron-sinetron sering digambarkan dengan makhluq bertanduk bermuka menakutkan ? Tapi bukankah tadi aku duduk sendiri tanpa siapapun di sini ? Atau mungkin itu tadi suara hatiku yang tengah bimbang karena ada bisikan syetan ? Entahlah…

Mentari naik sepenggalah, cahayanya masih cukup aman untuk kesehatan kulit. Ah…aku bukan ingin menikmati hangat sinar mentari pagi ini, walaupun sebenarnya itu sudah menjadi kesukaanku saat hari libur, menikmati hangat cahaya mentari pagi sambil membersihkan halaman depan dan belakang rumah. Kali ini aku ingin cepat-cepat beranjak menuju tempat wudhu’, meraih segarnya air wudhu’ hingga merasuk ke bilik-bilik kecil dalam hatiku.

Kuusap muka denga kedua telapak tangan ketika mengakhiri do’a dhuha. Kembali terngiang suara-suara aneh tadi, suara yang kukira bisikan-bisikan halus dari makhluq yang telah menjerumuskan kakek buyut manusia terdahulu sehingga terusir dari syurga.

Ah..syetan itu memang makhluq yang pantang menyerah dalam mencari kawan setinggal kelak, dia akan menggoda manusia dengan segala macam cara sehingga berhasil menjauhkannya dari keselamatan. Bukankah kegigihannya dalam merayu keluarga Nabi Ibrahim diabadikan dalam Al-Qur’an ? Dia bisiki Ismail dengan kebohongan yang dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak belia, namun sayang usahanya tak membuahkan hasil. Ismail kecil ternyata memiliki tingkat keimanan yang tinggi bak orang dewasa. Lalu target operasinya beralih ke siti hajar, dalam pikirannya, seorang wanita tentu akan lebih mudah diperdaya terutama dengan mengatasnamakan keselamatan anaknya, namun perkiraanya meleset, siti hajar mencintai anaknya dengan segenap cinta yang berada di bawah kecintaan kepada Tuhannya, tentu itulah juga yang memantapkan Nabi Ibrahim mengacungkan pisau tajam ke leher putra tercintanya. Sebuah potret kecintaan dan kepatuhan yang bernaung pada cinta sang pemberi kehidupan, yang kemudian dibalas Allah dengan mengirim leher domba sebagai ganti leher Ismail Sang Khalil.

Kuurai kisah Ibrahim dengan sepenuh rasa, lalu apakah syetan akan mengusikku seperti dulu mengusik keluarga Ibrahim, apakah aku akan terpedaya lalu melupakan keinginan kuatku ?. Keinginan untuk membawa sahabatku menempati salah satu bilik dalam rumah tanggaku ?. Tidak, aku akan terus meyakinkan suamiku, aku akan berusaha sampai ia menyetujuinya.

Bismillah…aku bangkit melipat sajadah dan merapikan mukenah. Teringat kalau kak komar masih di depan laptop, aku beranjak untuk mengingatkannya, bahwa waktu dhuha sudah hampir habis. Tanganku meraih pintu kamar, tapi ah…kepalaku terasa berat, bak dikelilingi puluhan kunang-kunang, mereka terus-menerus berputar di atas kepalaku, sampai semuanya gelap…ya…gelap…

Bersambung...

  Komentar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.13)

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!