Membumikan Tertib Berjualan untuk " Wisata Pasar "

65266 medium post 70028 c3e3152e 78af 497b b892 cc40e12a0248 2019 07 02t16 51 13.553 08 00 65267 medium post 70028 94dbc8a8 e235 49ef b3d4 d52efa355ffe 2019 07 02t16 51 15.130 08 00 65268 medium post 70028 0ed7ffab a661 4921 8800 01b34b149486 2019 07 02t16 51 22.843 08 00
" Kepala Pasar datang hei, angkat jualanmu " !. Begitu riuhnya suara pedagang emperan di Pasar Manonda Palu.
Suara yang nyaring ini terdengar apabila ada SIDAK atau patroli rutin Satpol PP, dan hari ini saya mendengarnya langsung.
Kemudian, seorang petugas parkir berkata kepada saya " itu kepala pasar, tegas orangnya ".
Memang sebagai petugas, harus tegas, apalagi menyangkut tertib dan nyamannya suasana pasar, walaupun kadang harus berdebat dengan pedagang.
Saya percaya, bukan maksud petugas untuk membatasi rezki orang, apalagi harus melawan hati nurani dengan pedagang kecil yang untung dan pendapatannya sangat minim. Hanya saja ada asas kemanfaatan yang sifatnya demi kepentingan umum.
Dikota - kota yang sudah berkembang pesat, Pasar tidak lagi sekedar tempat berjualan, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang dapat digunakan bertransaksi sekaligus berswaphoto dan membagikan aktifitas itu di media sosial.
Sekarang, yang perlu dibenahi pemerintah kota, bagaimana pedagang kaki lima/emperan diberi lokasi strategis, dibekali pelatihan menyapa dengan senyum, dibantu promosinya serta merawat tempat agar tetap awet dan bersih.
Demikian tidak ada lagi suara yang meninggi dan omelan pedagang yang tidak perlu, apalagi berakibat keributan.
Sudah dilihat 35 kali

Komentar