Literasi di Tengah Keberagaman Reaksi

68309 medium post 72492 dffbd466 3ec5 43c8 bf07 2037927d9689 2019 07 30t16 48 38.614 07 00
Kamu tau literasi?. Kemarin sebelum saya paham betul dengan literasi, seseorang malah menuduh saya aktivis literasi di Kota Bekasi. Padahal belum sempat saya menanyakan alasan, dengan lantang beliau berkata "Abang Rajin share tulisan, bahkan terkadang abang seneng banget ajarin anak-anak baca".
Kemudian muncul tanya dalam hati.
"Hey, dari mana dia tau saya senang mengajari anak-anak membaca?." Terlepas dari pertanyaan saya sendiri, mungkin keterlibatan sebagai seorang pengajar dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia mengacu pada pendapat orang tersebut. Apa saya bangga? Justru ini yang kerap menimbulkan rasa takut tersendiri, jujur jika menyeret nama-nama manusia yang aktif dan gencar-gencarnya berliterasi, saya bisa ajak dia mengenal Bang Bayu, si pemilik Perpustakaan Jalanan Bekasi, ada pula Umi Aam Siti Aminah yang punya rumah baca di Vida Bekasi, lebih jauh ada Bang Tria dan kawan-kawan di Rumah Pelangi Bekasi, atau suhunya Bang Bisot. Jika mau melangkah lebih jauh bisa bertemu Kakak Renita di Gerakam Suka Baca Depok, semakin jauh ada Pak Dosen, yakni Pak Syarifudin pemilik Taman Baca Masyarakat Lentera Pustaka di Bogor. Beliau juga yang sejatinya memberi racun literasi hingga akhirnya keterlibatan nama-nama di atas selainnya hadir plus penuh keberkahan luar biasa.
Kembali ke pokok permasalahan, ini tentang pegiat literasi yang dibicarakan lelaki muda itu terhadap saya. Jujur mengemban itu saya sangat senang, tapi semakin ke sini, rasa takut semakin kian hadir. Belum lagi ketika melirik info yang diberikan tirto.id. info darinya menjelaskan tentang penangkapan aktivis literasi, yakni dua mahasiswa yang tergabung dalam komunitas vespa literasi ditangkap Polsek Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur. Ini terjadi setelah mereka membawa buku biografi Dipa Nusantara (DN) Aidit di lapak baca gratis yang digelar di Alun-alun Kraksaan. DN Aidit adalah seorang pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI). Kedua mahasiswa itu ditangkap pada Sabtu (27/7/2019) malam.
Sebelum jauh memberi informasi dari tirto.id, saya coba jelaskan terlebih dahulu apa yang pernah saya alami. Dahulu ada seseorang mengatakan kepada saya, saya lupa namanya yang jelas dia seorang mahasiswa di salah satu kampus swasta jakarta.
"Natasha, buku apa itu Bang?, wah porno kayanya tuh" diliriknya cover buku bergambar bagian paha wanita mengenakan rok pendek yang masuk ke dalam keranjang belanja dengan bandrol harga. Sekilas jika melihat cover buku tersebut, akan sangat mudah digambarkan jika gambar yang ditampilkan sangatlah mengarah pada pornografi, tapi jika habis membacanya, rupanya buku tersebut malah menceritakan kisah jual beli wanita di dunia oleh seorang jurnalis bernama Victor Malarek. Dari sini saya paham betapa mudahnya manusia menduga sesuatu tanpa kebenaran, dan hebatnya memperkuat dugaan tersebut tanpa berani menyelidiki kebenarannya. Berlanjut kembali dengan kasus penangkapan dua mahasiswa. Jika merujuk ke kasus ini padahal jelas Razia buku atau pengamanan barang-barang cetakan secara sepihak tak lagi diperbolehkan sejak keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi pada 2010 yang mencabut Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum.
Bahkan lebih jauh lagi Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati mengkritik keras tindakan Polsek Kraksaan, Probolinggo tersebut. Sebab, kata Asfin, pelarangan atau sweeping buku sudah tidak diperbolehkan lagi menurut hukum Indonesia. "Sweeping buku sudah tidak ada lagi berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi," kata Asfin saat dihubungi wartawan Tirto, pada Senin (29/7/2019).
Mengenai apakah benar buku tersebut berbahaya dibaca oleh masyarakat, itu kembali pada peraturan hukum yang berlaku. Khawatir jika ternyata buku yang jadi barang bukti justru buku-buku yang malah sangat berguna, tapi jika kenyataanya memang berbahaya semoga saja ada penjelasan terkait bagaimana bisa buku tersebut berbahaya untuk dibaca, atau setidaknya ada penjelasan yang mudah dipahami agar pegiat literasi bisa sedikit bernapas lega. Sebab ini bukan hanya tentang peradilan, tapi ada kebiasaan yang harus terus menerus dilakukan agar segala bentuk pengetahuan bisa masuk ke masyarakat luas, baik anak kecil, remaja, dewasa dan lansia.
Adapun respons Dosen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Robertus Robert yang mengkritik razia buku beberapa waktu lalu di Padang dan Kediri. Ia menilai, aparat yang kerap merazia buku harus banyak membaca agar tahu informasi terkini dan isi buku-buku yang ingin dirazia. “Baiknya juga aparatnya diberi sanksi dengan disuruh membaca dan mendiskusikan hasil bacaannya kepada publik. Jangan lupa tentaranya suruh baca,” kata dia.
Salah satu pegiat perpustakaan jalanan asal Indramayu, pria berusia 28 tahun yang akrab disapa Ahonk memberikan tips kepada para seluruh pegiat perpustakaan jalanan di Indonesia agar lebih banyak membaca aturan hukum yang telah melarang razia buku dan siap berargumentasi ketika dihadapkan kepada aparat yang sewenang-wenang. "Karena teman-teman banyak yang belum tahu juga adanya putusan itu," kata dia.


Sumber: tirto.id
Baca selengkapnya di artikel "Razia Buku Sudah Dilarang, Kok Pembawa Buku DN Aidit Ditangkap?", https://tirto.id/eff1.
Sudah dilihat 114 kali

Komentar