Menjadi Produsen Tempe Tradisional dari Rasa Tanggungjawab sebagai Seorang Ibu

34440 medium post 43074 1aba7ba2 220a 42e9 9408 088e770d6fe3 2018 10 03t14 06 28.318 07 00 34441 medium post 43074 c0e460fa 3d0c 4a37 a66f eb6407c9c637 2018 10 03t14 06 30.489 07 00 34443 medium post 43074 1813cf22 3c4e 44cb 96b9 9a564df85567 2018 10 03t14 06 36.054 07 00 34442 medium post 43074 17b659b8 f581 4620 be7b 7c6c1665b1b1 2018 10 03t14 06 33.544 07 00
Setiap selapanan yang jatuh pada Sabtu Kliwon dari pagi pukul 07.00 WIB digelar Pasar Tiban Sambang Sedulur Desa lan Kutha yang mencoba mengangkat produk produk rumah tangga dan pertanian lokal dari desa Kebonharjo Samigaluh Kulon Progo. Hari ini saya akan mencoba mengajak anda untuk.turut merasakan apa yang saya rasakan ketika melihat proses pembuatan tempe. Menurut wikipedia tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer, atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe". 
Kesabaran saya teruji saat menunggu dan melihat proses produksi tempe yang dilakukan seorang ibu pelaku produksi rumahan di Dusun Jarakan, Desa Kebonharjo,kec. Samigaluh Kulon Progo, produksi yang menjadi kegiatan rutin harian
berbeda dengan kegiatan produksi pabrik yang biasa aku lihat, semua terburu buru mengejar target tapi ibu ini melakukan dengan pelan dan penuh penghayatan dan masih percaya bahwa produksinya akan gagal saat tidak melakukan dengan sungguh sungguh dan menjaga kebersihan tangannya bahkan tangan tidak boleh menggunakan handbody atau bahan kosmetik apapun karna kandungan material.dan kimia di dalamnya akan menggagalkan jadinya tempe. Membuat tempe awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga karna tempe diyakini mengandung protein tinggi yang dibutuhkan tubuh dan relatif murah dan terjangkau tapi rasanya gurih dan disukai anak anaknya dan juga tangguingjawab seorang ibu untuk menciptakan anak anak yang cerdas ungkap istri dari Pak Amir, lalu karna membuatnya agak banyak kadang dibagi ke tetangga, lama lama tetangga banyak yang kecanduan dan menanyakan bahkan banyak yang pesan untuk dibuatkan yang akhirnya kegiatan kegiatan itu menghasilkan dampak meningkatnya ekonomi.
Tempe yang dibuat secara alami, pelan dan penuh kesabaran ini pasti rasanya lebih nikmat. Jika penasaran dengan rasa tempe tradisional bisa mengunjungi Pasar Tiban dan membeli di sana, jika anda beruntung juga akan mendapatkan umbi umbian yang sudah langka seperti gembili, suweg dan teman temannya. #Produk lokal Pasar Tiban
Sudah dilihat 48 kali

Komentar