Nderes Aren

59313 medium post 65150 35d758db 694d 4402 ac22 94846563e511 2019 04 22t17 15 11.273 07 00 59314 medium post 65150 6ab7feec a77a 4bb0 b7fe 75d19803b9c9 2019 04 22t17 15 12.163 07 00
Matahari belum sepenuhnya terbit saat Tugiman Marto Wiryo, 65 tahun keluar dari rumah tinggalnya di dusun Gowok Desa Kebonharjo. Dengan membawa jeriken dan deres bedhok (semacam golok khusus) Tugiman berangkat menuju ladang miliknya untuk mengambil nira aren atau disebut dengan aktivitas menderes.
Tugiman Marto Wiryo warga dusun Gowok ini sudah menekuni pekerjaan nderes sejak berusia 23 tahun. Ia adalah salah satu dari sekian banyak warga yang masih menekuni pekerjaan turun-temurun masyarakat pedusunan.
Nderes merupakan aktivitas mengambil nira aren untuk diproduksi menjadi gula. Meskipun tidak sebagai pekerjaan utama, hasil nderes bisa menjadi tambahan penopang hidup sehari-hari.
Sayang, pekerjaan ini mungkin akan punah beberapa puluh tahun mendatang karena saat ini generasi muda atau kaum millenial (bahasa keren) jarang ada yang menekuni pekerjaan ini. Ditambah lagi lamanya pertumbuhan pohon aren yang tidak ada penanaman kembali tetapi hanya tumbuh secara liar.
Nderes, sebuah proses panjang
Bagi Tugiman Marto Wiryo, pekerjaan mengambil nira aren bukan pekerjaan yang sulit. Tetapi untuk mendapatkan air nira memerlukan proses panjang, kesabaran, ketelitian, dan ketekunan menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
“Nderes itu tidak ada ilmunya, saya sendiri hanya mengamati dan mengikuti orangtua saya sendiri kala itu. Ya hanya melihat, setelah itu praktik begitu saja,” tuturnya.
Air nira diambil dari dangu, tangkai bunga pohon aren (orang desa banyak yang menyebut dangu sebagai bunga jantan pohon aren). Ada 3 jenis dangu aren menurutnya. Tiga jenis ini juga menentukan banyak sedikit, mudah, dan susahnya mendapatkan hasil air nira.
Untuk memulai nderes, pertama kali yang harus dilakukan adalah ngugoi, yaitu membersihkan tangkai bunga yang akan dideres. Setelah tangkai dibersihkan, tangkai dipukul secara merata. Tak cukup sekali, pemukulan tangkai bunga ini dilakukan beberapa kali selama kurang lebih 1 – 2 bulan. Pemilihan waktu pemukulan pun tak bisa sembarangan, mereka hanya menggunakan dua hari pasaran, Legi dan Wage.
Tahap selanjutnya memangkas. Untuk memangkas, selain proses pemukulan sudah dirasa cukup juga dilihat dari kematangan dangu. “Kalau sudah matang, biasanya bunga pada dangu sudah dikerubungi lebah.”
Setelah dipangkas, proses selanjutnya adalah membungkus tangkai dengan daun jajar. Atau boleh pakai kain mori yang bersih. Proses ini berjalan sekitar 3 – 5 hari, setelah ada tetesan nira pada daun baru dikasih jeriken atau lodong/ bumbung. Ketika sudah lima hari tidak keluar nira maka proses menderes gagal dan tidak dilanjutkan.
Pada zaman dulu, sebagai wadah nira masyarakat penderesmendigunakan bambu yang sering disebut sebagai lodong/bumbung. Tak sembarangan, bambu yang yang digunakan adalah bambu khusus, yaitu bambu belo/petung dengan alasan berukuran besar. Tetapi dalam perkembanganya, masayarakat kini telah menggunakan jeriken karena dinilai lebih praktis dan ekonomis.
Mengambil nira dilakukan pada pagi dan sore hari. Pagi hari mereka mangambil nira yang sudah ditampung di jeriken atau lodong selama satu malam, setelah mengambil lodong atau jeriken berisi nira, rangkai dipangkas lagi dan ditaruh jeriken baru untuk menampung seharian dan diambil pada sore hari.
Masih menurut Tugiman bahwa ada Pantangan, ajaran disiplin masyarakat Jawa yang berlaku ketika menderes nira aren.
Untuk mendapatkan nira yang banyak dengan kualitas yang baik, masyarakat penderes khususnya di Dusun Gowok meyakini beberapa pantangan, hal yang harus dihindari.
Beberapa contohnya, ketika mengambil nira dari pohon aren tidak boleh langsung diminum. Ketika ini dilakukan, bisa membuat air nira tidak mau keluar lagi dari pohon aren. “Nek ajaran mbah-mbah zaman mbiyen, ora oleh langsung diombe, ndak mampet.”
Pada saat merebus air nira juga ada beberapa kayu yang tidak boleh digunakan. “Kayu pete, kayu jengkol itu tidak boleh, karena kadang bisa membuat mampet dan tidak mau keluar niranya”.
Pantangan-pantangan ini dihindari begitu saja oleh masyarakat penderes hingga kini meski tidak mengetahui alasan pastinya.
“Adalagi yang mengatakan kalau ketika memangkas potongan dangu menghadap ke atas pertanda tidak keluar, sedangkan ketika potonganya menghadap ke bawah bisa keluar,” imbuh Tugiman.
Pekerjaan menderes dengan segala disiplin dan pantangannya hingga kini masih menjadi salah satu pengertian berharga. Dan menjadi penghasilan tetap bagi Tugiman Marto Wiryo. Meskipun begitu, ada perbedaan hasil nira pada zaman dulu dan sekarang.
Kalau pada zaman dulu, para leluhurnya Tugiman satu dangu dapat bertahan hingga 7 bulan. Sedangkan saat ini, sebaik-baiknya dangu hanya bisa berjalan tak lebih dari 3 bulan. Kedisiplinan dan faktor perubahan iklim menurut Tugiman yang menjadi salah satu penyebabnya. #gowokdesakebonharjo
Sudah dilihat 127 kali

Komentar