Membuat Ayah Depresi Melalui Dad Shaming

68289 medium post 72476 ec6e60ae d95d 4459 b732 331c2a40fd11 2019 07 30t15 16 33.400 07 00
Sosial media seringkali dijadikan album digital bagi para orangtua, termasuk mengabadikan setiap momen perkembangan dan pertumbuhan anaknya. Bahkan seorang Papa pun banyak membagikan berbagai momen serta pola pengasuhan dari hari ke hari bersama si Kecil.

Meskipun begitu dengan mudahnya orang lain menuliskan sebuah komentar di media sosial tak jarang terkesan menyudutkan atau mengarah ke bullying.

Atmaguys pernah mendengar kata mom shaming? Kata-kata yang sedang tren ini merujuk pada seorang ibu yang memberikan kritik “pedas” pada ibu lainnya. Mereka yang memberikan kritik merasa bahwa dirinya lebih baik, sehingga sering memberikan nasihat, masukan atau saran terhadap sesuatu yang menurutnya tidak sesuai.


Terkait mom shaming, dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter mengatakan bahwa perilaku ini bisa terkait dengan metode persalinan yang dipilih, pola pengasuhan anak, masalah menyusui, penggunaan susu formula, atau apapun yang berhubungan dengan anak. Situasi tersebut lalu berkembang dengan munculnya dad shaming.

Dad shaming memiliki pola yang sedikit berbeda dengan mom shaming. Pada kebanyakan kasus dad shaming, hal ini justru dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan paling dekat. Seperti misalnya, pasangan atau anggota keluarga lain, termasuk kakek dan nenek.

Dilansir dari Psychology Today, adanya dad shaming ini dapat berpengaruh terhadap rasa kepercayaan seseorang bahkan kesejahteraan anak-anaknya di rumah. Ada sebuah survey dari Universitas Michigan yang mengatakan bahwa ada 32 persen seorang yang baru menjadi Papa mengalami dad shaming.Permasalahan dad shaming tidak hanya bisa terjadi di kalangan artis dan media sosial saja, kondisi ini juga dapat dirasakan melalui lingkungan sekitar seperti teman, tetangga dan lingkungan keluarga secara langsung. 

"Dalam beberapa kasus, ini mungkin merupakan cerminan dari peran gender historis. Di mana, ibu dipandang sebagai pengasuh yang lebih alami dan ayah memiliki kemampuan pengasuhan terbatas yang membutuhkan pengawasan atau koreksi. Ketika ini terjadi, perbedaan kecil dalam gaya pengasuhan dapat menyebabkan konflik," kata asisten direktur penelitian dari University of Michigan, Sarah Clark.


Melansir dari WebMD, sebuah survei terbaru menemukan bahwa sebagian ayah di Amerika Serikat berkata bahwa mereka sering dikritik tentang gaya pengasuhan yang dilakukan.

Cara para ayah tersebut menegakkan disiplin menempati urutan teratas dalam hal-hal yang dikomentari orang lain. Menariknya, 44% dari kritik yang dilontarkan datang dari anggota keluarga, bahkan pasangan yang selalu hidup berdampingan dengannya.

"Beberapa ayah mengatakan bahwa kritik mendorong mereka untuk mencari informasi lebih lanjut tentang praktik pengasuhan yang baik. Namun, terlalu banyak ‘penghinaan’ terkait dad shaming juga dapat menyebabkan sebagian ayah merasa kehilangan semangat untuk tetap berperan sebagai orang tua," jelas Clark.

Disebutkan bahwa lebih dari seperempat ayah yang disurvei terkait dad shaming mengalami penurunan rasa percaya diri.

"Bahkan bentuk-bentuk pelecehan halus dapat melemahkan rasa percaya diri seorang ayah atau mengirim pesan bahwa para ayah tersebut kurang penting bagi kesejahteraan anak mereka masing-masing," kata Clark.


Tanpa disadari dad shaming juga dapat menimbulkan rasa stres, depresi hingga putus asa saat harus mengurus anak. Korban dari dad shaming bisa merasa dipermalukan dan tersudutkan apalagi saat sudah masuk ke dalam kasus cyberbullying di media sosial. Seseorang terkadang menyalahkan pola asuh orangtua seperti gaya bermain atau caranya mendisiplinkan anak mereka. 

Beberapa kalimat negatif yang mengarah ke dad shaming dan berkontribusi membuat dirinya kurang percaya diri saat mengurus anak antara lain:

"Masih kecil kok sudah dikasih makanan padat?"

"Anaknya kok keliatan kurus, nggak pernah dikasih makan ya?"

"Emang boleh gendong anak seperti itu?"

"Hati-hati kalau lagi gendong, nanti anaknya jatuh!"


Kritik yang mengarah ke dad shaming bisa dilontarkan orang lain dalam bentuk candaan. Dad shaming sebagai sebuah kritik negatif bisa terjadi dalam bentuk verbal maupun tidak verbal. 

Saat mendapatkan kritik pedas, tak jarang seseorang menjadi kurang percaya diri atau bahkan bertengkar dengan pasangannya sendiri. Sebelum pasangan menjadi depresi akibat dad shaming, Mama sebagai seorang istri perlu memberikan dukungan terhadap pola asuh atau apapun yang dilakukan oleh pasangan seperti: 

Membantu pasangan mencari berbagai informasi lebih lanjut mengenai pengasuhan yang baik. 

Mengembalikan semangat pasangan yang mulai tidak percaya diri saat tetap menjadi orangtua. 

Konsultasi bersama dengan orangtua atau mertua mengenai pola pengasuhan, bahkan bisa juga dengan psikolog anak.  

Saling berdampingan saat mengurus dan membantu memantau perkembangan anak. 

Sejatinya, mom shaming ataupun dad shaming adalah hal-hal terkait pola asuh yang sebaiknya dihindari, apapun alasannya. Ini karena setiap orang memiliki cara pengasuhan anak yang unik dan tidak melulu sama, tergantung pada kemampuan, situasi dan kondisi keluarga masing-masing. Jadi, jangan lagi jadikan “pandangan” pribadi sebagai panduan pola asuh keluarga untuk yang berbeda, ya!


Sumber :

https://www.popmama.com/life/relationship/fx-dimas-prasetyo/apa-itu-dad-shaming/full

https://m.klikdokter.com/info-sehat/read/3628856/selain-mom-shaming-ada-juga-dad-shaming-yang-perlu-anda-tahu

https://www.nytimes.com/2019/06/16/well/family/dad-shaming-parenting-judgment.html

https://www.parents.com/news/dad-shaming-is-a-thing-more-than-half-of-fathers-say-they-face-criticism-of-their-parenting/

https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-athletes-way/201906/study-most-new-fathers-experience-dad-shaming
Sudah dilihat 26 kali

Komentar