MONUMEN KEPAHLAWANAN YANG TERLUPAKAN

38488 medium post 46244 0a0cb414 5487 4d37 8dcc b522efec2e6d 2018 11 10t20 20 26.888 07 00 38492 medium post 46244 53a01a29 210f 4826 b0f4 7882029c2c76 2018 11 10t20 29 50.142 07 00 38493 medium post 46244 9d93ac56 45a5 4ecd ad36 be7fc4012d7d 2018 11 10t20 31 50.579 07 00 38494 medium post 46244 1b0b01ac fde1 4865 a332 370c18d25096 2018 11 10t20 33 38.071 07 00 38585 medium post 46244 3c37bcf1 433d 40f0 873f 10264de5412c 2018 11 11t12 37 54.744 07 00
Dalam rangka menyambut Hari Pahlawan 10 Nopember 2018, ASN Kecamatan Samigaluh bersama sama dengan Anggota Polsek, Koramil dan Perangkat Desa Gerbosari serta masyarakat sekitar melakukan kerjabakti membersihkan monumen bom yang terletak di depan Kantor Kecamatan pada hari Jumat, 9 November 2018.
Monumen bom itu sendiri memiliki nilai sejarah perjuangan dalam menegakan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
Sekitar bulan Maret 1949 di Samigaluh ini sering kedatangan para pejuang yang membangun kekuatan diperbukitan Menoreh, baik berasal dari Tentara Pelajar, Brigade 10, Kepolisian dan lainnya.
Dalam perkembangannya dibentuklah Detasemen Polisi Pamong Praja (DP3) dalam suatu rapat yang dipimpin oleh Penewu Samigaluh Projonarmodo serta Inspektur Subekti.
DP3 memiliki sekitar 200 anggota yang masih perlu pembekalan tentang pertahanan atau strategi perang, maka mereka diberikan pendidikan dan pelatihan (diklat)
Dengan menggunakan rumah R Ngb.Somohamijoyo yang juga anggota DP3, Diklat dilaksanakan direncanakan selama tiga hari. Tanggal 7, 8 dan 9 Maret 1949
Senin Wage 7 Maret 1949 latihan perang bagi DP3 dimulai hingga siang hari. Ditunggui para pejabat Samigaluh serta beberpa tokoh pejuang yang ada di Samigaluh.
Hingga jam istirahat pukul 13.00 pelatihan berjalan lancar, namun sekitar pukul 15.00 diudara Samigaluh tedengar deru  dua pesawat terbang melintas rendah dilangit.  Dan selang sekitar beberapa menit kemudian datang lagi beberapa pesawat terbang dari beberapa penjuru arah. pesawat kloter kedua inilah yang menjatuhkan bom kerumh R Ngb,Somohamijoyo yang digunakan untuk pelatihan Anggota DP3. sehingga anggota DP3 yang mengikuti pelatihan menjadi kalang kabut. Karena tidak memiliki alat senjata untuk melawan, maka yang dilakukan adalah menyelamatkan diri. Hujan bom serta tembakan senapan otomatis membuat suasana menjadi sangat tegang. Anggota DP3 mencoba belindung dibalik pepohonn serta bebatuan yang ada.
Serangan udara tersebut berlansung sekitar 30 hingga 45 menit. Beruntung sore itu hujan air turun dari langit sehingga pesawat yang menyerang juga berhenti menyerang dan pergi.
Setelah hujan reda, anggota yang bersembunyi kembali ke markas yang sudah porak poranda di gempur bom Belanda. Dari dalam reuntuhan rumah tersebut diketemukan tujuh orang  yang sudah meninggal dunia, akibat keganasan Belanda, yakni Wiryo Pranoto Lurah Gerbosari dan 7 (tujuh) anggota DP3 : Pawiro Yono, Kromo Witono, Sanip Sutodarmo, Jemu Harjoutomo, Wiryo Pranoto, Sapardi, dan Bejo.
Disamping itu dalam serangan tersebut juga diketemukan kurban yang meningal dunia  seorang perempuan bernama Sri, serta seorang laki laki yang belum diketahui identitasnya.
Untuk melestarikan nilai jiwa kepahlawanan tersebut pada tahun 1957 dibangunlah monumen yang berbentuk bom menghujam bumi di depan Kantor Kecamatan Samigaluh dan di Puskesmas Samigaluh I. Namun sayang kondisi bangunan tidak terawat, sampai saat ini sulit utk melacak kepemilikan aset terhadap monumen tersebut, sehingga tidak diketahui intitusi yg berhak dan wajib merawat bangunan bersejarah tersebut. Sebagai bentuk kepedulian maka secara bergotong royong dilakukan perawatan dengan membersihkan lingkungan sekitar dan bangunan dari lumut dan kotoran lainnya, dan selanjutnya dilakukan pengecatan. Sambil berharap ada kejelasan insitusi yang berwenang melakukan pemeliharaan monumen bersejarah tersebut
Sudah dilihat 61 kali

Komentar