Kopi Kalisidi Dipasarkan Secara Online

22238 medium data?1519891838
Dikenal sejak Zaman Kolonial
UNGARAN- Potensi kopi dari Desa Kalisidi, Ungaran Barat, mulai dipasarkan online melalui media sosial dan di laman resmi Pemerintah Desa Kalisidi. Upaya tersebut ditempuh, agar masyarakat penikmat bisa memperoleh kopi dengan mudah dan cepat. Kades Kalisidi, Dimas Prayitno Putra mengatakan, selain diolah alami tanpa campuran, kopi khas Gunung Ungaran ini juga memiliki rasa yang khas. ’’Biji kopi dipetik langsung dari kebun milik warga di lereng Gunung Ungaran.

Ada cita rasa buah nangka di dalam kopi ini, kami menyebutnya kopi nangka. Mungkin karena pohon kopi mayoritas ditanam berdekatan dengan pohon nangka yang banyak tumbuh di sini,’’kata dia, Rabu (28/2).

Atas kesepakatan musyawarah desa, kopi yang dijual dalam bentuk kemasan bubuk tersebut diberi label ’’Kobuka’’. Terlepas dari itu, imbuh Dimas, pemasaran kopi ini masih terbatas. Menyusul tingkat produksi biji kopinya hanya mengandalkan panen warga setempat. Demikian halnya dengan pengolahannya juga masih sangat sederhana. ’’Dari penjualan secara online, beberapa penikmat kopi dari luar wilayah terpantau sudah memesan. Di antaranya dari Kalimantan, Malang, dan Yogyakarta,’’jelas Dimas.

Ditanya ide pembuatan Kobuka, kades muda ini memaparkan, hal itu berawal dari kesepakatan para perangkat desa yang ingin mendapatkan produk khas desa. Usaha yang dirintis sekitar enam bulan lalu ini didukung dengan dana swadaya dari 21 perangkat desa. ’’Masih sangat sederhana, kami juga mengakui mutu kopi robusta di sini bukan nomor satu. Namun cita rasa kopi nangka dari bubuk asli itulah yang menjadi andalan untuk disajikan kepada penikmat kopi,’’ucapnya.

Dimas menandaskan, kopi dari Desa Kalisidi ini sudah terkenal sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda. Ketika itu kopi menjadi salah satu tanaman produktif yang ditanam di kebun-kebun milik pemerintahan kolonial serta di tanah pekarangan warga. Seiring dengan perkembangan zaman dan permintaan pasar, tanaman kopi kalah pamor dengan tanaman cengkih. Apalagi saat itu cengkih menjadi salah satu komoditas rempah yang sangat laku di pasar Eropa, sehingga pemerintahan kolonial mengurangi tanaman kopi dan menggantinya dengan cengkih.

selengkapnya, baca di:
http://www.suaramerdeka.com/smcetak/detail/36365/Kopi-Kalisidi-Dipasarkan-secara-Online
Sudah dilihat 86 kali

Komentar