MINIATUR BECAK, ANDONG & SEPEDA

38463 medium post 46227 5070c3fc 250d 4e7b 8240 8274ff4a0185 2018 11 10t13 39 20.614 07 00 38464 medium post 46227 af83f12a 8818 4125 a9ea b0c6c985b023 2018 11 10t13 39 20.980 07 00 38465 medium post 46227 de7835d7 54e1 4b46 bd0b b32c25baea8d 2018 11 10t13 39 21.261 07 00
MINIATUR

Rias Firmanniar, generasi ke-4 perajin kuningan Walidi Craft, Yogyakarta, dengan produk suvenir.

Jika sedang jalan-jalan di Malioboro, Yogyakarta, mungkin Anda akan melihat produk kerajinan kuningan berupa miniatur sepeda ontel, becak, andong, dan gerobak sapi. Atau juga bel sapi, bel andong, lonceng mungil, gong mini, sampai meriam. Di antara produk kerajinan tersebut boleh jadi adalah produk Walidi Craft dari kampung Purwodinatan, Kelurahan Purwokinanti, Kecamatan Pakualaman, Yogyakarta.

Usaha tersebut dikerjakan turun-temurun dan saat ini sudah sampai pada generasi keempat. Secara operasional kini dijalankan oleh Francisca Rias Firmanniar (31) didukung sang ibu, Aprianingsih (53), yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai negeri sipil di sebuah sekolah kejuruan. Nama Walidi Craft diambil dari generasi kedua keluarga perajin kuningan tersebut. Rias mulai melanjutkan usaha setelah ayahnya, Heri Sampurno, meninggal pada 2012.

Pada setiap generasi, ada perubahan pada produksi. Rias menuturkan, kakek neneknya dulu membuat bokor, tancapan lilin, salib, sibori, piala, dan lonceng. Ayah Rias membuat produk baru berupa suvenir, seperti miniatur sepeda. Rias memberi sentuhan baru dengan memberi warna pada suvenir. Sebelumnya warna praktis adalah warna alami logam kuningan. ”Desain sama, tetapi saya kembangkan dengan memberi warna-warna. Ini terobosan supaya tidak bosen,” kata Rias di rumah produksinya yang tak jauh dari Pura Pakualaman, Yogyakarta.

Harga produk variatif bergantung pada desain, bentuk, dan ukuran. Miniatur sepeda dan becak, misalnya, dijual dengan harga Rp 80.00 sampai Rp 100.00. Tancapan lilin mulai dari harga Rp 15. 000 Sampai Rp 1.500.000. Kemudian, lonceng berupa suvenir berukuran mungil seharga Rp 10.000-an, lonceng pintu dengan harga Rp 50.000-an, dan lonceng gereja yang dipatok harga berdasarkan ukuran berat, yaitu Rp 260.000 per kilogram. Untuk lonceng gereja, Walidi Craft membuat berdasarkan pesanan. Ukuran beragam, mulai dari berat 20 kg dengan diamater 18 inci, sampai ukuran 50 kilogram berdiameter 40 inci.

Wilayah pemasaran sebagian besar di Yogyakarta, kemudian di Jawa Tengah, Jakarta, dan Bali. Produk Walidi dijajakan di tempat-tempat wisata, seperti Borobudur dan Prambanan. Dulu juga di sekitar Keraton Yogyakarta. Akan tetapi, kini sudah tidak diperkenankan, menyusul terbitnya peraturan yang melarang pedagang cendera mata menjajakan dagangan di kawasan tertentu di sekitar Keraton sejak awal tahun lalu. Pelarangan itu berimbas pada penurunan pemasukan perajin kuningan itu sampai 30 persen.

Kini, selain tempat wisata seperti candi-candi, kerajinan Walidi Craft banyak dijumpai di sepanjang jalan Malioboro sebanyak 10-15 lapak. Produk juga dijajakan 20-25 pengasong, tergantung hari ramai wisatawan. Para pengasong biasanya membeli kerajinan langsung ke Walidi Craft. Pemasaran secara langsung dipilih Rias karena perputaran uang akan lebih cepat daripada dijual dengan cara titip jual di toko-toko. ”Kami tidak masuk toko, tidak titip jual di toko, karena lama perputaran uangnya,” kata Rias.

Di luar penjualan langsung, Rias juga menerima pesanan, termasuk pesanan untuk suvenir atau kenang-kenangan dalam acara seperti perkawinan dan perayaan-perayaan pribadi.
Sudah dilihat 51 kali

Komentar