Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Di Tpa Jatibarang

20299 medium fb img 1515773062975
Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang saat ini masih memasuki tahap awal. Pembangunan ini menjadi terobosan baru pengolahan sampah di Kota Semarang. Proyek di atas lahan seluas 10 hektare di wilayah Bambankerep, Ngaliyan tersebut menelan biaya Rp 71 miliar. Rinciannya, dana hibah dari Pemerintah Kerajaan Denmark Rp 44 miliar, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Rp 18 miliar, dan Pemkot Semarang Rp 9 miliar.

Anggaran tersebut untuk pembuatan Landfill, tempat pengelolaan sampah menjadi gas methan untuk menggerakkan turbin hingga menghasilkan energi listrik dengan kekuatan 1,2 megawatt.

“Saat ini sudah berjalan tahap awal, yakni tahap pengkaferan dan pemasangan instalasi. Ini masih tahap pertama. Setelah itu, penutupan dengan membran. Sembari dicicil untuk pemasangan instalasi pipa-pipa. Nanti ada pengcoveran tahap dua, setelah selesai semua baru nanti mesinnya didatangkan. Ditargetkan Oktober 2018, listrik sudah beroperasi,” pembangunan PLTSa ini dikerjakan oleh kontraktor dari Malaysia.
saat ini produksi sampah di TPA Jatibarang sebanyak 1.200 ton per hari. Sampah yang sudah diolah menjadi pupuk sekitar 250-350 ton per hari.
Sebagian sampah sudah diolah dan didaur ulang di bank sampah di tingkat kelurahan, termasuk masyarakat yang memilah kemudian dijual. “Sampah di TPA yang dibuat pupuk organik, paling tidak sudah seperempat dari sampah yang ada. Tapi, nanti kalau ada pembakaran sampah untuk energi listrik, maka semua sampah akan dibakar habis untuk menghasilkan energi listrik.

Komentar