Menteladani Pola Pertanian Masyarakat Baduy

Gambar untuk Menteladani Pola Pertanian Masyarakat Baduy
Menteladani Pola Pertanian Masyarakat Baduy

Tidak perlu jauh-jauh keluar negeri kita belajar mengolah Sumber Daya Alam (SDM) yang kaya ini. Sebagai masyarakat Agraris dan Maritim, sudah selayaknya belajar pada masyarakat 'Baduy' mengolah tanah yang subur ini.

Masyarakat baduy yang terkadang kita pandang terbelakang, kolot, dan keterisolasian karena masih memegang teguh kearifan lokal, justru mereka jauh lebih modern dari kita.

Mengagumkan, mungkin itu kata yang cocok untuk menggambarkan betapa dahsyatnya mereka mengolah dan menjaga keseimbangan alam.

Dalam bidang pertanian mereka tidak mengenal sarana dan pra sarana pertanian yang modern serta hanya mengenal sistem perladangan, dimana sistem perladangan adalah sistem pertanian yang paling purba, namun mereka memiliki kearifan lokal yang sangat luar biasa.

Masyarakat Baduy mempunyai pengetahuan yang handal tentang ilmu perbintangan. Ilmu perbintangan ini sangat penting artinya dalam dunia pertanian Baduy.

Dengan melihat posisi bintang tertentu (bintang kidang dan bintang waluku), mereka bisa membaca cuaca atau musim beserta dengan perubahan-perubahannya sehingga kerugian bertani akibat perubahan cuaca dapat dihindari.

Pada saat memulai penanaman padi di ladang, mereka tidak lupa menancapkan batang atau cabang daun pelah yang mempunyai bau khas. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah serangan hama penyakit dan hewan pengerat tikus.

Batang atau cabang yang ditancapkan tersebut merupakan tempat yang sangat disukai capung, dan capung-capung ini merupakan predator serta penghalau hama-hama tanaman padi. Burung-burung hantu juga sangat senang bertengger di cabang-cabang tersebut.

Burung-burung hantu inilah yang menjadi predator bagi tikus-tikus ladang yang seringkali merusak tanaman padi. Setidaknya dengan keberadaan burung-burung hantu ini keseimbangan alam atau lebih khususnya populasi tikus dapat dikendalikan.

Begitu juga dengan penggunaan penyubur tanaman dan pencegahan tanaman dari serangan hama penyakit. Penyubur dan pestisida terbuat dari campuran berbagai dedaunan yang ditumbuk halus dan dicampur dengan abu dapur.

Semua bahan-bahan ini sangat ramah lingkungan dan bahannya tersedia di lingkungan mereka sendiri. Ini menunjukkan kemandirian mereka dalam bertani sekaligus kearifannya terhadap alam.

Hasilnya, tidak ada masyarakat Baduy yang kelaparan, berasnya tersimpan penuh di leuit-leuit (Lumbung Padi) sampai dengan puluhan tahun kedepan. Bayangkan, betapa tidak mengagumkannya mereka?

Kita memang tidak akan bisa melakukan apa yang di lakukan masyarakat baduy di lingkungan kita, tetapi kita bisa menteladani mereka dalam memulyakan alam ini.

Sejarah membuktikan, Pertanian di Nusantara telah memberikan bukti kekayaan kepada siapa yang mengelolanya. Sehingga sudah saatnya pemerintah untuk memfokuskan pembangunan ekonominya kepada pertanian. Kembali kepada jatidiri perekonomian bangsa yang sudah terbukti selama ratusan bahkan ribuan tahun mampu memberikan kemakmuran kepada rakyatnya.

Era penjajahan yang diawali oleh VOC, produk utama pertanian, mereka memonopoli itu. alhasil, VOC menjadi perusahaan multinasional pertama dan terkaya di dunia pada saat itu.

Apabila negeri serius untuk mengurusi sektor pertanian, tidak akan pernah ada alih fungsi lahan yang masif, tidak akan krisis petani maupun buruh tani. Karena pemerintah menjamin kehidupan para petani dan buruh tani, seperti petani menjamin kaberlangsungan ketahanan pangan Negeri ini.

Founding fathers kita, Presiden Soekarno dengan tegasnya mengatakan "Pertanian itu hidup mati sebuah bangsa dan karena itu pertanian harus dipertahankan melalui cara apapun. Karena dengan pertanianlah sebuah bangsa akan memperoleh kesejahteraan yang nyata,”

Pic: Istimewa

Sumber :

Aming Soedrajat
@Soedrajat89

  Komentar untuk Menteladani Pola Pertanian Masyarakat Baduy

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!