Mengenal Prepegan, Tradisi Masyarakat Jawa Jelang Lebaran

26673 medium 750x500 mengenal prepegan tradisi masyarakat jawa jelang lebaran 170624b
Brebes- Prepegan adalah sebuah istilah untuk menyebutkan tradisi dua hari menjelang Lebaran yang ditandai dengan suasana pasar yang ramai sesak. Hal ini karena sebagian besar orang pergi berbelanja ke pasar untuk memenuhi segala kebutuhan di hari Lebaran.

Prepegan sendiri terbagi menjadi dua, prepegan cilik atau kecil dan prepegan gede atau besar. Prepegan cilik biasanya dilakukan dua hari menjelang Lebaran dan prepegan gede satu hari menjelang lebaran idul fitri. Pada prepegan gede, hampir dipastikan suasana pasar tradisional akan ramai pengunjung.

Umumnya pedagang daging, ayam potong, ikan, sayur mayur, kue-kue yang biasanya diserbu oleh para pembeli. Tidak terkecuali penjual bunga untuk kebutuhan ziarah atau nyekar di keesokan harinya setelah Salat Ied.

Yono Daryono Budayawan Tegal mengatakan prepegan dalam kamus bahasa Jawa ada kata prepek yang artinya mendekati. "Bisa jadi kata prepegan berasal dari kata prepek atau mendekati Lebaran," katanya Sabtu (24/6).

Menurut Yono Daryono tradisi prepegan dimulai ketika umat muslim akan merayakan Idul Fitri, merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh berpuasa Ramadan melawan hawa nafsu.

"Dalam merayakan kemenangan tersebut umat muslim biasa menggunakan berbagai cara, ada yang memakai pakaian baru, ada yang membuat makanan istimewa dengan ketupat, untuk memenuhi kebutuhan itu mereka harus berbelanja dan belanjanya mendekati lebaran," paparnya.

Selain itu Yono Daryono menambahkan tradisi nyekar juga sudah menjadi hal yang wajib dilakukan pada masyarakat Jawa setelah Salat Idul Fitri sehingga banyak ditemui para penjual bunga.

Mardiyah, pedagang kembang di pasar pagi Tegal mengatakan setiap prepegan selalu menyempatkan untuk berjualan di sepanjang pasar pagi Tegal. "Biasanya saya berjualan kembang di lingkungan pemakaman mbah Panggung setiap menjelang kliwonan, tapi karena prepegan saya berjualan di pasar pagi. Harga kembang Rp 5.000 percangkir yang dipincuk dengan daun pisang sebagai bungkusnya," katanya.


Merdeka.com

Komentar