Menjadi Warga Yang Siap Untuk Selamat Di Daerah Rawan Bencana

67824 medium post 72105 28d54a45 c236 434f 884f 984a5a6346d0 2019 07 25t18 08 39.344 07 00 67825 medium post 72105 7ba70d23 df4c 4160 b788 783cdf398921 2019 07 25t18 08 41.965 07 00
gilangharjo.co (25/07)Setelah muncul press release BMKG tentang gempa 8,8 SR dan stunami setinggi 20 meter di pantai selatan dan sekitarnya , grup WhatsApp forum warga Gilangharjo , diwarnai percakapan dan diskusi tentang tanggap bencana dari warga Gilangharjo. Beruntung dalam forum tersebut , ada salah satu warga yang bertugas di kantor BPBD Bantul dan bisa membantu berlaku sebagai narasumber.

Menanggapi press release tersebut , Zainul Zain selaku BPD desa Gilangharjo mengemukakan bencana adalah ketetapan Tuhan .
" Manusia hendaknya memiliki rasa syukur dan tawakal pada Tuhan. Dengan demikian kejadian apapun di muka bumi ini jika Tuhan sedang berkehendak , tak ada satu manusiapun yang bisa menghalangi. Dan jika belum saatnya terjadi siapapun tidak bisa memaksakan terjadi. Kita hanya bisa berikhtiar dan waspada sebisa mungkin mengurangi resiko yang terjadi." Demikian disampaikan.

Hal tersebut ditanggapi salah satu warga dengan mengusulkan, selain berpasrah pada Tuhan, warga juga membutuhkan simulasi dan pelatihan menghadapi bencana.
Yang langsung mendapatkan jawaban dari Eka Chrisna dari BPBD Bantul , "Monggo bisa kami bantu. Silahkan mengajukan permohonan ke kantor BPBD kab. Bantul. Untuk dibangun desa tangguh bencana. Dan apakah di Gilangharjo sudah terbentuk FPRB (forum pengurangan resiko bencana)? Nanti ada materi , sosialisasi dan simulasi agar desa gilangharjo menjadi desa tanggung bencana. SIAP UNTUK SELAMAT! " Tulisnya.


"Nyuwun Sewu Bu, peringatan dini bencana tu kita bisa liat dimana? Atau dengar dimana? Apakah hanya di daerah pantai saja ?" Demikian pertanyaa Ririn salah satu warga.

" Untuk Tsunami iya, Alat early warning sistem kita pasang sepanjang pantai selatan bekerja sama dengan Jepang.
Setiap sebulan sekali tanggal 26 jam 10.00 wib,kita uji coba alat tersebu untuk mengecek fungsinya.
Kalau alat pendeteksi longsor kita pasang di daerah imogiri." Tanggapan Eka Chrisna .


" Sebenarnya kajian tentang bencana di Indonesia setelah stunami Aceh itu sudah banyak, cuma pihak pemerintah hal tersebut dianggap meresahkan, padahal seharusnya ditanggapi dengan kesiapsiagaan baik pemerintah maupun masyarakat. Dulu setelah gempa Jogja saya sempat membaca selebaran tentang kajian mana saja yg akan terjadi gempa berikutnya, ternyata juga tepat.
Dulu juga seperti itu dianggap meresahkan." Tulis Azka Sudaryono salah satu warga.

Mengenai press release sendiri Eka Chrisna memberikan penjelasan yang dikemukakan BMKG tersebut adalah
potensi . Potensi berbeda dengan prediksi. Potensi itu bisa terjadi bisa tidak.
Dan untuk kapan waktu terjadinya jelas tidak bisa di tebak.

"Bisa download aplikasi Paseban di play store juga. Di situ ada laporan - laporan bencana, peta rawan bencana, dan jumlah bencana yang ada di wilayah Bantul dan akan lebih baik ditambah aplikasi BMKG." Begitu beliau menambahkan.

Menumbuhkan sikap sadar bencana dari warga dapat dilakukan dengan sosialisasi atau pelatihan mitigasi bencana.
Dana desa sendiri bisa di gunakan untuk kegiatan seperti ini.
Akan lebih mudah dilaksanakan jika di desa Gilangharjo ada Forum Pengurangan Resiko Bencana . Supaya ada alokasi dana untuk kebencanaan, pelatihan dan penguatan kapasitas masyarakat.

Sudah banyak desa di Bantul memiliki FPRB . Tidak ada kata terlambat untuk Gilangharjo segera membentuknya. Supaya warga menjadi siap , tanggap dan tangguh saat musibah dan bencana datang.

Mari tingkatkan kepedulian , bila terjadi bencana alam seperti banjir, longsor , pohon timbang , kebakaran dan lain - lain warga bisa menghubungi 0274 6462100 atau 0274 368222. BPBD Bantul siap melayani 24 jam setiap harinya dan 7 hari dalam seminggu. (Rins)




Sudah dilihat 64 kali

Komentar