Memasuki Musim Hujan, Waspadai Bahaya yang Mengintai

37923 medium post 45758 2d0d3fcc 5f37 4707 8c8c 0edbd3642984 2018 11 05t12 03 12.222 07 00
Assalamualaikum Atmaguys. Memasuki musim penghujan ini, rasanya warga Jakarta khususnya kecamatan Makasar ini patut berhati hati ya. Pasalnya, wilayah kita ini termasuk dataran rendah yang rutin dan tak pernah absen dari yang namanya bencana banjir. Meskipun curah hujan masih belum ekstrem dan sungai sungai masih belum meluapkan segala isinya, namun patut kita waspadai datangnya banjir agar aktivitas kita nanti dapat tetap berjalan meski tidak seperti biasanya ya.
Musim hujan bukan hanya membawa berkah, tapi juga membawa sejumlah penyakit yang sebetulnya juga disebabkan oleh kita, para makhluk penghuni Bumi ini, maksudnya manusia ataupun hewan dan bakteri hehe. Apa saja yang harus kita waspadai? Simak berikut ini!
1. Diare
Diare karena infeksi tersebar luas di seluruh negara berkembang. Diare berat berpotensi fatal dan memerlukan bantuan medis sesegera mungkin akibat miskinnya cairan dan nutrisi tubuh yang terbuang dalam jumlah besar bersama cairan diare terutama pada bayi dan anak-anak, orang-orang yang kekurangan gizi, dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.
Gejala diare bervariasi, mulai dari sakit perut singkat dengan kotoran BAB yang tidak terlalu encer hingga kram perut yang disertai konsistensi feses yang sangat encer. Pada kasus diare parah, kemungkinan penderitanya dapat mengalami demam dan kram perut hebat. Cairan diare dapat bercampur dengan lendir dan darah.
2. Demam berdarah
Demam berdarah (DBD) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Bayi dan anak-anak yang terjangkit DB mungkin mengalami demam dengan ruam. Anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa mungkin mengalami demam demam ringan, atau penyakit demam tinggi melumpuhkan yang timbul mendadak, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, serta ruam.
Dilansir dari Kemenkes RI, dalam beberapa tahun terakhir, kasus demam berdarah lebih sering ditemukan di musim pancaroba, khususnya di awal tahun bulan Januari. Selama kurun waktu 2013-2014, ada 184.179 kasus DB di Indonesia dan 1.500 di antaranya meninggal dunia.
3. Leptospirosis
Leptospirosis adalah infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri leptospira dan ditularkan oleh hewan. Sumber utama penularan leptospirosis di Indonesia adalah tikus. Penyakit ini adalah satu-satunya infeksi rawan epidemi wabah yang dapat ditularkan secara langsung melalui air yang tercemar. Bakteri memasuki tubuh lewat kulit, melalui luka memar dan terbuka atau melalui mata yang bersentuhan dengan air kotor genangan banjir.
Gejala leptospirosis dapat berkisar dari sakit kepala ringan, nyeri otot, dan demam hingga pendarahan hebat di paru-paru. Dalam beberapa kasus, bisa tidak muncul gejala sama sekali. Jika tidak segera diobati, leptospirosis dapat menyebabkan kerusakan ginjal, meningitis (radang selaput otak dan sumsum tulang belakang), penyakit pernapasan, gagal hati, dan bahkan kematian.
4. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi yang terjadi pada saluran pernapasan seperti hidung, tenggorokan, atau paru-paru. Gejala utama dapat berupa gejala flu umum, batuk dan demam yang dapat disertai sesak napas atau nyeri dada.
Biasanya infeksi ini disebabkan oleh virus, bakteri atau organisme lain yang datang dari lingkungan tak sehat. ISPA bisa dengan mudah ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara, dan lainnya.
5. Malaria
Genangan air disebabkan oleh hujan deras atau luapan sungai dapat bertindak sebagai tempat berkembang biak nyamuk, dan karena itu meningkatkan potensi paparan dari populasi korban bencana dan tenaga sukarelawan terhadap infeksi seperti demam berdarah, Japanese encephalitis, dan malaria. Penyakit yang ditularkan nyamuk sulit untuk dicegah, terutama selama bencana.
Gejala malaria termasuk demam, menggigil dan kelelahan. Jika tidak diobati, malaria dapat berakibat fatal karena mengganggu pasokan darah ke organ vital. Kabar baiknya, permasalahan malaria di Indonesia saat ini cenderung menurun lumayan drastis. Pada tahun 2010, di Indonesia terdapat 465.764 kasus positif malaria dan angka ini dilaporkan menurun pada tahun 2015 menjadi 209.413 kasus. Selain itu, sekitar 74% penduduk Indonesia kini hidup di daerah bebas penularan malaria.
6. Demam tifoid (tipes)
Sekadar mengingatkan, demam tifoid (tipes) tidaklah sama dengan tifus yang selama ini kita pahami. Demam typhoid (tipes) adalah infeksi usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella dalam feses atau kotoran binatang, yang menginfeksi manusia melalui air dan makanan yang tercemar. Tifus adalah penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri Rickettsia, tidak ada di Indonesia.
Demam tifoid biasanya ditandai dengan sakit kepala, mual, demam berkepanjangan, kehilangan nafsu makan, bahkan diare. Berdasarkan data Kemenkes, angka penderita demam tifoid di Indonesia mencapai 81% per seratus ribu jiwa.
7. Penyakit kulit
Penyakit kulit, dapat berupa infeksi, alergi atau bentuk lain pada musim banjir maka masalah utamanya adalah kebersihan yang tidak terjaga baik. Siapkanlah obat alergi kulit dan antiseptik cair di rumah untuk mengantisipasi jika kemungkinan terjadi banjir.
8. Radang paru (pneumonia)
Pneumonia adalah penyakit radang infeksi akut yang mengenai satu atau kedua paru-paru. Kantung udara dapat dipenuhi cairan atau nanah, menyebabkan batuk berdahak atau nanah, demam, menggigil dan kesulitan bernapas. Berbagai organisme, termasuk bakteri, virus dan jamur, dapat menyebabkan pneumonia.
Pneumonia umumnya tidak berbahaya. Namun, penyakit ini bisa saja menyebabkan kematian jika menyerang orang berusia lanjut atau bayi, serta orang dengan kekebalan tubuh lemah.
Selain delapan penyakit di atas, penyakit lain yang harus Atmaguys waspadai termasuk hipotermia, tetanus, Hepatitis A, penyakit kulit, penyakit yang dibawa oleh kutu dan tungau, hingga perburukan penyakit kronis yang mungkin sudah diderita. 
Untuk itu, persiapkan berbagai macam obat obatan dan antiseptik keluarga di rumah, serta bangunlah kondisi posko pengungsian yang bersih dan bebas dari hewan-hewan pengerat. Mulailah untuk mengajak tetangga melakukan 3M (Menutup, Menguras, Mengubur) dan membersihkan selokan air yang mulai tersumbat oleh sampah. Jangan lupa juga untuk senantiasa menjaga kesehatan diri dan keluarga dengan rutin mengkonsumsi makanan bergizi dan olahraga rutin. #SiapSiagaBanjir #WargaSiaga #WargaBantuWarga
Sumber :
https://www.rappler.com/indonesia/gaya-hidup/162087-penyakit-musim-banjir
Aplikasi Halo Doc
Aplikasi Alodokter
Sudah dilihat 32 kali

Komentar