MITOS PULUNG GANTUNG GUNUNGKIDUL

27 January 2020, 19:50 WIB
0 0 134
Gambar untuk MITOS PULUNG GANTUNG GUNUNGKIDUL
Tidak bisa diabaikan bahwa mitos pulung gantung di Gunungkidul menjadi salah satu fenomena mengerikan di dunia. Dimana seseorang sebelum melakukan gantung diri akan mendapatkan pulung gantung (bola api pijar yang melayang-layang dan jatuh di pekarangan rumah). Lantas bagaimana awal mula sampai ada suatu kepercayaan yang menjadikan mitos pulung gantung dianggap sebagai sebuah tanda akan ada seseorang yang melakukan tindakan gantung diri?

Singkat saja dalam hal ini saya akan mencoba menggunakan pendekatan sosiologi. Pendekatan mikro yang populer dalam sosiologi adalah teori interaksionisme simbolik (symbolic interactionsm), dimana makna dan simbol menjadi sesuatu yang penting. Simbol diartikan sebagai gerak isyarat, tanda dan bahasa.

Dalam hidup bermasyarakat orang menafsirkan makna suatu simbol melalui pikiran dan perasaanya dari interaksi-situasi yang ditemui untuk kemudian terjadi sebuah kesepakatan bersama. Secara ilmu astronomi mungkin bola api pijar yang jatuh merupakan fenomena alam biasa yang kemudian orang menafsirkan sebagai sebuah tanda bahwa akan ada seseorang yang melakukan tindakan bunuh diri.

Selanjutnya, apabila hal ini benar, kemudian apa motif- interaksi sehingga mampu melahirkan tafsiran yang fenomenal tersebut?
Alfred Schutz dalam karyanya 'The Phenomenology of the Social World' mengatakan bahwa setiap interaksi melibatkan proses pengiriman sinyal kepada orang lain dan hal itu tidak dipertanyakan mengenai asumsi bahwa masing-masing yang berinteraksi mempunyai pandangan yang sama terhadap realitas yang terjadi.

Melalui interaksi itulah kemudian akan menghasilkan sebuah konstruksi. Hingga akhirnya konstruksi tersebut mengakar kuat di masyarakat.

Akan tetapi, dalam bukunya 'Menyingkap Tabir Bunuh Diri...', Darmaningtyas mengungkapkan awalnya mitos ini dijadikan sebuah alat yang bersifat politis, mengapa mitos pulung gantung sampai mencuat dan mengakar di masyarakat, yaitu ada semacam gerakan rekayasa 'menciptakan mitos' yang berusaha untuk menutupi permasalahan kemiskinan-ekonomi dengan mitos pulung gantung, sehingga orang-orang akan menganggap bahwa yang terjadi sebenarnya ujung pangkalnya bukan motif ekonomi, melainkan 'faktor pulung gantung' tersebut. Akhirnya mitos ini semakin kuat dan memberi dampak psikologis masyarat. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari sejarah pelarian orang-orang majapahit masa silam yang tentu prosesnya panjang dan belum bisa dibuktikan secara kongkrit tentang kebenaranya.

Terlepas dari pro-kontra yang terjadi, tidak bisa dipungkiri bahwa fenomena tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul tidak terlepas dari mitos pulung gantung. Siapakah yang mampu menjawab dengan kongkrit atas fenomena ini? Sampai kapan kah tragedi ini akan terus terjadi?

  Komentar untuk MITOS PULUNG GANTUNG GUNUNGKIDUL

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!

Related Posts

Terbaru

Berita Warga
12 jam

Resep Tahu Bakso Tuna

𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Tatah Makmur, Banjar

Terpopuler

  1. SELAMAT KEPADA BUPATI LOMBOK UTARA

    @ichaq_rasyid  di  Praya, Lombok Tengah  |  12 Feb 2020
  2. Atraksi Teaterikal Peserta Karnaval Putri Mandalika 2020

    Zulkarna  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  14 Feb 2020
  3. KABID ILMATE PERINDUSTRIAN PROVINSI NTB KUNJUNGI PENGRAJIN ALAT PERTANIAN DI DUSUN BEREMBENG

    Lalu Iskandar  di  Jonggat, Lombok Tengah  |  15 Feb 2020
  4. Jatuh Cinta Pada Menulis Hingga Menahodai Sebuah Komunitas

    Niya Kaniya  di  Kopang, Lombok Tengah  |  15 Feb 2020

Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar

    Bakesbangpoldagri: Banyak Wilayah di NTB Terpapar Narkoba

    Arianto  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  13 Feb 2020
  2. 4
    Komentar

    Jatuh Cinta Pada Menulis Hingga Menahodai Sebuah Komunitas

    Niya Kaniya  di  Kopang, Lombok Tengah  |  15 Feb 2020
  3. 4
    Komentar

    Kegiatan Aisyiyah Kec. Mergangsan meriah

    Rita Jatmikowati  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  14 Feb 2020
  4. 2
    Komentar

    Antara Nilai dan Nilai Nilai

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  11 Feb 2020