Merti Desa Dimana Harapan dan Syukur Menjadi Milik Bersama

34899 medium post 43528 3fcb08f0 a1ac 4748 9e4f 076c4d1f468f 2018 10 07t07 02 00.187 07 00 34900 medium post 43528 9395d3e4 666a 4ade 89d3 f74de98654b4 2018 10 07t07 02 01.476 07 00 34901 medium post 43528 791b7ef3 b814 4b76 b8be 250124b2f563 2018 10 07t07 02 02.336 07 00 34902 medium post 43528 77dbf66e 4d65 45b1 8b55 6da3a53d3522 2018 10 07t07 02 03.078 07 00
Dalam rangka melestarikan budaya masyarakat desa, Pemerintah Desa Kebonharjo bersama warga telah mengadakan Kegiatan Pelestarian Budaya Merti desa pada hari Rabu, 11 April 2018 bertepatan dengan tanggal 25 Rajab tahun 1439 Hijriyah. Lokasi kegiatan ini dilakukan di dua tempat wilayah Desa Kebonharjo yaitu Kawasan Spiritual Dung Sono dan Balai Desa Kebonharjo Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulon Progo. Merti desa adalah acara budaya tahunan yang diadakan lebih dari 200 tahun yang lalu sebagai ritual untuk selalu mengingat budaya leluhur sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian budaya.
Kegiatan Merti Desa merupakan sarana komunikasi antara warga desa dengan Tuhan, leluhur, alam, dan manusia yang dikemas dalam bentuk simbol-simbol ritual. Kegiatan ini diawali ziarah/nyadran pada sore hari sebelumnya ke makam pepunden atau pendahulu desa bertujuan untuk mengingat kembali perjuangan, rencana, dan harapan leluhur dalam proses pembentukan Desa Kebonharjo. Selanjutnya diadakan tirakatan dan sholawat pangerang-erang pada waktu malam untuk mengungkapkan syukur dan doa keselamatan. Komunikasi dengan alam dilakukan dengan cara berkumpul dan berdoa bersama di kawasan spiritual Dung Sono yang berupa kedung/cekungan air sungai dan pohon Sono berada di tepinya, kawasan ini memberikan pesan kepada manusia untuk menjaga harmoni alam. Pohon sono yang berbunga dipercaya masyarakat sekitar sebagai perhitungan musim tanam. Hubungan antar manusia ditunjukkan dengan pembuatan tumpeng bersama, arak-arakan tumpeng pada kirab.
Rangkaian acara kegiatan hari Rabu, 11 April 2018 dari jam 09.00 – 16.00 WIB meliputi kirab budaya dari Balai Desa Kebonharjo ke tempat ritual Dung Sono, acara ritual di Dung Sono, dan tledek (tayub) di Balai Desa Kebonharjo. Kirab budaya menampilkan 11 tumpeng dari 10 pedukuhan dan 1 tumpeng desa dikemas dalam masing-masing jodang yang dirias dan diberi simbol “wulu wetu” hasil pertanian dari wilayah desa yang mencerminkan kemakmuran desa. Peserta kirab diharuskan menggunakan pakaian jawa lengkap. Pertunjukan seni tledek (tayub) dapat berfungsi sebagai ruang kebijakan di mana persoalan pada warga masyarakat diungkapkan tanpa malu dan takut dalam bentuk acara sawanggati yang mampu menjadi landasan dalam pengambilan kebijakan pemerintah desa.
Acara ini dihadiri Wakil Bupati Kulon Progo, Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo, Muspika Kecamatan Samigaluh, akademisi, pegiat wisata, NGO, Kepala Desa se-Kecamatan Samigaluh, Kepala Desa di sekitar Desa Kebonharjo, dan wisatawan asing dari Belanda, Inggris, Meksiko, dan Papua Nugini . Seluruh lembaga desa (BUMDES, PAUD, TK, Karang Taruna, PKK, FPRB, LINMAS, Rois/Prodiakon), Badan Permusyawaratan Desa, dan satuan pendidikan yang terdiri dari 2 SD, 1 SMP, dan 1 SMK turut serta mengikuti rangkaian kegiatan ini.
Wakil bupati Kulon Progo dalam sambutannya berpesan pada warga bahwa dalam kegiatan merti desa selain membersihkan desanya berupa jalan, lingkungan sekitar, akan tetapi juga harus membersihkan hatinya.
Kepala Desa Kebonharjo, Rohmad Ahmadi, S.IP mengungkapkan bahwa capaian pemerintahan dan pembangunan desa yang cukup signifikan selama dua tahun terakhir seperti pembangunan infrastruktur jalan desa, bedah menoreh, pembangunan rumah tidak layak huni sejumlah 80 unit, penyelesaian program jambanisasi, kerja sama dengan pemerintah di atasnya yang semakin intensif, dan kerja sama dengan pihak luar negeri, tidak terlepas dari perencanaan dan harapan para leluhur serta berkah dari sang Tuhan. Capaian tersebut dijadikan tema merti desa tahun ini. #desakebonharjo
Sudah dilihat 89 kali

Komentar