MEMBURU KUDAPAN LANGKA NAN FENOMENAL DI PACIRAN; Si Legit "Luwoh"

19 October 2019, 20:09 WIB
1 0 269
Gambar untuk MEMBURU KUDAPAN LANGKA NAN FENOMENAL DI PACIRAN; Si Legit "Luwoh"
Oleh: Qimayatul Milla

Pernah kah diantara kalian mencicipi rasa dari kulit jeruk? Hehe.. kena cipratan minyak atsirinya saat mengupas kulit jeruk saja rasanya sudah membuat netra kita perih dan lidah kita getir jika saat mengonsumsi daging jeruk yang ternyata masih ada sisa kulit yang menempel.

Namun, jangan khawatir, Readers.. di daerah kami PANTURA, lebih tepatnya di Kec. Paciran, Kab. Lamongan, Jawa Timur. Kulit buah jeruk bisa disulap menjadi kudapan yang khas, tentunya dengan rasa yang khas pula. Jeruk yang kami gunakan adalah jenis jeruk Bali atau nama internasionalnya adalah "POMELO" dan nama ilmiahnya "CITRUS GRANDIS" atau "CITRUS MAXIMA", dimana kulit buah ini tebal dan empuk, seringkali hanya dibuang begitu saja dan sepertinya kurang lazim dirasakan bagi masyarakat daerah lain, namun tidak bagi kami karena kudapan ini sudah menjadi bagian yang melegenda di Desa kami. Meskipun daerah kami bukan penghasil komoditas dari buah Pomelo ini, dan sebetulnya jenis jeruk Bali ini bukan berasal dari Pulau Bali.

Dulu, saat Author masih kecil, kulit Pomelo dimanfaatkan Bapak untuk membuatkan mainan anak-anaknya, seperti mobil-mobilan atau perahu-perahuan. Siapa sangka, di tangan Ibu-ibu di Kec. Paciran yang super kreatif dan jeli melihat peluang usaha, mampu menyulap barang yang tidak ternilai seperti kulit buah Pomelo menjadi kudapan yang ulalaa.. Membangkitkan selera yang luar biasa jika itu mampir ke lidah kita, dan tentunya memiliki nilai ekonomis yang cukup baik.

Dewasa ini, kudapan tersebut menjadi barang langka di PANTURA, sudah barang tentu bak mencari jarum diantara tumpukan jerami, kok bisa? Bisalah, saking langkanya penjual kudapan ini. Di berbagai pasar tradisional di Desa kami pun sudah jarang ditemui kudapan satu ini. Namun, jangan khawatir.. akhirnya, perjuangan si Author berburu kudapan tersebut membuahkan hasil juga. Di pusat pasar tradisional di Kec. Paciran, si legit nan menggigit ini bisa kalian dapatkan, tentunya harus datang pagi-pagi sekali karena siangan sedikit sudah bablas tak bersisa, pun penjualnya yang hanya ada satu sampai dua saja yang masih bertahan hingga sekarang.

Selain terkendala dengan bahan baku yang hanya ada pada saat musim jeruk Bali saja, juga membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang ekstra demi mendapatkan cita rasa yang pas di lidah penggemarnya. Cara membuat yang memang gampang-gampang susah, butuh proses yang tidak sebentar, mulai dari mengupas kulit buah Pomelo, merendam dengan air larutan kapur sirih, menjemurnya, sampai merebus bercampur gula Aren, hingga terciptalah manisan yang menarik untuk dipandang dan menggugah selera untuk dicicipi. Dengan harga Rp. 3.000 per biji saja kita bisa menikmatinya, murmer banget kan? Murah meriah..

"LUWOH" atau "KOLEK JERUK", adalah sebutan bagi kami warga PANTURA untuk jenis kudapan yang satu ini. Kudapan yang biasanya jadi menu andalan untuk berbuka puasa selain kurma dan teh manis sebagai pelepas dahaga dan penunda lapar. Benar-benar si legit nan menggigit, karena Luwoh sendiri merupakan manisan yang terbuat dari kulit jeruk Bali, mempunyai rasa yang khas karena ada campuran gula Aren asli Paciran. Kalau di daerah lain seperti Ciwidey, Kab. Bandung, Jawa Barat, juga terdapat kudapan Luwoh yang hampir sama, mereka menyebutnya "KALUA JERUK" dengan aneka rasa dan warna. Ada pula yang di daerah lain, dikenal dengan Luwoh yang terbuat dari buah "Blonceng" atau "Labu Bligo".

Yang membuat beda dengan jenis Luwoh pada umumnya, si legit ini selain punya rasa yang khas adalah cara penyajiannya yang tergolong unik dan menarik, dimana Luwoh ini disertai dengan tali pengikat dari daun Aren yang disisipkan di tengah-tengah daging Luwoh tersebut. Berguna untuk memudahkan si penikmat agar lebih mudah memegang Luwoh saat mau dikonsumsi dan tentunya agar ada sensasi cara makan yang khas, seperti anak-anak yang lagi lomba makan kerupuk saat Agustusan. Hehe..

Di balik rasa Luwoh yang manis nan legit ini, ada beberapa kondisi yang mengharuskan seseorang menghindari kudapan jenis ini, yaitu pemilik gigi sensitif, penderita diabetes, maupun pasien yang sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu. Meskipun rasa manis si Luwoh berasal dari perpaduan manis gula Aren alami (se-alami manisnya si Author ini, haha..) tanpa pemanis buatan, alangkah baiknya untuk berkonsultasi dengan Dokter terlebih dahulu agar mengetahui jenis kudapan apa saja yang boleh/tidak dikonsumsi.

Gimana Readers, tertarik bukan? Yuukk.. ah, berburu kudapan langka nan fenomenal ini bersama Author, sembari kita mantaiii.. Asyik kan? Agendakan libur-mu untuk melipir ke daerah kami, yaa.. 😉

Kandang Semangkon, 19 Oktober 2019

#7harikonsistenmenuliscitizenjournalism
#kelasjurnalistikonline #CiJo #day4of7days
#belajarnulis #belajarliterasi #potensidesa
#pesonadesa #semangatnulis
#semangatmembaca #tulisanreceh

  Komentar untuk MEMBURU KUDAPAN LANGKA NAN FENOMENAL DI PACIRAN; Si Legit "Luwoh"

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terbaru

Berita Warga
4 jam

Memakmurkan Masjid Dari Rumah

𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Banjarmasin Utara, Banjarmasin Kota

Terpopuler

  1. Pesan Bapak Kepala Dinas Pendidikan Lombok Tengah Untuk Sang Kepala Sekolah

    Zulkarna  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  26 May 2020
  2. Viral Video Anak Merokok, Yayasan Lentera Anak : Pelanggaran Peraturan Dan Hak Anak

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Jagakarsa, Jakarta Selatan  |  28 May 2020
  3. New Normal Starter Pack

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Cibeurum, Sukabumi Kota  |  30 May 2020

Komentar Terbanyak

  1. 7
    Komentar

    Pesan Bapak Kepala Dinas Pendidikan Lombok Tengah Untuk Sang Kepala Sekolah

    Zulkarna  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  26 May 2020
  2. 3
    Komentar

    Aceh Sukses Putus Rantai Penyebaran COVID

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  28 May 2020
  3. 2
    Komentar

    Kenali Panduan New Normal Perusahaan Saat PSBB

    𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Cibitung, Bekasi Kabupaten  |  27 May 2020
  4. 2
    Komentar

    Filosofi Gotong Royong dalam Aksi GASA Wirogunan

    Abdul Razaq  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  26 May 2020