Mengapa Jakarta Banjir?

21363 medium mengapa jakarta banjir
Banjir yang melanda ibukota DKI Jakarta sudah menjadi fenomena umum di masyarakat. Tentunya, kondisi ini terjadi karena dilatarbelakangi faktor alam dan manusia. Dengan 13 sungai yang mengalir di tengah kota, kita perlu memahami beberapa faktor alami yang menyebabkan ibukota Jakarta selalu banjir, apalagi jika siklus banjir 5 tahunan terjadi.

1) Perubahan iklim.
40 % permukaan tanah Jakarta berada di bawa permukaan air laut sehingga berpotensi mengalami resiko peningkatan muka air laut dan curah hujan. Apalagi, akhir-akhir ini cuaca sangat ekstrem sehingga sulit menghindari banjir.

2) Ombak tinggi.
Selisihi maksimum antara air pasang dan surut adalah >1 meter. Karena itu, ombak pasang yang terjadi bertepatan dengan musim hujan dapat menembus tanggung laut dan menyebabkan banjir ekstrem, seperti yang pernah terjadi pada tahun 2007 ketika setengah wilayah Jakarta terendam banjir.

3) Limpasan air dari Bogor dan Depok.
Perubahan pemanfaatn lahan dari hutan menjadi kebun atau rumah pribadi, seringkali mengakibatkan limpasan hujan tidak terserap ke dalam tanah sehingga air mengalir langsung ke hilir. Begitu pula dengan populasi penduduk yang tumbuh pesat seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal terjangkau bagi penduduk Jakarta. Karena 20 % penduduk Depok adalah pekerja di Jakarta. Karena itu, semakin banyak rumah yang dibangun di Depok maka semakin sedikit tanah yang dapat menyerap air, sehingga limpasan air mengalir lebih cepat dari hilir ke hulu.

4) Penurunan muka tanah.
Penurunan muka air berpotensi besar menimbulkan resiko banjir di masa depan. 40 % Jakarta tenggelam 3 s/d 10 cm per tahun akibat pengambilan air tanah secara berlebihan. Apalagi, banyak industri, perusahaan, dan pengembang mengambil air tanah secara ilegal.

5) Rawa yang mengering.
Jakarta tempo dulu, sebagian besarnya adalah rawa yang kini dikeringkan dan ditutupi dengan permukaan yang tidak dapat menyerap air, seperti jalan dan rumah. Maka tak heran jika banjir menggenangi wilayah Jakarta.

6) Waduk yang rusak.
Waduk dan danau berperan penting dalam mencegah banjir selama musim hujan dan menyimpan air selama musim kering. Di masa pemerintahan Hindia Belanda, ada 800 waduk yang dibangun di wilayah Jabodetabek. Namun kini hanya tersisa 200 waduk dan danau. Parahnya lagi, 80 % waduk kini dalam kondisi rusak, terlalu dangkal, atau dialihfungsikan menjadi perumahan.

7) Sampah.
Sampah adalah masalah klasik setiap perkotaan. Sampah yang dibuang sembarangan di sungai dan selokan dapat menyumbat pintu air dan infrastruktur kota lain yang dibutuhkan dalam mengendalikan banjir. Karena itu, warga diharap agar berlaku baik dan bersikap bijak dalam memperlakukan lingkungan sekitar agar kerusakan lingkungan yang ada tidak semakin parah dan bisa diperbaiki untuk kepentingan bersama.
Sudah dilihat 123 kali

Komentar