Mengenali Hoax di Bidang Kesehatan

41244 medium hoax
MENGENALI HOAX DI BIDANG KESEHATAN*
(dokumentasi Kulwap Grup Autoimun Marisza Cordoba)

Narasumber diskusi
*dr. Widya Eka Nugraha M.Si.Med*
-Dokter di RS Medika Dramaga dan Klinik Harapan Ibu Bogor sekaligus Konselor Genetik di Indonesia Rare Disorders.

Hoax di bidang apapun punya beberapa ciri-ciri: lebay, anti-mainstream, penuh ancaman, dan ujung-ujungnya komersial. Di Indonesia, hoax bisa mendatangkan 600 sampai 700 juta rupiah per tahun, sedangkan di luar negeri, angkanya bisa mencapai 200.000 dollar Amerika.

Hoax adalah *pemberitaan palsu yang sengaja dibuat dan disebarkan untuk menyamarkan kebenaran*. Hoax berasal dari kata _*hocus*_ yang dalam Bahasa Yunani merupakan kata kerja bermakna _mencurangi_ atau _memaksakan_.

Kata _hocus_ juga kita kenal lewat mantera _hocus pocus_ , yang dengan mantera ini seorang pesulap mengelabui penontonnya. Di era digital, banyak bermunculan pesulap-pesulap media yang mengelabui netizen dengan hoax-nya. Apalagi di bidang kesehatan, seseorang bisa meninggal akibat henti jantung gara-gara minum herbal tertentu padahal gagal ginjal kronik.

Lalu bagaimana mengenalinya?

Ada dua unsur yang harus dinilai dalam menimbang apakah sebuah artikel merupakan hoax atau bukan. Yang pertama adalah *isi*, yang kedua adalah *sumber*. Dengan menilai kedua unsur tersebut secara sistematis, kita dapat mengetahui apakah suatu artikel merupakan *hoax* atau *expert opinion*.

*ISI*

Artikel hoax cenderung menggunakan *gaya bahasa* hiperbolis, emosional, menggebu-gebu, dan persuasif. Pendapat yang digunakan umumnya anti-mainstream. Bukan berarti suatu artikel hoax bertentangan dengan *logika*, justru sebaliknya, kebanyakan hoax amat masuk akal bagi orang-orang yang menggunakannya secara parsial.

Kesesuaiannya dengan logika parsial inilah yang menjadikan hoax dipercaya oleh banyak orang. Tetapi, karena yang digunakan adalah logika parsial, maka logika ini menjadi tidak konsisten ketika berhadapan dengan logika atau hukum alam lainnya.

Contohnya sebagai berikut: seorang Ibu memiliki anak. Anaknya ini mengalami autism spectrum disorder setelah divaksin MMR. Lantas, si Ibu membuat artikel yang menyebutkan bahwa vaksin MMR menyebabkan autism.

Sekilas terlihat logis bukan? Habis divaksin MMR kemudian autism. Pastilah vaksin MMR penyebabnya!

Tetapi, sayangnya logika yang digunakan hanya bersifat parsial. Bagaimana dengan anak yang diberi permen kemudian menjadi autism, apakah permen menyebabkan autism? Apakah suatu kejadian X yang mendahului fenomena Y *pasti* merupakan suatu hubungan sebab-akibat alias kausalitas?

Untuk mengetahui apakah vaksin MMR menyebabkan autism, kita harus membuktikannya lewat *uji statistika*.

Sebagai gambaran, anak-anak yang mendapatkan vaksin MMR diperiksa, berapa banyak di antara mereka yang mengalami autism. Demikian juga sebaliknya, anak-anak yang mengalami autism ditelusuri kembali, apakah mereka mendapatkan vaksin MMR atau tidak.

Jika kita mendapatkan gambaran bahwa _sebagian besar anak-anak yang mendapatkan vaksin MMR tidak mengalami autism_ dan _sebagian besar anak-anak yang mengalami autism tidak mendapatkan vaksin MMR_, tentu sekilas kita dapat menyimpulkan bahwa vaksin MMR dan autism tidak berhubungan.

