Opini Dimas Prayitno, Kepala Desa Kalisidi : Membudayakan Pengelolaan Sampah di Desa

25184 medium dimas p0010
25185 medium dimas p0002
Dunia yang semakin modern ini perubahan gaya hidup yang didorong oleh kemajuan teknologi media membuat lingkungan yang asri semakin memudar. Perubahan kebiasaan makan misalnya, sebelumnya didominasi makanan tradisional dengan bumbu alami dan alas daun kini beralih ke bumbu instan dan kemasan plastik yang menghasilkan sampah.

Begitu pula dengan minuman yang dahulu saat hajatan sudah cukup afdhol bila menggunakan teh dengan teko dan gelas. Namun kini sering kita teh kemasan plastik, air mineral plastik, dan minuman serbuk - yang juga dibungkus plastik.

Hal itu cara praktis yang dilakukan oleh warga seiring dengan kesibukan yang bertambah. Salah satunya dipengaruhi oleh naiknya kebutuhan rumah tangga yang mengharuskan para istri bekerja di sektor industri.

Di sisi lain para petani mulai merasakan dampaknya. Saluran irigasi mulai dicemari popok bayi, sampah plastik mengganggu pengairan sawah, dan limbah menyebabkan gatal-gatal pada kulit.

Gagasan untuk membuang sampah ke TPS (Tempat Pembuangan Sampah) dengan menarik iuran acapkali menuai protes warga karena dianggap membebani pengeluaran. Mengurangi produksi sampah pun menjadi hal yang sulit karena hampir semua produk saat ini dibungkus plastik.

Menjawab persoalan tersebut adalah pengelolaan sampah plastik yang tuntas. Warga dapat memilah sampah yang bisa dipakai ulang untuk fungsi lain dan bisa pula di daur ulang, seperti di Desa Kalisidi ini yang memiliki Komunitas Bank Sampah.

Pendirian komunitas-komunitas bank sampah di Desa Kalisidi yang difasilitasi PemDes (Pemerintah Desa) Kalisidi sangat diperlukan karena dapat menampung hasil sampah plastik skala rumah tangga agar bisa langsung diambil oleh Pengepul. Nantinya hasil penjualanya pun kembali kepada warga.

Komentar