PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.12)

2 March 2019, 0:40
0 0 122
Gambar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.12)
Setelah kepulangan Nina, kurasakan kekhawatiran yang sangat, rasa khawatir yang sama seperti waktu kabar tentangnya belum jelas setelah guncangan tujuh magnitude mengguncang Lombok utara sebulan yang lalu. Kukhawatirkan kehidupannya di rumah hunian sementara yang luasnya tak seberapa dan harus berbagi dengan beberapa anggota keluarga yang menjadi korban juga. Tentang kuliyahnya yang harus cuti walaupun sudah kuyakinkan bahwa kak komar akan membantunya seratus persen termasuk juga tempat kost yang tidak jauh dari kampus, namun semua itu ditolak dengan halus oleh Nina. Yah…mungkin kalau aku berada di posisinya, mungkin juga aku akan mengambil keputusan yang sama dengannya, karena prinsip kami sebenarnya tidak jauh berbeda.

Malam yang dingin,gumintang di angkasa menjadi saksi resahku.Bukan karena kepergian kak komar sejak dua hari yang lalu, mengikuti seminar kependidikan di pulau seberang.

“Tidak sempurna iman seorang mukmin hingga dia mencintai saudaranya seimannya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri”.Terngiang ditelingaku, sebuah kajian dari kitab hadits yang di bacakan oleh seorang ustaz favoritku. Lisan yang selalu memahat jiwa kami di pondok itu melanjutkan kajian.

“Orang-orang beriman itu laksana satu tubuh, ketika tangan terluka, mulut akan mengaduh dan mata juga terkadang menangis, jadi…jika kita masih saja masa bodoh ketika mengetahui kesulitan yang di hadapi saudara seiman, maka iman kita masih dipertanyakan”. Kami mendengarkan dengan khusyuk petuah-petuah dari guru kami, termasuk aku dan Nina yang selalu duduk bersebelahan.

“Terutama kalian semua, kalian ini seperti kumpulan penumpang dari sebuah kapal besar, pondok ini adalah kapal kalian, kapal yang akan mengantarkan kalian menuju sebuah dunia baru, dunia dimana kalian akan menempuh kehidupan masing-masing, dunia baru kalian esok tentu akan banyak aral melintang sepanjang jalan, karena dunia baru itu sejatinya adalah kancah perjuangan menuju kebahagiaan hakiki di taman surga kelak. Ilmu pengetahuan selama dipondok adalah bekal kalian, maka saling cintailah sesama saudara seiman dengan dengan cinta ikhlas karena mengharap ridho Allah”.

Terngiang terus petuah-petuah itu dan entah mengapa bayangan Nina melintas dibenakku, betapa imanku masih dipertanyakan ketika aku membiarkan Nina berjuang sendiri dalam kesulitan hidup yang di jalaninya. Ah…tapi aku sudah kehabisan kata-kata membujuk Nina untuk menerima bantuan aku, juga kak komar.

Angin malam masuk melalui jendela yang masih terbuka, aku baru menyadarinya ketika gorden terkibas angin karena daun jendela masih terbuka. Ku lirik jarum jam didinding setelah menutup rapat jendela kamar. Aku tersentak ketika kulihat jarum pendeknya berada tepat di angka satu, ternyata sampai jam segini mataku sama sekali tak mengantuk.

Air wudhu menyegarkan kembali jiwa ragaku, kutunaikan dua rakaat tahajjud dengan kepasrahan penuh pada sang pemilik alam. Sebelumnya ku kirim pesan singkat kepada kekasihku untuk membangunkannya menunaikan tahajjud.“Iya sayang, kakak masih belum tidur kok, masih ngedit materi seminar untuk besok pagi”, pesan singkat via wathapps yang di akhiri emoji cium itu membuatku tersenyum sampai kedasar hati.

Sajadah berwarna hijau tosca, pemberian ibu mertua ketika aku baru saja menginjakkan kaki dirumahnya itu ku bentangkan segera, tak sabar rasanya, aku ingin segera tenggelam dalam lautan kasih sang pemilik alam, lautan kasih tak bertepi dan tak berpamrih, merata serata-ratanya untuk hamba-hamba yang selalu berbaik sangka akan ampunan dan rahmatNYA.

Dua rakaat cukup membuatku terharu, butiran tasbih tahmid dan takbir serta gaungan istigfar memenuhi rongga dada, membawa kesejukan dan keindahan serta kekuatan memenuhi ruang-ruang sempit di hati.Terlarut jiwaku hingga aku tak sempat membuka mukenah dan melipat sajadah.

“Fidaaa….Mufidaa….!”
“Nina, kaukah itu ? Ninaaa….!”
“Ayo kak, kita harus bantu Nina, airnya semakin besar, ayo kak cepat…!”
“Tapi bagaimana dengan kamu sayang?”
“Tidak apa-apa kak, percayalah aku ikhlas”, kak komar kelihatan ragu untuk mengulurkan tangannya kearah Nina.

“Cepat kak, airnya semakin besar, sepertinya ini banjir bandang, Nina tidak mungkin selamat kalau kita biarkan terus bertengger di pagar rumah, perahu kita cukup besar untuk kita bertiga”.Teriakanku semakin keras meyakinkan kak komar untuk menolong Nina dan membawanya ikut di perahu besar kami.

“Tapi aku hanya ingin bersamamu Fid, aku mencintaimu Fida, dan hanya kamu”, teriakanku di jawab dengan kata-kata cinta yang hampir setiap hari menyentuh gendang telingaku, kak komar masih terus memandangku dengan pandangan penuh cinta dan berharap aku mengerti akan galau nan hebat di hatinya.

“Aku tau itu kak, tapi untuk kali ini aku mohon selamatkan Nina, dia sahabat terbaikku kak, dan aku menyayanginya karena Allah, aku tak akan pernah keberatan dia ikut berlayar bersama kita, tolonglah kak” air mataku tumpah di depan kekasihku, kekasih halalku yang kini tempat kugantungkan harapan akan membantuku menolong sahabat terkasihku sejak belia itu.

Ada titik bening di sudut mata kekasihku, namun ia segera mengulurkan tangannya meraih tangan Nina untuk membawanya berlayar bersama kami.

“Hati-hati kak…awas kakimu jangan sampai terpeleset”, aku kembali berteriak mengingatkannya saat kulihat air semakin tinggi.

Aku tersentak bangun ketika terdengar suara tegas nan merdu muazzin di masjid besar Al-Ittihad. Ah…aku mengucap hamdalah ketika tersadar bahwa aku baru saja mengembara di alam mimpi.

“Ya Allah ada apa dengan mimpiku tadi?”, aku termangu memikirkan takwil mimpi yang baru saja menemani tidur letihku. Nina…ternyata aku memimpikan Nina, apa arti semua mimpiku barusan, ah…aku bergegas bersiap untuk menunaikan dua rakaat subuh. Petunjuk terbaik ku mohon kepadapenguasa jagat raya. Entah apa yang yang kini sedang kualami, dalam hatiku tiba-tiba terbersit sebuah ide, yang mungkin bagi kebanyakan perempuan itu adalah ide bodoh, namun aku menguatkan hati untuk meneguhkan keyakinan bahwa itu adalah petunjuk dari sang maha Rahim.

Bersambung...

  Komentar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.12)

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!