Mengintip Dibalik Sosok “Sang Pangeran” yang Kontroversial

25157 medium images %284%29


Judul : IL PRINCIPLE “Sang Pangeran”
Pengarang : Niccolo Machiavelli
Penerbit : Narasi
Edisi : Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Alih Bahasa : Dwi Ekasari Aryani
Jenis buku : Non Fiksi – Filsafat Politik
Cetakan : III, 2016
Halaman : 184


Niccolo Machiavelli dilahirkan di Florence,Italia pada tahun 1469. Ia lahir pada era kekacauan politik di negaranya.setelah tergulingnya Keluarga Medici dari tahta kekuasaan, Machiavelli diangkat menjadi salah satu staff pemerintahan. Ia juga sempat dipecat,ditahan dan disiksa karena dituduh berkomplot melawan dan menggulingkan Keluarga Medici dari tahta. Namun setelah bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah,akhirnya Machiavelli pun dibebaskan. Ia pun mulai menuliskan karya-karya nya buah pemikirannya yang bersumber dari pengalaman hidupnya,pengamatannya,serta beberapa teks kuno yang kerap kali ia baca.
Salah satu judul karyanya adalah Il Principe, atau Sang Pangeran. Buku ini bisa menuntun pembaca untuk menjadi penguasa politik yang sejati, dan bukan yang murahan. Bahkan, dapat dibilang, buku ini adalah salah satu buku yang paling banyak mengundang tafsir dan debat sampai sekarang di kalangan para ahli ilmu politik, filsuf politik dan politikus itu sendiri. Buku itu bukanlah buku tentang politik yang ideal, melainkan buku tentang keadaan politik yang sangat realistik, apa adanya. Ia banyak memaparkan sejarah politik sampai jamannya sebagai contoh atas argumen-argumennya. Argumentasinya dibangun atas dasar keadaan nyata di dalam politik, dan bukan atas harapan akan politik yang ideal.
Meskipun isinya sering dihakimi orang karena dianggap melegalkan tipu muslihat, kelicikan, dusta, serta kekejaman dalam menggapai kekuasaan, namun beberapa orang juga memujanya sebagai buku yang sangat jujur dan realis. Tanpa malu Machiavelli memaparkan kondisi moral para penguasa dengan apa adanya.

Sebagai contoh, Machiavelli menulis, “….membunuh sahabat seperjuangan, menghianati teman-teman sendiri, tidak memiliki iman, tidak memiliki rasa kasihan dan tidak memiliki agama: kesemua hal ini tidak dapat digolongkan sebagai tindakan yang bermoral, namun dapat memberikan kekuatan…” (Il Principe,1513 : 4)
“.... dan untuk memiliki mereka sepenuhnya, hal yang harus dilakukan adalah dengan memusnahkan semua keluarga para pangeran yang sebelumnya memerintah...” (Il Principe,1513 : 25)
Machiavelli sendiri tidak ingin, jika kekuasaan politik dipegang oleh orang yang rakus akan kekuasaan. Tolok ukur yang dipakainya adalah rasionalitas politik, yakni upaya untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan selama mungkin dengan cara-cara yang mungkin dilakukan. Jika sang penguasa perlu untuk melakukan cara-cara licik setelah mempertimbangkan semua keadaan dan kemungkinan yang ada, maka cara-cara yang licik itu selalu bisa dibenarkan.
Ada tiga hal yang bisa kita pelajari dari buku Il Principe ini. Pertama, setiap keputusan politis tidak boleh dibuat secara sewenang-wenang. Dasar atas alasan yang kokoh dari keputusan politis adalah sesuatu yang amat penting. Tanpa itu, sang penguasa hanya akan menciptakan dendam dan kebencian dari rakyatnya. Ini akan bermuara pada perang dan revolusi.
Dua, sang penguasa harus berusaha menciptakan ketakutan sekaligus rasa cinta dari rakyatnya. Ia harus bisa mempesona rakyatnya, ketika itu dibutuhkan. Sebaliknya, ia juga harus menciptakan rasa gentar di dalam hati rakyatnya, ketika keadaan membutuhkannya. Jika tidak mungkin melakukan keduanya, maka, menurut Machiavelli, ketakutan adalah alat paling baik untuk menciptakan kepatuhan dan stabilitas politik.
Tiga, moralitas memang penting. Namun, di dalam politik, moralitas bukanlah ukuran yang utama, melainkan keberhasilan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah dibuat sebelumnya, dan stabilitas politik. Sang penguasa justru disarankan untuk mengambil langkah-langkah yang licik, ketika keadaan memaksanya untuk berbuat itu. Dengan pandangan semacam ini, Machiavelli menjadi panduan praktis yang amat berharga bagi para politikus dunia, sekaligus ia menjadi setan jahat bagi para moralis yang mengutuk praktek-praktek licik di dalam politik.
Sudah dilihat 70 kali

Komentar