Kolam-Kolam Penampung Air akan Dibangun di Utara Bandung

63975 medium jepretan layar 2019 06 17 pada 12.33.09
Pemerintah Kota Bandung akan menambah kolam penampung air di beberapa titik di utara Kota Bandung. Kolam-kolam itu akan difungsikan sebagai penahan laju air dari kawasan utaran Kota Bandung di saat musim penghujan.

Sama dengan jenis kolam penampung yang tengah dibangun di Cisurupan, kolam-kolam yang dibangun dibuat sederhana dengan biaya rendah. Untuk menekan kebutuhan anggaran, target pemilihan lokasi kolam juga akan mengutamakan pemanfaatan lahan milik Pemerintah Kota Bandung.

“Kita sedang terus cari, karena ada juga yang sekarang posisinya pertanian, mudah-mudahan ada lahan tambahan untuk parkir air. Kita masih menginventarisir. Berdasarkan gravitasi, (kolam di utara Bandung) itu relatif lebih gampang. Kita cari yang cepat,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung Didi Ruswandi, di Bandung, Minggu, 16 Juni 2019.

Saat ini, Pemkot Bandung tengah fokus menangani banjir di wilayah Bandung Timur, khususnya daerah Cibiru, Gedebage dan sekitarnya. Salah satu upayanya yakni dengan membangun Taman Wisata Air (Wetland Park) Cisurupan yang terletak di Jalan Cilengkrang 1 RW 08, Kelurahan Cisurupan Kecamatan Cibiru Bandung.

Wetland Park Cisurupan merupakan fungsi tambahan ruang terbuka hijau dari area penampungan air hujan sementara, yang bersumber dari Sungai Ciloa. Saat ini sedang dicari lahan pemkot yang memang peruntukannya untuk ruang terbuka hijau dan berada di pinggir sungai.

“Cisurupan juga di pinggir Sungai Ciloa. Karakter sungainya kalau musim kemarau airnya relatif sedikit. Kalau musim hujan cukup besar. Jadi memang efektifnya (posisi kolam) di (daerah) atas supaya beban ke bawah berkurang. Kalau musim kemarau bening airnya. Jadi Bahasa Indonesia mah rawa, kalau di Bahasa Sunda mah ranca,” ujarnya.

Karena DPU Kota Bandung tidak memiliki anggaran khusus, kata dia, mereka kerja bareng Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Pertamanan (DPKP3) Kota Bandung. Alat disediakan DPU, personel ditambah DKPP3. Penggunaan material yang tersedia hanya untuk perkerasan jalan inspeksi sebagai jalur pemeliharaan.

“Kita konsepnya lebih ke natural. Jadi dengan naturalisasi tidak ada perkerasan, diliarkan saja. Tidak ada dinding beton untuk kolam. Tetapi tetap ada pintu masuk-keluar air di sungainya,” katanya.

Didi mengaku mendapat banyak tawaran kolaborasi untuk pembangunan kolam lain, termasuk dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Dalam waktu dekat ini fungsi dasar dari Wetland Park Cisurupan ditargetkan selesai. Dari lahan seluas 10 hektare itu, sebanyak 12 kolam akan dibangun di area tersebut.

“Sebelah Ciloa juga ada yang PDAM, di bawahnya, itu lahan kita juga. Jadi mungkin kalau ini beres bisa beralih (pembangunan kolam) ke situ juga,” ujarnya.

Didi menuturkan, parkir air itu ditujukan untuk mengurangi luapan banjir ke arah Gedebage dan sekitarnya. “Jadi saat musim hujan, fungsinya sebagai penahan air menuju Gedebage. Di saat musim kemarau, fungsinya sebagai tempat cadangan air,” katanya.

Pengerjaan fungsi dasar (basic function) Wetland Park itu mengerahkan 60 tenaga lapangan DPU meliputi Tenaga Pasukan Katak, petugas Jaga Pintu Air, serta tenaga lapangan Unit Reaksi Cepat. Ia menargetkan pekerjaan kolam parkir air itu akan rampung akhir Agustus 2019 mendatang.

“Untuk arsitekturnya nanti akan digarap setelah basic function selesai. Basic function yang selesai akhir Agustus ini menjadi fungsi dasar Wetland Park Cisurupan, bisa dipakai menampung Parkir Air Hujan Sungai Ciloa,” ujar Didi.

Selain menjadi area penampungan air, area Wetland Park Cisurupan akan jadi salah satu destinasi wisata Kota Bandung. Harapannya kehadiran wisata air di kawasan tersebut bisa turut meningkatkan potensi ekonomi warga. Pembangunan Wetland Park Cisurupan itu juga mempertahankan utilitas yang sudah ada sehingga tidak mengganggu aktivitas warga

Sumber: Pikiran Rakyat Online https://bit.ly/2KR6hNH
Sudah dilihat 30 kali

Komentar