Mengenang Tragedi Teror Ninja 1998

21538 medium images
"NINJA... NINJA!!"

Teriak seseorang dari arah timur. Teriakan itu langsung disahuti dengan teriakan-teriakan gaduh lainnya yang diiringi bunyi kentongan bertalu-talu.

Aku dan beberapa teman sebaya beserta orang dewasa lainnya yang sedari tadi berjaga di pertigaan jalan utama yang menghubungkan antara jalan Bungur dengan jalan Manggar langsung menghambur ke arah datangnya suara... kami semua berlari ke arah timur, arah rumahku.

Di jalan kami berpapasan dan bertemu dengan kelompok-kelompok kecil lainnya yang keluar dari gang-gang di sepanjang jalan hingga jumlahnya makin membesar menjadi puluhan orang, remaja dan dewasa. Semuanya membawa aneka senjata tajam atau senapan angin. Aku sendiri, sejak isyu ninja itu mulai merebak dan masuk ke wilayah Jember, tak pernah berpisah jauh-jauh dari tombak yang aku pesan dari seorang pandai besi.

Suara berpuluh-puluh pasang kaki yang berlari itu membuat gaduh gang sempit di seberang musholla At-Taqwa. Dari sana kami melewati depan rumah Pak Pin dan menyeberang sungai kecil untuk kemudian berkumpul di kebun yang masih banyak pohon besarnya itu di belakang rumah pak haji Arif. Di tempat itu puluhan atau bahkan mungkin ratusan orang sudah berkumpul dan berteriak gaduh bersahut-sahutan. Puluhan senter menyorotkan sinarnya ke atas, mencoba menerangi pokok, ranting dan dedaunan untuk menemukan gerakan mencurigakan sekecil apapun.

"Tadi dia disini, diatas pohon bendo... mau melompat masuk ke halaman rumah pak Arif." teriak seseorang entah siapa. Pak Arif, nama yang disebutkan itu adalah pak Haji Arifin Zuhal, guru mengaji anak-anak di kampung Kemundungan yang menggantikan pakdeku, KH. Shofwan Arif setelah beliau meninggal.

Masuk akal... begitu mungkin yang ada di dalam benak orang-orang yang berada di kebun itu. Karena itu adalah masa-masa genting bagi masyarakat Jember setelah isyu ninja merebak sejak bulan sebelumnya. Setelah di awal-awal menargetkan para dukun santet, sekarang para ninja itu mengganti mangsa mereka menjadi para guru ngaji atau ustaz di kampung-kampung.

Pasti giliran mereka kali ini adalah untuk mengincar kepala pak Haji Arif.
.
.
Ya... di tahun 1998 itu, wilayah timur Jawa Timur, khususnya daerah tapal kuda yang meliputi Bondowoso - Situbondo - Banyuwangi - Jember - Lumajang dan sekitarnya memang tengah membara. Sebuah catatan sejarah kelam di Indonesia yang melahirkan kisah tentang ninja - sosok yang seharusnya cuma ada di Jepang itu - yang menjadi algojo dan tukang jagal tak kurang dari 243 orang, 154 diantaranya hanya di Banyuwangi saja. Sisanya adalah korban di 7 kabupaten lain termasuk beberapa kabupaten di wilayah Madura.

Untuk diketahui, peristiwa ninja itu diawali pada bulan Februari 1998 setelah sebelumnya bupati Banyuwangi waktu itu, mengirimkan radiogram kepada para camat dan kepala-kepala desa di seluruh wilayah Banyuwangi untuk mendata nama-nama warganya yang diidentifikasikan sebagai "orang pintar" atau orang yang memiliki kemampuan supranatural yang bagi masyarakat setempat biasa disebut dukun santet. Isi radiogram itu selanjutnya adalah untuk menjaga rumah-rumah nama yang didata karena dikhawatirkan akan terjadi serangan kepada mereka.

Entah karena memang pak bupati adalah ahli nujum atau entah memang dia sudah mendapat bocoran di level tinggi, usai radiogram itu terbit, ternyata memang benar terjadi penyerangan terhadap para "dukun santet" itu. Dalam beberapa hari kemudian sudah ada yang tewas karena amukan massa yang terprovokasi. Di bulan-bulan pertama, korban yang tewas antara 5 sampai dengan 9 orang perhari.

