MENGULIK SEJARAH PENINGGALAN BELANDA DI NGAWI; Benteng "Pendem" Van Den Bosch

10 November 2019, 18:46 WIB
1 0 145
Gambar untuk MENGULIK SEJARAH PENINGGALAN BELANDA DI NGAWI; Benteng "Pendem" Van Den Bosch
#PART_2 (Eksotisme Bangunan Benteng Yang Penuh Misteri)

Oleh: Qimayatul Milla

Yuhuu.. Author kembali..๐Ÿ˜‰
Tepat di #HariPahlawan, selamat Hari Pahlawan ya, Readers..
JAS MERAH~Jangan Sekaliยฒ Melupakan Sejarah

Masih dalam cerita yang sama tentang sejarah Benteng Van Den Bosch. Namun, kali ini adalah lanjutan #Part_2 dari #Part_1 (Takeshi Castle-nya Ngawi) yang tempo hari.
**********
Meskipun kami tidak ditemani "Guide", tapi kami berhasil mengulik kisah sejarah Benteng ini dari para warga sekitar yang menjadi penjual makanan di Benteng tersebut. Tak cukup puas atas penuturan mereka saja, Author pun mencoba searching dan mengutip dari ngawitourism.com yang menjabarkan detil tentang sejarah Benteng ini.

Seketika jiwa nasionalisme Author membuncah, di tempat-tempat bersejarah seperti inilah kita bisa turut merasakan keprihatinan yang mendalam terhadap perjuangan para pahlawan-pahlawan kita terdahulu, dan ini akan menjadikan kita lebih cinta akan Indonesia.
**********
*BANGUNAN UTAMA*
Dulu Benteng ini dihuni tentara Belanda sebanyak 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api, dan 60 orang 'kavaleri' (pasukan berkuda) yang dipimpin langsung oleh Jend. Johannes Van Den Bosch. Benteng ini terdiri dari berbagai bangunan yang dibatasi tembok, seperti Colloseum Roma. Yaitu pintu gerbang, asrama, perkantoran, rumah sang pemimpin Van Den Vosch, gudang amunisi, hingga penjara.

Terdiri dari dua lantai, dimana lantai teratas digunakan sebagai asrama dan juga barak bagi serdadu Belanda yang memiliki pangkat lebih rendah, mengelilingi bangunan utama dengan fungsi untuk melindungi para perwira tinggi. Tentu hal tersebut digunakan untuk melawan para pejuang kemerdekaan.

*MAKAM KH. MUHAMMAD NURSALIM*
Di samping belakang rumah Jend. Van Den Bosch, terdapat nisan putih yang ditumbuhi sebatang pohon Kamboja, ialah makam dari KH. Muhammad Nursalim. Merupakan seorang utusan Pangeran Diponegoro yang sangat setia, beliau ditugaskan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda yang pada saat itu menguasai Ngawi.

Nursalim lalu mengajarkan ajaran Islam dan menyulut semangat perlawanan di daerah-daerah sekitar Ngawi. Ia lalu ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Benteng ini, dibunuh dengan cara dikubur hidup-hidup, dikarenakan beliau memiliki kesaktian yang tidak mempan ditembak dengan senjata api maupun senjata tajam.

Pada tanggal 17 Agustus 1992, pemerintah Indonesia melalui Komandan Batalyon Armed 12 melakukan pemugaran terhadap makam KH. Muhammad Nursalim, yang disebut sebagai Pahlawan Bangsa untuk menjadi salah satu kisah sejarah perjuangan Indonesia menghadapi penjajahan Belanda pada masa itu.

*PENJARA*
Sementara di pojok-pojok bangunan bagian belakang, banyak ruang sempit yang dulu pernah difungsikan sebagai penjara, untuk menahan para pejuang Indonesia yang melawan pemerintah Belanda pada saat itu. Juga difungsikan untuk menahan para pekerja 'rodhi' yang ikut membangun Benteng tersebut dan berusaha melarikan diri namun gagal.

