PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.11)

2 March 2019, 07:37 WIB
1 0 69
Gambar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.11)
Genap sudah sebulan Nina tinggal bersama kami, sebuah anugerah Allah yang luar biasa bagiku. Kekasih halalku tak pernah mempermasalahkan ketika aku meminta ijin sebulan yang lalu untuk membawa nina pulang kerumah dan merawat luka di kakinya setelah menjalani operasi di rumah sakit. Nina memang tegar, tak pernah kulihat air matanya selama di rumah sakit, pun ketika petugas medis memberitahukan bahwa dia akan kehilangan kelima jari kaki kirinya, bahkan dia sempat tersenyum kearahku.
“Alhamdulillah Cuma jari-jarinya saja”, begitu lirih lisannya dengan ikhlas penuh yang tergambar di pelupuk matanya. Selama menemaninya di rumah sakit, ia beberapa kali mengucap syukur sambil menceritakan panjang lebar tentang bencana di tanah kelahiran orang tuanya itu. tentang rumah peninggalan orang tuanya yang kini sudah rata dengan tanah, tentang bibi satu-satunya kerabat yang dia miliki namun ternyata menjadi korban runtuhnya masjid besar di dekat kediamannya setelah diguncang tujuh magnitude saat sholat isya sedang ditunaikannya berjamaah, tentang paniknya ketika ia berlari keluar dari masjid namun ujung kakinya tertimpa potongan atap bangunan, namun ia segera tarik dan jari kelingking kaki kirinya tertinggal dibawah reruntuhan dan itu dia sadari setelah berada di tenda pengungsian.
Satu-satunya hal yang membuatnya meneteskan air mata adalah ketika aku meminta persetujuannya untuk membawanya pulang kerumahku, iameneteskan air mata sembari meminta maaf karena harus membebaniku.
“Fid, kakiku sudah sembuh sekarang, besok pagi aku pulang saja ya”. Kata-kata nina ketika kami bertiga selesai sarapan pagi itu membuatku terkejut mendengarnya. Kualihkan pandangan ke wajah suamiku, kulihat dia juga meletakkan sendok diatas piringnya dan memandang heran smabil mengernyitkan dahi.
“Nin, kami tidak pernah keberatan kamu tinggal disini”, kutoleh wajah kak komar, dia mengangguk dan tersenyum kearah kami.
“Lagian kamu mau pulang kemana Nin?”, nina menunduk mendengar pertanyaanku, aku jadi merasa bersalah dengan pertanyaan yang tak seharusnya kuajukan pada Nina. “Beberapa kerabatnya bapak yang selamat sekarang tinggal di hunian sementara yang di sediakan pemerintah daerah, aku bisa tinggal sama mereka Fid, nanti aku minta dua tiga lembar pakaianmu ya, barang-barangku di sana mungkin tak satupun yang bisa diselamatkan”. Kata-katanya kembali mengejutkanku.
“Sudahlah Nin, kamu tinggal sama kami aja, lagian minggu depan kita sudah aktif kuliyah, kita bisa barengan kekampus setiap hari”, aku berusaha meyakinkannya.
“Untuk kuliyah mungkin aku cuti dulu Fid”, kulihat Kristal bening mengambang di matanya.
“Eheemm, gini aja, kalian bisa bicarakan semuanya pelan-pelan, Nina pikirkan dulu masak-masak usul Fida itu, nanti bisa kalian lanjut diskusinya setelah dhuha mungkin, iya kan sayang”, kak komar memotong pembicaraan kami lalu tersenyum kearahku.Nina masih tertunduk diam, aku cepat mengiyakan usul kak komar.
“Oh ya, aku hampir lupa kalau pagi ini ada acara”, kak komar memberi isyarat padaku.
“Sebentar yang Nin”, aku mengikuti kak komar ke kamar untuk ganti baju, meninggalkan Nina yang masih tertunduk dalam diamnya.
“Sudahlah Nin, tinggallah disini bersama kami, kak komar juga setuju kok”.
“Aku tidak enak merepotkanmu terus Fid, sudah sebulan disini, cukup sudah aku merepotkan kalian”. Bersikeras Nina sambil merapikan beberapa baju pemberianku waktu sebulanyang lalu ketika kak komar menjemputnya ke lokasi pengungsian.
“Nin, coba pikirkan lagi, di tanjung kamu mau tinggal sama siapa,rumah huntara memang ada, tapi seluruh kerabatmu sudah tidak ada lagi, kamu mau tinggal bersama korban gempa yang lain, kamu perempuan Nin, apa kamu mau tinggal serumah dengannon muhrim juga?”.

“Non muhrim ?, trus selama ini di sini aku tinggal sama muhrimku ?, begitu maksudmu Fida…disini juga aku tinggal dengan suamimu, artinya aku sudah sebulan ini aku tinggal serumah dengan laki-laki non muhrim, memang ada kamu juga, tapi tetap aku merasa tidak enak Fida…”.

Tak kusangka suara Nina meninggi membantahku. Akhirnya pertahananku kalah, dengan terpaksa aku menyampaikan hal itu lewat telefon kepada kak komar dan ia janji akan segera pulang untuk mengantar Nina kembali ke tanjung.

Bersambung...

  Komentar untuk PEMILIK SENYUM MENTARI (Part.11)

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!