Peduli banjir

8858 medium img 20161208 120323
Begitu mendengar kabar banjir yang melanda kampung halaman teman-temannya, santri SMP Manarul Quran langsung sepakat untuk menggalang dana guna membantu keluarga teman-temannya yang tertimpa musibah. Mereka semua anak pondok yang tidak selalu memegang uang saku, dan kalau pun pegang, tidak dalam jumlah yang besar. Namun keinginan untuk membantu pun tak kalah besarnya.

Menyumbanglah selayaknya dengan ikhlas, begitu motto mereka.

Lalu kami, saya, Pak Na'em, Pak Agus Awalul Abidin, pun berangkat ke rumah santri yang terkena banjir. Itu perjalanan yang bukan hanya jauh, tapi sangat jauh. Jalan yang kami tempuh mulai dari jalan aspal mulus, sampai jalan beton, jalan paving, dan jalan tanah bergelombang.

Setelah hampir satu jam perjalanan bermotor, tanda-tanda banjir mulai tampak. Tanah yang becek, sawah terendam, ladang terbengkalai, tenda-tenda di pinggir jalan, dan rumah-rumah di dalam air.

Ini membuatku khawatir, bagaimana caranya mencapai rumah dua santri ini kalau air masih tinggi? Tapi syukurlah, rombongan kami mendapatkan kabar baik. Rumah dua santri kami sudah surut banjirnya, hanya menyisakan hamparan lumpur hitam memenuhi halaman yang dibawa banjir barusan.

***

Nah, ketegangan terjadi saat perjalanan pulang: naik biduk kecil menyeberang yang baru saja meluapkan banjir melahap rumah. Astaga, anak Bengawan Solo ini masih mengalir deras, air tinggi dan berwarna merah mengerikan. Kami harus naik bersama semua sepeda motor di atas biduk yang lebarnya tak sampai satu depa #arulife #banjirlamongan
Sudah dilihat 168 kali

Komentar