Biasanya para tawanan yang ada di dalam ruangan ini tidak bisa terselamatkan. Pasalnya minim udara dan pasokan makanan, serta penjara ini hanya untuk persinggahan singkat atau sementara sebelum dieksekusi. Jadi, tidak heran jika sekarang ini dipercaya masih ada penghuninya yang berada di dalam ruang tersebut.

Hiii.. ngeri banget kan, Readers? Ngebayangin gimana para pejuang-pejuang kita terdahulu tersiksa dalam penjara ini. Author yang mencoba "berpose" di depan pintu penjaranya yang udah jelas tergembok dengan rantai aja masih merinding. Gimana tidak? Masih terlihat jelas lorong di dalamnya yang sangat gelap gulita terpancar melalui celah pintu yang agak terbuka karena tidak bisa tertutup rapat. Pengorbanan mereka untuk bangsa Indonesia ini patut diteladani, cinta tanah air.

*SUMUR TUA*
Dibagian selatan Benteng atau didekat kantor umum, terdapat dua gundukan bekas sumur tua yang sudah tertutup tanah, memiliki kedalaman ยฑ 100-200 m. Konon, sumur tersebut pernah digunakan untuk kuburan massal jenazah tahanan dan pekerja 'rodhi', bahkan ada yang mengatakan bahwa sumur itu juga digunakan sebagai kuburan massal pada masa G30S/PKI. Sehingga terkesan menjadi salah satu area angker yang penuh misteri di Benteng tersebut.

Nah, di gundukan inilah Author sempat melepas penat karena letih berjalan mengitari isi Benteng tersebut dengan duduk di atasnya. Karena belum tahu kalau itu adalah bekas sumur tua, hhmm..

*KISAH HOROR DAN MITOS*
Di Benteng ini pula, konon terdapat cerita misteri mengenai penampakan yang kerap muncul, khususnya di area sumur tua dan penjara. Pernah juga diliput oleh acara TV, seperti "Dunia Lain" dan "Mister Tukul Jalan-jalan".

(BERSAMBUNG...โฉโฉโฉ)

Kandang Semangkon, 10 November 2019
(Selamat Hari Pahlawan) ๐Ÿ’

  Komentar untuk MENGULIK SEJARAH PENINGGALAN BELANDA DI NGAWI; Benteng "Pendem" Van Den Bosch

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!

Related Posts

Terbaru

Berita Warga
21 menit

Banjir Di Wilayah RT. 008/01 Kelurahan Kebon Pala

๐™ˆ๐™Š๐™ƒ๐˜ผ๐™ˆ๐™ˆ๐˜ผ๐˜ฟ ๐™…๐˜ผ๐™€๐™‰๐™๐˜ฟ๐™„๐™‰  di  Makasar, Jakarta Timur

Terpopuler

  1. Alhamdulillah Telah Hadir Radio Rodja 100.1 FM

    ๐™ˆ๐™Š๐™ƒ๐˜ผ๐™ˆ๐™ˆ๐˜ผ๐˜ฟ ๐™…๐˜ผ๐™€๐™‰๐™๐˜ฟ๐™„๐™‰  di  Cileungsi, Bogor Kota  |  20 Feb 2020
  2. Sandang Peringkat 11 Wilayah Rawan Bencana, PMI Banyuwangi Susun Rapat Kerja Kemitraan

    Mbak Ning  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  18 Feb 2020
  3. Menyatukan Langkah, FKDM se-Kota Yogyakarta Melakukan Rakordasi Perdana 2020

    Abdul Razaq  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  21 Feb 2020
  4. Meski tanpa aplikasi,SARIPAH bisa menulis

    Arianto  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  20 Feb 2020

Komentar Terbanyak

  1. 4
    Komentar

    Meski tanpa aplikasi,SARIPAH bisa menulis

    Arianto  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  20 Feb 2020
  2. 4
    Komentar

    THE COLOURFULL RAJUMAS

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  23 Feb 2020
  3. 4
    Komentar

    20 - 02 - 2020

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  20 Feb 2020
  4. 3
    Komentar

    Merdeka Mengajar Bukan Berarti Semau Gue.

    Zulkarna  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  23 Feb 2020