Nanggap Jatilan Menjadi Angin Segar Dalam Upaya Pelestarian Kesenian Tradisional

66226 medium post 70843 2d043e18 fb1c 4556 8d80 51997d464af2 2019 07 10t14 14 02.723 07 00 66227 medium post 70843 60f46abc 30c0 4644 9edf 68ad7d8f9fb2 2019 07 10t14 14 03.670 07 00 66228 medium post 70843 76c9b359 edd4 4c41 88c3 ff0c7e3c6bba 2019 07 10t14 14 04.310 07 00 66229 medium post 70843 4052f9ea 48c0 4eba 9c09 c62f83d5fd0d 2019 07 10t14 14 05.096 07 00 66230 medium post 70843 73ccf7ce 837f 4ac0 a5bd 19f2f3ca7e40 2019 07 10t14 14 05.780 07 00
(Pandak) Gempuran budaya asing yang begitu kuat, hiburan - hiburan di televisi maupun media lain yang banyak memikat , harus kita akui menjadi tantangan bagi kita semua untuk dapat terus melestarikan kebudayaan tradisional yang akhir-akhir ini sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian kalangan. Terutama para kaum milenium yang merupakan para penikmat internet dan warga dunia maya.
Besarnya tantangan tersebut membuat kita sungguh harus menghargai semua bentuk upaya pelestarian budaya tradisional Indonesia yang adiluhung.
Adalah bapak Yudi Parwanto Ngatijan , warga RT 06 dusun Krekah Nogosari , kelurahan Gilangharjo, kecamatan Pandak, Bantul , yang bulan lalu tepatnya tanggal 16 Juni 2019 merayakan ulang tahun cucu tercintanya dengan menghadirkan hiburan rakyat yaitu budaya tradisional Jatilan.
Sebagai salah satu kesenian khas Yogyakarta dan Jawa Tengah jathilan adalah sebuah tarian drama yang menceritakan tentang pertempuran dua kelompok prajurit berkuda dan bersenjatakan pedang. Tarian ini biasanya mengangkat cerita-cerita babad tanah Jawa seperti, cerita Ario Penangsang dan cerita lain era kerajaan Majapahit. Dalam penampilanya sang penari menggunakan sebuah kuda tiruan yang  biasanya terbuat dari anyaman bambu dan disebut Kuda Kepang ( jaran kepang ). Walau hampir sama ilustrasi musik yang digunakan ( gamelan dan bende) yang membedakan jatilan dengan reog adalah kisah yang ditarikan. Dalam reog penari mengisahkan tokoh pewayangan seperti para ksatria , Buto Cakil , Hanoman dan lain-lainnya.
Dituturkan bapak Yudi Santoso selaku Dukuh pedusunan Krekah Nogosari , dan juga menjadi panitia dalam acara tersebut , bapak Yudi Parwanto Ngatijan memperingati ulang tahun cucu beliau yang bernama Daffa yang ke 8 ( delapan ) tahun dengan "nanggap" kelompok jatilan dari daerah Imogiri.
"Semua warga ikut terlibat dalam hajatan ini , termasuk karang taruna, dihadiri pula oleh bapak Rudi selaku Bhabinkamtibmas, dan bapak Basudi sebagai Bhabinsa Pandak." kata pak dukuh baru ini.
Jatilan hingga kini masih menjadi salah satu alternatif hiburan warga yang tak kalah peminatnya dengan pertunjukan-pertunjukan lain . Maka tak heran kelompok Jatilan "Goger Macan Gembong" yang ditanggap di kediaman keluarga bapak Yudi Paryanto Ngatijan sampai dihadiri 700 pengunjung dari dalam dusun dan dusun - dusun sekitarnya. Dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua sangat menikmati pertunjukan jatilan ini , mereka berbondong-bondong datang untuk melihat .
"Saya datang dari jam 8.00 pagi supaya mendapat tempat di depan, walau acara masih nanti jam 13.00 ." Ujar Joa salah satu pengunjung .
Tentu saja ini menjadi angin segar untuk kehidupan tradisi Jawa adiluhung, khususnya tradisi jatilan .
Dengan menyewa kelompok jatilan dalam hajatan dan acara - acara keluarga atau lainnya , tentu akan banyak pihak yang diuntungkan .
Untuk kelompok jatilannya sendiri selain mendapatkan uang untuk kelanjutan kegiatan, para pelaku seni di dalamnya yang didominasi kaum muda ini , tentu akan semakin bersemangat dalam berkesenian.
Warga sekitar juga mendapatkan hiburan gratis yang bisa ditonton oleh segala usia. Juga para pedagang kecil bisa ikut mendapatkan rejeki dari para pengunjung.
Pihak dusun yang mengadakan, juga mendapat kontribusi parkir .
Dusun Krekah Nogosari sendiri sebetulnya memiliki beberapa grup kebudayaan dan kesenian. Ada grup reog , kerawitan, sanggar tari , jatilan dan kelompok kesenian topeng Ireng. Disampaikan oleh ibu Santi putri dari bapak Yudi Parwanto Ngatijan untuk menyelenggarakan kesenian jatilan ini keluarga mengeluarkan dana empat juta lima ratus ribu untuk kelompok Goger Macan Gembong. Itu sudah termasuk penyediaan pengeras suara dan genset.
Angka yang sangat sepadan dan cukup terjangkau untuk mendapatkan begitu banyak kebaikan , terutama sebagai upaya melestarikan budaya adiluhung milik Indonesia yang sudah ada secara turun temurun sejak nenek moyang dan leluhur kita. (Rins) #AtmagoEPiQUE
Sudah dilihat 360 kali

Komentar