Parahnya kondisi terminal baranangsiang

30 May 2016, 16:13 WIB
19 1 296
Gambar untuk Parahnya kondisi terminal baranangsiang
Ini adalah laporan dari warga di wilayah kejadian. Harap berhati-hati dan selalu waspada. Jika butuh bantuan, hubungi  112
Menjelang hari jadi ke-534 pada 3 Juni, Kota Bogor dililit masalah transportasi publik yang minim solusi.

Sengketa pembangunan Terminal Baranangsiang saja sampai saat ini belum ada titik temunya. Belum lagi soal "sejuta angkot" yang hobi ngetem massal dan memicu kemacetan.

Karung-karung plastik putih berisi batu kali dan puing-puing bangunan kini jamak ditemukan di dalam Terminal Baranangsiang.

"Itu hasil swadaya komunitas terminal," kata Apansyah, Sekretaris Komunitas Pengurus Terminal Baranangsiang (KPTB), Sabtu (28/5).

Apansyah menuturkan, sejak pertengahan April lalu, mereka sepakat menambal jalan di terminal yang rusak dan bolong-bolong.

Kondisi Terminal Baranangsiang yang dibangun tahun 1974 oleh pemerintahan Presiden Soeharto ini hingga menjelang pertengahan 2016 belum tersentuh pembangunan lagi.

Terminal yang dulu menjadi terminal terindah di Indonesia karena lokasinya yang strategis dan berpanorama indah Gunung Salak kini benar-benar terbengkalai dan terpuruk.

Begitu memasuki terminal, kekumuhan makin tampak. Parkir bus tidak teratur. Penempatan gerobak pedagang kaki lima, warung, dan kios penjualan tiket berserakan tak tertata.

"Ibaratnya, kambing pun akan kabur jika harus menunggu di sini. Kami sudah tidak punya wewenang untuk melakukan pembangunan fisik sarana dan prasaran terminal," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Terminal Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kota Bogor Islahuddin Isna.

Padahal, terminal adalah salah satu fasilitas pengendali dalam sistem transportasi publik. Ketika terminal tak berfungsi baik, keseluruhan sistem pun terganggu.

Ia menjelaskan, Pemkot Bogor sudah bermaksud membangun kembali Terminal Baranangsiang (TB) tahun 2011-2012 di era Diani Budiarto menjadi wali kota.

Pemkot menggandeng swasta untuk pembangunannya dengan sistem build over transfer (BOT) dalam 30 tahun. Pemkot menyerahkan aset 2,1 hektar lahan terminal ke perusahaan itu. Keputusan itu ditentang KPTB.

Aco dan Andri, pedagang soto dan bakso yang lebih dari 20 tahun di TB, mengatakan, orang-orang yang menggantungkan nafkah di TB berdemonstrasi pada 2012 hingga menutup Jalan Tol Jagorawi.

Mereka menolak TB dijadikan mal dan hotel. Lokasi itu tetap harus jadi terminal bus antarkota antarprovinsi (AKAP) atau terminal tipe A.

Apansyah menyebutkan, pencari nafkah yang tergabung dalam KPTB sekitar 6.000 orang. Mereka pedagang, penjaga parkir, sopir, dan kondektur.

Mereka masih ingat revitalisasi Stasiun Besar Bogor yang membuat tidak ada pedagang kecil bisa masuk dan berdagang di stasiun.

Aco menambahkan, revitalisasi Pasar Bogor menghadirkan toserba besar dan membuat pedagang lama tidak mampu membeli kios yang dibangun pengembang swasta.

Terkendala regulasi pusat

Islahuddin Isna mengatakan, regulasi yang muncul dua tahun belakangan ini yang membuat perencanaan penataan dan pembangunan terminal menjadi terkatung-katung.

Pemkot sudah berencana memindahkan terminal bus AKAP ke Tanah Baru.

Namun, keluarlah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang dalam lampiran huruf U disebutkan, terminal tipe A di bawah kewenangan pemerintah pusat.

"Tidak boleh dana APBD mendanai proyek Terminal Tanah Baru. Silakan pusat jika ingin membangun terminal, sudah kami sediakan lokasinya, sesuai dengan RUTR Kota Bogor, yaitu di Tanah Baru," katanya.

Mengenai TB, Islahuddin mengatakan, pembangunannya sudah pasti harus ada fungsi terminal juga.

Apalagi ada Peraturan Presiden Nomor 98/2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Cepat Ringan (LRT) di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Di perpres disebut, koridor LRT Cibubur-Bogor berakhir di TB.

Pembangunan TB nanti, lanjutnya, mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 132/2015 tentang Penyelenggaraan Terminal Penumpang Angkutan Jalan.

Dibahas jelas mengenai zonasi terminal, seperti zona 1 khusus penumpang pemilik tiket dan langsung naik angkutan, zona 2 ruang pengunjung, pengantar, atau penjemput, dan zona 3 ruang publik/komersial.

Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, ketika dirinya baru dilantik sebagai wali kota pada tahun 2014, TB sudah masuk tahap pengosongan untuk dibangun.

Ketika timnya mengkaji berbagai aspek, pembangunan saat itu berpotensi bermasalah besar ke depan.

Dari segi desain, bangunan tinggi di kompleks TB sangat mungkin menambah keruwetan besar di Kota Bogor.

Jadi, intinya, lanjut Bima, pihaknya minta desain direvisi. Sekarang sudah fase akhir revisi desain.

"Kami mencoba cari titik temu dengan pengusaha bersangkutan. Sekarang ada titik temu itu. Nanti desainnya ikonik, tidak memicu kemacetan dan dampak negatif lain. Mudah-mudahan segera bisa jalan," tuturnya.

  1 Komentar untuk Parahnya kondisi terminal baranangsiang

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar