Nurohadi Penggiat Restorasi Lingkungan dan Mangrove PMI Batang, mendapat Kalpataru

67892 medium post 72160 82155429 538c 4add 83fd b9373f9d5d17 2019 07 26t12 24 08.750 07 00 67893 medium post 72160 48caa0fe c497 4aab 94f3 e4b401a719cf 2019 07 26t12 24 10.168 07 00 67894 medium post 72160 afe7dd8d 3bad 429d afac e0a547f002d5 2019 07 26t12 24 11.701 07 00 67895 medium post 72160 69b60eff e0c4 4579 912b 1416e01194b7 2019 07 26t12 24 12.998 07 00
Menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, tidak hanya ditunjukkan dengan menanam tanaman saja, namun juga harus diikuti dengan pemeliharaan yang baik. Hal inilah yang terjadi dengan hutan mangrove (bakau) di Pantai Karangasem Utara, Desa Klidang Lor, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Bentangan kawasan hijau sepanjang 37,5 Km di pesisir pantai Kabupaten Batang ini merupakan salah satu upaya rehabilitasi dan restorasi kawasan pesisir yang dilakukan oleh warga bersama Palang Merah Indonesia (PMI).
Tak heran jika kawasan Mangroove yang telah dikelola selama 5 tahun ini, kini telah menjadi kawasan ekowisata dan pusat edukasi mangrove.

Kisah ini bermula dari semangat sederhana yang dimiliki oleh pria asal Proyonangan Selatan, Kabupaten Batang, bernama Nur Rohadi.
Wilayah mangrove yang menjadi tempat mata pencaharian bersama warga lainnya, kerap digerus abrasi dan banjir rob yang menyapu bibir pantai. Tak hanya itu, alih fungsi lahan untuk kepentingan ekonomi, juga menjadi perhatian penuh pria berusia 40 tahun ini.
Kondisi tersebut membuat Nur mencari cara untuk tetap melakukan penghijauan meski terkendala biaya.
“Dulu sering diajak orang tua, jalan-jalan naik sepeda onthel melihat hutan mangrove di pantai Klidang, Batang. Hutan mangrove terbentang luas sekali. Beribu burung kuntul dan habitat pesisir lainnya juga ada disana. Namun keaadaan berubah drastis di tahun 1998, dimana reformasi berbuntut pada pembukaan kawasan mangrove untuk berbagai macam kepentingan.” Ujar Nur dalam sambungan telepon (25/7).
Rasa ingin kembali merasakan ambience hutan mangrove, semangat Nur kembali berkobar.
Pada suatu hari, Ia sengaja mengumpulkan teman-temannya yang terhimpun dalam pencinta alam untuk bersama menanam mangrove. Advokasi kepada pemerintah setempat dan stakeholder lainnya pun Ia lakukan. Ternyata hasilnya masih kurang dominan. Hal tersebut dikarenakan kegiatan yang dilakukan belum fokus terhadap pemeliharaan mangrove agar dapat tumbuh secara baik.
 
Mimpi Jadi Apresiasi
Tak pernah menyangka, tahun 2015 menjadi tahun bersejarah. Mimpi seorang bapak dari 2 orang anak ini menjadi kenyataan.
Bergabung menjadi relawan PMI, Nur Rohadi langsung dipercaya menjadi kordinator lapangan dalam program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) disepanjang pesisir pantai. Dimana dalam program yang diampunya, ia bertugas untuk melakukan penanaman vegetasi pantai (mangrove), rehabilitasi dan restorasi kawasan pesisir.
“Kalau dulu saya hanya tau tentang tanam tanam dan tanam. Dan hasilnya selalu tidak optimal. Setelah bergabung menjadi relawan PMI, saya juga diajarkan mengenai ilmu budidaya penanaman mangrove secara komprehensif,” Tuturnya.
Seiring waktu, program yang diinisiasi oleh PMI, Palang Merah Amerika dan USAID/OFDA ini berkembang kian nyata. Jika sebelumnya hanyalah berfokus pada penanaman mangrove untuk pengurangan risiko bencana, kini mulai menyentuh aspek mata pencaharian warga.
MANG EC, atau Mangroove Education Centre, adalah Sarana edukasi dan wisata bagi masyarakat umum yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai Mangrove. Sarana milik PMI Kabupaten Batang ini, juga dimanfaatkan oleh warga sekitar belajar pembibitan, penanaman hingga penjualan hasil budidaya mangrove, seperti bibit mangrove dan sirup mangrove.
“Berkat adanya Mang EC, Kini kami menjadi satu-satunya penyedia bibit mangrove dan tanaman pantai di kawasan Batang, baik itu dijual kepada pihak pemerintah atau swasta, yang berasal dari Semarang, Kendal, Pekalongan, Kebumen, dan wilayah lainnya.” Ungkapnya penuh semangat.
Atas upaya Nur dan teman-temannya pun kebanjiran pesanan dari BPI dan Toyota Indonesia, untuk melaksanakan hal yang sama di kawasan pantai desa Ujung Negoro, Kedung Segog, Kuripan dan Depok termasuk pengembangan penanaman mangrove di Kasepuhan dan Sidorejo yang melibatkan para petinggi Batang seperti Bupati, DPRD, Dandim, Kajari, Polres, Dinas Pemerintah, perguruan tinggi dan stakholders serta komunitas lain.
Kegigihan Nur dan teman-teman akhirnya membuahkan hasil setelah lima tahun. Mereka sama sekali tidak terpikirkan untuk ‘diganjar’ penghargaan apalagi dipuja-puja. Namun apa yang dilakukannya ternyata membuat Gubernur Jawa Tengah memberikan penghargaan Kalpataru, sebagai perintis lingkungan, penyelamat lingkungan dan pemarkasa lingkungan.
“Ini adalah bukti nyata bahwa kawasan mangrove bisa diperbaiki dengan program yang jelas dan terarah serta berkelanjutan yang dilakukan oleh semua pihak. Berbekal diplomasi kemanusiaan yang telah diajarkan oleh PMI, saya dan PMI Kab. Batang akan berusaha keras untuk bermitra dengan semua komponen untuk melakukan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) untuk kepentingan kemanusiaan dan lingkungan, termasuk penyelamatan kawasan mangrove dimanapun berada.” Tutur Nur diakhir telepon.

Disadur dari Biro Humas PMI Pusat

Sudah dilihat 121 kali

Komentar