Mengikis Pilu Memilih Pulih

43825 medium post 50752 5df5395c a9f2 4d21 81e0 20995f79041e 2018 12 24t22 06 21.912 08 00
Fenomena alam yang terjadi di Sulawesi Tengah sudah berlalu hampir tiga bulan. Tapi material bangunan yang berserakan, jalan-jalan terbelah dan tenda-tenda pengungsian masih dengan mudah kita temui. Peristiwa 28 September di Sulawesi Tengah (Palu, Sigi, Donggala) kemarin memang bukan peristiwa yang biasa. Untuk menjadikan segalanya kembali normal, waktu tiga bulan saja sangat tidak cukup. Itu kalau kita bicara mengenai perbaikan infrastruktur, transportasi, sarana dan prasarana yang rusak. Tapi, jika kita melihat dari sudut pandang masyarakatnya, bagaimana sikap dan aktivitas masyarakatnya. Bagi saya, sebagai orang yang juga sempat merasakan hidup di pengungsian, aktivitas masyarakat dengan segala keterbatasannya sudah berjalan kembali seperti biasa. Hari-hari yang tidak lagi diisi oleh air mata dan rintihan, tapi semangat yang sesekali disusupi tawa kebahagian. Tawa yang justru bersumber dari cerita-cerita mereka pada saat kejadian dan perjuangan mereka bertahan hidup. Betapa Tuhan memang selalu punya cara menghibur hambanya. Sungguh mereka menyadari bahwa menangisi dan meratapi yang terjadi bukanlah pilihan yang bijak. Untuk itu, memilih untuk pulih adalah ikhtiar terbaik. Masyarakat yang sudah kembali antusias menjalani hidup, meyakini tantangan yang diberi Tuhan sepadan dengan kemampuan mereka. Geliat pasar, pusat perbelanjaan, alun-alun kota sudah hidup kembali. Anak-anak sekolah yang kembali dengan semangat baru untuk bersekolah dengan bangunan sekolah yang mungkin juga baru. Betapa semangat pulih yang luar biasa. Ini adalah semangat pulih yang mereka pilih. Atau kalau boleh saya menyebut #SulawesiTengahPulih. Yaa sudah pulih! Kami hanya sedikit lebih sepi dari biasanya dan sedikit lebih gelap dari sebelumnya.
Sudah dilihat 230 kali

Komentar