Oase Ekonomi Dusun Kayoman

68715 medium post 72804 e75c6e81 810e 4210 ad6e cdfd1db0d7d0 2019 08 03t00 38 56.432 07 00
Dusun Kayoman sebetulnya tidak begitu tepat disebut dusun pinggiran. Pasalnya, akses menuju dusun Kayoman masihlah terbilang pantas (untuk tidak mengatakan layak). Walaupun terletak di tepi Kabupaten Gunungkidul, secara geografis, dusun Kayoman berbatasan dengan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Klaten. Meskipun dengan lokasi se-strategis itu, faktanya warga dusun Kayoman masih jauh dari kesejahteraan. Terutama dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kebanyakan warga bergantung pada kebun dan sawah-sawah. Di musim kemarau ini, warga dibuat resah dengan sulitnya mendapatkan air untuk kebutuhan pengairan. Dengan kontur tanah yang didominasi bebatuan, warga kesulitan mengetuk air di tanah kedalaman. Untuk mendapatkan sumber air, beberapa warga terpaksa menggali tanah lebih dalam, tentu dengan merogoh kocek yang tak kalah dalam. Beberapa yang lain, memilih membayar uang iuran pada tetangga sawahnya yang untung mendapatkan air. Belum lagi untuk mengairi perut, pakaian kotor, dan membilas alat makan. Musim kemarau ini, beberapa sawah terlihat rata dengan tanah yang kering nan retak. Beberapa yang lain ditanami tembakau, ketela, dan tumbuhan lain yang mampu bertahan dengan pengairan terbatas.

Di tengah kondisi tersebut, oase dusun Kayoman menggeliyat pada generasi mudanya. Terbukti, beberapa anak muda dusun Kayoman mampu menambal-sulam kebutuhan sehari-hari mereka sebagai pedagang maya atau lumrah disebut online shop.

Selain membuka usaha dengan akses daring, mereka juga bekerja sebagai karyawan produksi bakpia yang berada di dua titik dusun Kayoman. Namun, pendapatan sebagai pegawai tak terlalu cukup untuk menyiapkan hidup di waktu ke depan.

Salah satu pemuda yang saya wawancarai bernama Mame. Pemuda rantauan dari Cilacap ini membuka usaha aksesoris motor dengan modal promosi di beberapa platform media seperti Facebook, Instagram, dan Whatsapp di samping pekerjaan hariannya sebagai pegawai pabrik bakpia. Menurut penuturannya, penghasilan online shopnya mampu disisihkan untuk tabungan masa depan. Namun ada satu hal yang menjadi penghambat, ya akses internet.

Dalam hal akses internet, pantaslah Kayoman disebut daerah pinggiran. Beberapa sinyal provider seluler akan lenyap jika Anda datang ke dusun Kayoman. Beberapa warga dengan ekonomi mapan telah berupaya mendirikan tower wi-fi. Namun dengan pengguna yang melebihi batas dan kecepatan yang tidak seberapa imbang dengan jumlah pengguna yang ada.

"Saya harus rebutan dengan pemuda lain, Mas", ungkap Mame.

Terbatasnya akses internet menjadi kendala yang sangat berat dalam menjalankan usaha. Saya juga mendapati beberapa pemuda yang mengeluhkan hal senada. Potensi ekonomi ini hemat saya harus dikembang-suburkan. Tentu dengan kekuatan jaringan yang memadai.

Satu hal lagi, tidak banyak anak-anak muda dusun Kayoman yang merantau. Mereka memilih bertahan hidup di kampung. Menjaga asa dengan berbagai cara. Di antaranya dengan menjadi sopir panggilan, beternak sapi atau kambing, dan lain-lain. Selain itu, mereka juga tetap menjaga budaya leluhur dengan menghidupkan kesenian jathilan atau kuda lumping.

Saya sendiri kagum pada keteguhan dan terutama keuletan mereka dalam bekerja. Dengan latar belakang pendidikan yang seadanya, mereka berhasil menjaga martabat dengan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang meresahkan seperti mencuri, mencopet, dan yang semacam. Jika potensi mereka tidak dikembangkan, saya khawatir Kayoman di masa depan tak jua kunjung berkembang. Geliyat ekonomi anak-anak muda dusun Kayoman harus mendapatkan perhatian terutama oleh pemerintah dan dinas-dinas terkait.
Sudah dilihat 74 kali

Komentar