Laporan dari warga di Bodetabek

60801 medium post 66416 2ece6f85 16b9 4e15 b51c 9ef4660c021e 2019 05 10t14 43 00.827 07 00
Ada kebaikan di bulan Ramadan, selain pahala yang dilipat gandakan, umat muslim juga dituntut untuk berpuasa selama kurang lebih 30 hari sebelum idul fitri tiba. Kegiatan-kegiatan pun kian bertambah dan spesial di bulan ini. Ada solat tarawih, ada waktu santap sahur, waktu berbuka puasa, ada pula kegiatan membangunkan warga dengan beduk atau iringan suara dari benda-benda tertentu dibareni dengan ucapan "sahuur..sahur...". Tapi lebih dekat dari itu, saya sempat menemukan polemik di bulan suci ini, yakni penutupan atau seolah penolakan penjual masakan siap saji semisal warteg beroprasi.
Saya mendengar saat awal ceramah, ustadz di masjid yang ketika itu berucap sebelum solat tarawih dimulai, beliau berkata.
"Puasa adalah menahan diri dari rasa haus dan lapar". Masih belum mengerti, saya coba untuk mengetahui dan mengerti lebih jauh makna puasa. Dari laman m.liputan6.com tertulis "Pengertian puasa Ramadhan menurut syariat Islam adalah suatu amalan ibadah yang dilakukan dengan menahan diri dari segala sesuatu seperti makan, minum, perbuatan buruk maupun dari yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat karena Allah SWT, dengan syarat dan rukun tertentu."
Di sini saya tidak terlalu paham, tapi ada satu kalomat yang sering terdengar, yakni "menahan". Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ditarik kata dasar "tahan" yang artinya tetap keadaanya (kedudukannya dan sebagainnya) meskipun mengalami berbagai-bagai hal;tidak lekas rusak (nerunah, kalah, luntur, dan sebagainnya).
Dari penjelasan ini, apakah sama arti menahan dan melarang?, kenapa saya bilang melarang?. Ini mengacu pada persepsi beberapa orang, salah satunya Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya. Dari informasi yang diberikan kompas.com lewat judul (Rumah Makan di Lebak Dilarang Buka Siang Hari Selama Ramadhan, Ini Alasannya). Pemerintah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, menerbitkan surat edaran mengenai larangan bagi rumah makan buka siang hari selama Bulan Ramadhan.
Beliau katakan larangan tersebut untuk jaga konsentrasi warga yang berpuasa.
"Surat edaran sudah disampaikan ke masyarakat, pengusaha makan tidak boleh buka siang hari, Allah sudah kasih rejeki selama 11 bulan, sebulan ini kita konsentrasi ibadah," kata Iti di Pendopo Kabupaten Lebak, Kamis (2/5/2019).
Lalu?, bagaimana dengan mereka yang tidak berpuasa, semisal wanita haid/menstruasi, orang yang tidak dalam keadaan/kesehatan baik untuk berpuasa, yang lapar dan membutuhkan makan? Lebih jauh lagi, bagaimana dengan warga yang bukan beragama islam, saya menyebutnya Non muslim?.
Pelarangan dan menahan bukankah sangat jauh berbeda jika dipaksa untuk memiliki arti yang sama, dan tidak akan mungkin bisa?.
Jujur saya belum terlalu paham maksud menahan dan melarang, di sini saya hanya melihat bagaimana sulitnya nasib para penjual makanan siap saji yang harus terhenti mengais rejeki, atau menutup-nutupi warung jualannya agar orang lain tidak menyadari jika warungnya buka. Mereka pun butuh berlebaran, dan mereka juga butuh oleh-oleh untuk nantinya di bawa pulang ke kampung halaman.
Saya pikir jika berniat untuk puasa tanpa ada embel-embel apapun selain atas keikhlasan serta keserahan dan niat baik kepada Allah SWT, tentu iman akan senantiasa menuntun hawa nafsu agar tidak tergoda. Saya hanya berharaf semoga Ramadan bulan yang penuh berkah untuk para penjual makanan siap saji, dan semoga berkah kebaikan juga sampai pada umat-umat non muslim, agar mereka bisa benar-benar melihat jika islam adalah agam yang sangat mulia, penuh kebaikan di dalamnya.
Tulisan ini hanya pendapat dari beberapa orang, jika tidak menyukai. Mohon di maklumi dan hargai cara pandang manusia Kejadian ini dilaporkan terjadi di sekitar ,Bodetabek , warga yang saat ini berada di sekitaran lokasi ini dihimbau untuk berhati hati dan selalu waspada . Segera hubungi 112 jika membutuhkan pertolongan. Ini merupakan laporan yang di sampaikan oleh warga yang berada di sekitaran ,Bodetabek .
Sudah dilihat 59 kali

Komentar