KETIKA GRAND MASTER ITU BERPULANG,... SELAMAT JALAN GM ARDIANSYAH,...!!!

17931 medium fb img 1509362067610
Mengapa Negara Tidak Peduli Kepada Anak Bangsanya?

Tangga-tangga besi di blok 77 menuju lantai 4 rumah susun Klender, Jakarta Timur menjadi saksi. Lelaki itu turun dan naik setiap kali. Makin menua makin susah ia menapaki. Nafasnya kerap tersengal. Kakinya tak kuat lagi menjejak. Bergetar tangannya mencoba menahan pegangan. Tak banyak tetangga rumah susun blok -blok lain yang tahu kiprahnya, siapa lelaki itu?

Rumah susun Klender, Kamis, 26 Oktober 2017 lalu sepi. Kami datang, ia terbaring, berkaus singlet dan sarung. Wajah tua, lelah, pucat pasi, tersenyum lemah. Dua bulan ini kondisinya terus menurun. Tumor usus dan kanker hati menggerogoti ketahanannnya. Tak banyak yang mengenal lelaki tua ini. Meski namanya tercantum di dunia, Grand Master (GM) Ardiansyah.

Lelaki kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 5 Desember 1951 ini salah seorang pendekar catur yang pernah dimiliki Indonesia. Gelar Grand Master itu ia peroleh pada Olimpiade Catur di Lucerne, Swiss, 1982.

Grand Master tua ini termasuk paling aktif ikut turnamen lokal (tingkat nasional) di Indonesia, bukan sekadar untuk eksistensi profesinya saja. Pendapatannya memang hanya dari sana. Dia begitu mencintai catur, penyangga hidupnya. Cukup tak cukup adalah perjuangan tanpa ujung.

Hari tuanya melayu, seperti kebanyakan atlet tua lainnya. Kebutuhan bertambah, pendapatan makin sulit mengejar. Lupa semua saat mereka membawa nama Indonesia, mengibar-ngibarkan bendera Merah Putih di banyak negeri orang. Harum membawa nama negara, tua belum sejahtera.

Abah, begitu Haji Ardiansyah akrab disapa, pernah mengatakan, "Saya sudah tua dan saya rasa tinggal saya sendiri grand master tua yang masih tersisa, yang lain telah tiada. Terus terang saya berharap pemerintah mau memperhatikan kami serta atlet-atlet tua cabang olah raga lainnya untuk mendapatkan sedikit kesejahteraan hidup," kata pecatur tua ini memelas.

"Kalau saya kebetulan masih bisa ikut turnamen dan dapat hadiah kalau menang, tapi itu juga tidak terlalu cukup bisa diandalkan jika tidak memiliki pekerjaan lainnya. Apalagi mantan atlet yang saat ini tidak memiliki pekerjaan, hidupnya akan lebih sulit," kata dia.

"Di Filipina, seorang GM bisa mendapatkan tunjangan hidup mencapai Rp10 juta per bulan, kalau dirupiahkan, begitu juga di Cina, pemerintahnya sangat memperhatikan nasib para mantan atlet yang telah ikut mengharumkan nama negara," kata dia, satu ketika.

Abah, Sabtu, 28 Oktober 2017 berpulang. Ia meninggalkan seluruh harapannya itu, perhatian pemerintah pada mantan atlet yang mengharumkan nama bangsa tak terwujud sampai nafas terakhirnya. Di rumah susun Klender, ia menghabiskan masa tuanya. Di ruangan kecil itu ia pernah hidup dengan kebanggaan dan piala-pialanya, berhias medali-medali atas nama Indonesia.

Semua telah terkubur bersama harapannya. Hujan mengiringi kepergiannya. Terlunta-lunta benar pahlawan bangsa "mbelgedes" ini.
Sudah dilihat 122 kali

Komentar