Mari Melihatnya dengan Mata Fitrah

34319 medium fb img 1538397584928 1
Kemarin, ya…baru kemarin, kita di Lombok mau tidak mau meletakkan tangan dibawah, berharap, menunggu bahkan meminta bantuan saudara-saudara kita di belahan bumi Allah yang yain. Kini, ketika luka kita sudah terbalut meski tak serapi yang diharapkan, karena nyerinya masih sering terasa, luka baru menganga lebih parah dari yang kita derita, saudara-saudara kita di Palu merasakan luka lebih ngeri dari yang kita pernah rasakan. Gempa yang datang dengan menggandeng sunami, membuat tangis kembali tumpah ruah diwajah negeri. Menurut data sementara korban meninggal yang dirilis ACT tanggal 1 oktober 2018 pukul 05.00 pagi menyentuh 1.203 jiwa, bahkan akan semakin bertambah, karena tidak sedikit korban yang belum berhasil dievakuasi.

Kematian adalah sesuatu yang wajib terjadi pada makhluq yang bernyawa, akan tetapi jalan yang dilalui ketika sampai kepada kematian itu berbeda-beda. Ada yang meninggal karena sakit, meninggal karena kecelakaan lalu lintas, meninggal dengan sebab bencana alam dan tidak sedikit yang meninggal dalam kondisi sehat beberapa menit sebelumnya, lalu untuk menyederhanakan diagnosa dokter mengatakan itu karena serangan jantung tiba-tiba.

Kematian karena bencana alam adalah kematian yang paling mengerikan bagi sebagian besar orang, karena jumlah korban yang biasanya sangat banyak, juga karena bencana alam adalah musibah yang temasuk misteri, tak tahu kapan dan dimana akan terjadi dan seberapa besar kekuatan bencana, sampai saat ini belum ada yang bisa memprediksikan dengan detail, hanya bisa diketahui setelah terjadinya.

Orang beriman akan menyikapi sebuah bencana sebagai suatu keharusan dalam sifat Allah, jika Allah berhendak, tidak ada yang mustahil dalam kehidupan ini. Ahli geografi akan menjelaskan tentang penyebab bencana alam sesuai dengan keilmuannya, tidak salah, karena Al-Qur’an juga banyak menjelaskan tentang alam semesta berserta aktifitasnya. Beberapa diantaranya dalam Al-Qur’an Surat Al-zalzalah, surat An-Naml dan surat-surat lainnya.

Tentang bencana alam berupa gempa bumi, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, ad daruquthni dan lainnya dari utsman bin affan bahwa beliau berkata: “Apakah kalian tahu bahwa rasulullah pernah berada di atasa gunung Tsabir di Mekkah, bersama beliau ada Abu bakar , Umar dan saya (Utsman bin Affan), tiba-tiba gunung berguncang hingga bebatuan berjatuhan, maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata: tenanglah Tsabir, yang ada diatasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid”. Ada juga hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata: “Tenanglah Uhud, yang diatasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid”

Dari hadits ini memberikan gambaran kepada kita bahwa bumi tidak pantas bergetar ketika diatasnya masih didiami oleh orang-orang sholeh. Orang sholeh yang menurut hadits diatas mempunyai kriteria Nabi, Shiddiq dan syuhada. Lalu kalau sekarang bencana alam berupa gempa bumi bahkan dibarengi tsunami terjadi di wilayah kita, apakah itu pertanda memang bumi sudah pantas bergetar? Dalam artian karena di bumi ini isinya tidak ada lagi tiga kriteria yang disebutkan dalam hadits itu? Saya rasa tidak demikian adanya kawan, Sang junjungan Alam, memberi Ibrah untuk menghentakkan kaki ke tanah ketika terjadi gempa, dengan sebuah intruksi kepada bumi bahwa punggungnya masih didiami oleh seorang Nabi, Shiddiq dan syuhada. Lalu umatnya kini haruskah berkecil hati dalam upaya untuk berkasih dengan bumi? Mengingat di Lombok tidak ada lagi Nabi, di Palu tidak ada Abu Bakar ash shiddiq, Umar bIn khattab dan juga Utsman Bin Affan? Tidak,,,jangan berkecil hati kawan, tak pantas itu. Mari kita maksimalkan kemampuan fikir dan juga zikir kita, Nabi kita secara tidak langsung mengingatkan kita, jika bumimu Lombok berguncang, ketika tanah Donggalamu mengamuk, katakan padanya “hentikan guncanganmu wahai bumi, pewaris para Nabi masih berdiam dipunggungmu, penerus keshiddiqan Abu Bakar masih ada disini, orang-orang sholeh sekuat Umar dan sebijak Utsman masih ada disini. Ya…katakan dan buktikan bahwa kita sanggup menjadi pengamal ajaran Nabi, istiqomah menjadi penerus Abu Bakar yang meyakini Islam tanpa Ragu, meyakini Islam walau tanpa embel-embel lain, pantang menyerah mewarisi kekuatan Umar dan kesantunan Utsman, sanggup berkata tidak untuk kezaliman, dihadapan tuan penguasa negeri sekalipun dan siap menjadi syuhada, tak takut mati demi membela agama, bukan menjual agama demi jaminan untuk tetap hidup.

Mari kawan, mulailah dari diri kita sendiri, amalkan ajaran Baginda Nabi supaya tangguh kaki ini menghentak tanah, ketika guncangan menghantam. Mari contohi keshiddiqan Abu Bakar, yang meyakini kebenaran ajaran Islam tanpa ragu, Islam ya Islam tanpa embel-embel apapun. Jadikan ketegasan Umar dan kearifan Ustman sebagai cermin, tegas menyalahkan yang salah namun arif menyikapi perbedaan sebagai sebuah Rahmat bagi alam dan yang terakhir mari berazam untuk syahid dijalanNYA, syahid dalam artian yang luas, salah satu makna syahid yang dijelaskan oleh para Ulama, yakni orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan. Mari kawan jadilah agen of change, untuk kembali kepada fitrah kita, sehingga terciptanya sebuah tatanan spiritual dimana bumi belum pantas berguncang hingga kelak guncangan yang datang sebagai closing for story telling bagi kehidupan dunia.
Wallahu A’lam.
Sudah dilihat 97 kali

Komentar

  • 11710 new thumb img 20180625 094147

    Allah tau akan hambax mampu menerima semua cobaan ini, dan Allah tidak akan memberikan semua cobaan di luar batas kemampuan hambanya,......

  • Missing avatar

    semoga Badai pasti berlalu.... krna musibah nggak ada yang bisa prediksi,astagfirullah la haula wala quwwata illa billah....