Dari isyu santet itu kemudian makin berkembang menjadi isyu ninja yang terus berlangsung hingga bulan September di tahun yang sama. Karena jika sebelumnya yang menjadi pelaku penyerangan adalah massa yang marah, maka yang terjadi selanjutnya adalah serangan-serangan kepada tokoh-tokoh agama di kampung-kampung oleh pelaku yang kemudian terkenal dengan nama "Ninja".
.
Kenapa Ninja? karena banyak saksi mata yang menceritakan sosok-sosok yang melakukan penyerangan selalu berpakaian hitam-hitam dengan kepala tertutup dan hanya menyisakan mata saja. Julukan ninja juga disematkan karena gerakan mereka terlatih, fokus, cepat dan beberapa disertai kisah-kisah supranatural.

Ninja-ninja itu konon bisa melompat dengan mudah dari satu atap rumah ke atap rumah yang lain. Mereka katanya juga kebal peluru dan senjata tajam, hanya bisa mati jika dibakar. Satu orang ninja bisa mengalahkan puluhan orang yang mengeroyoknya. Dan masih banyak kisah diluar akal lainnya.

Salah satu kisah yang tak akan kulupa sampai sekarang adalah dari kakak iparku sendiri di Banyuwangi. Aku mengenalnya sebagai lelaki pendiam tak banyak omong dan jelas bukan pembohong. Menurutnya, di suatu malam dia dan puluhan warga perumahan mengejar sosok ninja itu sampai akhirnya ia terpojok tak bisa kemana-mana karena jalan buntu. Dan apa yang terjadi kemudian? Sosok misterius itu berbalik dan berlari kembali ke arah massa yang mengejarnya dalam bentuk.... seekor anjing! Terus terang aku agak sulit mempercayai kisah itu namun kakak iparku itu menceritakannya dari sudut pandang orang pertama yang mengetahui langsung kejadiannya dengan mata kepalanya sendiri ditambah sumpah demi nama Tuhan berkali-kali ia ucapkan. Wallahu a'lam.
.
Selain kisah-kisah menegangkan berbumbu mistis diatas, ada satu lagi fakta yang merupakan temuan dari tim bentukan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang berkepentingan karena memang yang paling banyak menjadi korban adalah kader mereka di daerah-daerah kejadian.

Temuan itu diantaranya bahwa aksi-aksi ninja itu jelas profesional. Di banyak tempat, sebelum terjadi pembunuhan pasti terjadi pemadaman listrik lokal. Mereka juga menemukan bahwa ada indikasi pelakunya adalah orang-orang yang terlatih dengan aksi-aksi yang hampir mustahil dilakukan oleh orang-orang biasa. Dan satu lagi fakta yang bikin PWNU Jatim jengkel.... sejak awal kejadian hingga kasus itu mulai berkurang, sudah tak kurang dari 150-an orang tersangka yang ditangkap, sebagian besar oleh masyarakat namun setelah itu mereka tak pernah benar-benar diproses oleh pihak berwenang. Ada banyak kasus para tersangka yang sudah diserahkan itu kabur dari tahanan (?!)

Dan yang juga banyak terjadi adalah, orang-orang yang telah ditangkap itu mendadak menjadi gila atau dinyatakan gila.

Pelakunya adalah orang gila? Sampai disini apakah ada yang merasa familiar dengan kisah ini? Ada tokoh agama diserang kemudian penyerangnya dianggap/dinyatakan gila.

Itulah yang kemudian pada waktu tragedi teror ninja itu berlangsung, Letkol (Purn) Rudolf Baringbing, perwira BAIS (Badan Intelejen Strategis) yang telah pensiun berkata bahwa,”hanya orang edan yang mau percaya pembunuhan (guru ngaji) itu murni tindakan kriminal”
.
.
Dan hari-hari belakangan ini kita semakin sering mendengar kejadian tentang rumah ibadah yang diserbu, atau tokoh agama yang diserang seakan-akan sudah lupa bahwa di bulan Februari ini, persis 20 tahun yang lalu, NU telah kehilangan nyawa ulamanya dalam jumlah yang tak tanggung-tanggung..... hampir 250 orang!

Tapi tentu saja aku tak berani mengait-ngaitkan bahwa ada hubungan antara teror ninja di ujung timur Jawa tahun 1998 itu dengan aksi-aksi serangan kepada rumah ibadah dan tokoh agama di awal tahun 2018 ini... itu terlalu gegabah dan tuduhan tanpa bukti.

Tapi mosok aku nggak boleh bilang bahwa keduanya sama-sama terjadi sekitar bulan Februari dan sama-sama persis setahun sebelum pemilu?!
#dikutip dari facebook
Sudah dilihat 325 kali

Komentar