Pada prakteknya, statistika menggunakan perhitungan yang jauh lebih rumit daripada ilustrasi di atas.

*SUMBER*

Artikel hoax dapat dipastikan memiliki masalah di sumber. Masalah tersebut bisa berupa: sumber yang *tidak bisa dilacak*, sumber yang *tidak kredibel*, atau opini ahli yang *diputar-balikkan*.

Banyak artikel hoax yang mencantumkan nama tokoh tertentu di dalamnya. Misalnya, pernah beredar hoax berikut:
__________________________________________________

Bypass jantung?
Kolesterol? Darah tinggi?
Sekarang *tidak perlu operasi jantung lagi*!

Tolong diteruskan kepada kolega atau teman--teman anda. Mudah membuatnya sendiri. Berguna melebarkan pembuluh darah vena jantung:

1 gelas sari lemon
1 gelas sari jahe
1 gelas sari bawang putih
1 gelas sari cuka apel

Penyempitan pembuluh vena akan terbuka lagi. Teruskan kepada yang membutuhkan.

Salam,

Prof. Dr. S. Vikineswary.
Biotech Division Institute Biological Sciences
University of Malaya.
__________________________________________________

Pertama-tama harus kita lacak dahulu apakah Prof. Viki ini merupakan tokoh yang benar-benar *nyata* atau tidak. Kalau dia benar-benar nyata, kita harus pastikan apakah dia betul-betul bekerja *sesuai* artikel di divisi bioteknologi University of Malaya dan bukannya Universitas lain. Yang terakhir, kita harus pastikan juga apakah bidang keilmuannya cukup *kredibel* untuk membahas ilmu kedokteran. Kalau beliau ternyata adalah seorang Profesor di bidang kelautan, tentu menjadi tidak kredibel lagi bicara soal kedokteran.

Jika memang si Prof adalah seorang pakar di bidang kedokteran, maka artikel tersebut tergolong dalam *expert opinion* alias pendapat ahli. Kita harus tanyakan kepada beliau apakah si Prof pernah menyampaikan hal yang demikian. Jika tidak, itu namanya hoax.

Sah-sah saja bila kita ingin mengambil pendapat ahli. Tetapi, apabila pendapat ahli ini tidak ditunjang oleh data dari penelitian lain, maka sebaiknya jangan diambil.

*KESIMPULAN*

Jika kita ingin mengetahui apakah suatu artikel hoax atau bukan, amati isinya lalu cermati sumbernya. Isi yang menggunakan *gaya bahasa hiperbolis* dan *logika parsial* sangat mungkin merupakan suatu hoax. Sumber yang *tidak bisa dilacak*, *tidak kredibel*, atau *diputar-balikkan* tergolong sebagai suatu hoax.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Jangan pernah menyebarkan berita hoax. Jika anda menerima kabar hoax, *telusuri kebenarannya* dengan cara menghubungi sumbernya. Jika anda tidak tahu cara menghubungi narasumbernya, tanyakan pendapat ahli yang anda kenal lewat *jalur pribadi*.

Jangan bertanya di grup. Apalagi dengan narasi: _cuma share dari grup sebelah. Gak tahu juga sih, kebenarannya ya...._ Itu menandakan anda *malas* dan *tidak bertanggung-jawab*.

Sebagaimana dalam Al-Qur'an surah Al-Hujurat ayat 6

"“Jika datang kepadamu suatu kabar yang tidak kamu ketahui kebenarannya, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum sehingga kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.
.
. #limadasarhidupsehat #mariszacardobafoundation #JurnalismeWargaMelawanHoaks

*DOKUMENTASI KULWAP
.
.
I LOVE TO LEARN
KULWAP (Kuliah WhatsApp)
Grup WA LDHS Family-IAC
Selasa, 17 Januari 2017
Jam 19.00-21.00 WIB

LDHS Pilar no.4: Terus Belajar
Mengenali hoax di bidang kesehatan
Sudah dilihat 29 kali

Komentar