Kepemimpinan Kepala Sekolahnya Manusia Terhadap Peningkatan Disiplin Guru dalam Mengajar di Kelas

41656 medium post 48779 4786909d dd50 43bb 8aa6 5d9dfeba9335 2018 12 05t11 10 16.251 08 00

Kepemimpinan Kepala Sekolahnya Manusia Terhadap Peningkatan Disiplin Guru dalam Mengajar di Kelas

Fathurrohman

SMP NEGERI 4 PUJUT

Jl. Tanak Awu-Pengembur, Desa Pengembur Kecamatan Pujut 83573

fathurrohman.mpd@gmail.com

Abstract

This study aims to determine the effectiveness of the application of the leadership concept of the human’s principal to the improvement of teacher discipline in teaching in SMP Negeri 4 Pujut. The dominant research data resulted from observation activities which then analyzed using qualitative approach. It is known that teacher discipline in classroom teaching has significant improvement in every observation stage (pre study 68,41, cycle I 80,90 and cycle II 83,90). This means that the application of the concept is effective to encourage the improvement of teacher discipline. To be more leverage, it is suggested that teachers continue to improve discipline in teaching in class with sincerity, responsible and without waiting for reprimand from the principal. For the principal, it is expected to try to research and apply the concept of leadership of the human’s principal of in other areas of the school.

Keywords: leadership of the human’s principal, teacher discipline, classroom teaching

PENDAHULUAN

Guru adalah profesi, bukan pekerjaan. Keprofesionalan guru terkait utuh dengan berbagai faktor yang ada di dalam sekolah maupun luar sekolah. Salah satu faktor yang sangat menentukan semangat dan keprofesionalan guru adalah kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor yang paling urgen dalam menunjang tercapainya tujuan sekolah. Keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola kegiatan sekolah dan membina guru ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Apabila kepala sekolah mampu menggerakkan, membimbing dan mengarahkan guru secara tepat, segala kegiatan yang ada di sekolah akan dapat terlaksana secara efektif sehingga pencapaian tujuan dapat diupayakan dan harapkan secara optimal. Kepemimpinan kepala sekolah yang baik dapat membuat guru menjadi percaya, loyal dan termotivasi untuk melaksanakan tugas sekolah. Untuk itu, keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dapat dilihat dari kinerja guru. Salah satu faktor yang menunjukkan kinerja guru adalah semangat kerja.

Selain itu kepemimpinan kepala sekolah dirasakan penting dalam menciptakan suasana kerja kondusif di sekolah. Seorang guru membutuhkan suasana kerja yang menyenangkan agar semangat dan kreativitasnya tumbuh dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Agar situasi menyenangkan tercipta di sekolah, kepala sekolah harus dapat menjadi contoh untuk guru, pegawai dan peserta didik. Akhlak kepala sekolah memancar menjadi inspirasi bagi guru dalam melaksanakan tugasnya. Tidak hanya itu, kepala sekolah harus bisa memberikan motivasi kepada guru. Guru yang termotivasi tidak terlalu merasa terhalang oleh terbatasnya fasilitas pembelajaran di sekolah. Untuk itu kepala sekolah harus terus memberikan dorongan kepada guru. Tugas kepemimpinan seperti memberikan motivasi, menjadi contoh dan tauladan di sekolah, peduli kepada kondisi guru adalah bagian dari ciri kepemimpinan kepala sekolahnya manusia.

Kepemimpinan kepala sekolahnya manusia merupakan pendekatan kepala sekolah yang biasa dilakukan kepala sekolah selama ini. Istilah manusia adalah istilah yang dapat memberikan penekanan kepada kepala sekolah bahwa yang dia pimpin adalah gurunya manusia, bukan guru robot atau mesin. Guru mesin atau robot dapat bekerja persis seperti aturan atau perintah kepala sekolah, tanpa diberikan ruang untuk berkeluh kesah dalam bekerja, apalagi melanggar perintah kepala sekolah. Jadi profil kepala sekolahnya manusia itu sangat sederhana dan tidak mustahil untuk dilakukan dan diraih. Kepala sekolahnya manusia adalah kepala sekolah yang fokus kepada kondisi guru dan pegawai. Semakin banyak data dan informasi tentang kondisi guru, semakin memudahkan kepala sekolah mengarahkan dan mengkondisikan guru. Kepala sekolahnya manusia memandang setiap guru adalah orang yang professional dalam melaksanakan tugasnya, mengajar dengan hati dan mengartikan kemampuan peserta didiknya dalam arti yang luas dan menjadi sosok yang menyenangkan bagi siswanya. Kepala sekolahnya manusia menghindari prasangka kurang baik kepada guru, tetapi sebaliknya yakin bahwa guru dapat bekerja dengan baik di bawah pembinaan dan pengayoman kepada guru.

Salah satu indikator keberhasilan kepala sekolahnya manusia adalah guru di sekolah disiplin dalam mengajar di kelas. Fakta menunjukkan bahwa disiplin guru sering tidak maksimal dalam proses mengajar, misalnya sering jam kosong atau tidak sesuai waktu yang ditentukan. Sastrohadiwiryo (2003) menyatakan bahwa disiplin kerja dapat didefinisikan sebagai suatu sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak untuk menerima sanksinya apabila melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Disiplin mempunyai peranan penting dalam pendidikan, digunakan terutama untuk memotivasi guru agar mendisiplinkan diri serta mampu meraih prestasi kerja dalam melaksanakan pembelajaran, baik perorangan maupun kelompok. Guru yang mempunyai tingkat kedisiplinan tinggi akan tetap bekerja dengan baik walaupun tanpa diawasi kepala sekolah. Seorang guru yang disiplin tidak akan mencuri waktu kerja untuk melakukan hal lain yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Dengan kata lain harapan guru disiplin itu akan matching bila konsep kepemimpinan kepala sekolahnya manusia menjadi pendorongnya.

Kepemimpinan kepala sekolah sangat berpengaruh dalam meningkatkan semangat kerja guru dalam melaksanakan tugas. Hasil penelitian Hersey (dalam Fullan, 2001) menunjukkan bahwa ada sepuluh faktor yang mempengaruhi semangat kerja seseorang dalam melaksanakan tugasnya, yaitu kesiapan kerja, kondisi kerja, organisasi kerja, kepemimpinan, gaji, kesempatan mengemukakan ide, kesempatan mempelajari tugas, jam kerja. Di sisi lain menurut Gorton (1991) ada enam faktor yang mempengaruhi semangat kerja guru, yaitu dukungan teman sejawat, hubungan dengan pimpinan, gaji, pekerjaan dan tanggung jawab, kurangnya kesempatan berkembang, kondisi dan beban kerja yang berlebihan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik benang merahnya bahwa kepemimpinan kepala sekolah sangat berperan positif dalam meningkatkan semangat kerja guru ketika melaksanakan tugas. Tinggi rendahnya semangat kerja guru banyak dipengaruhi kepemimpinan kepala sekolah. Artinya, semakin baik kepala sekolah menerapkan kepemimpinan, semakin tinggi semangat kerja guru dalam melaksanakan tugas. Sebaliknya, semakin rendah kepala sekolah menerapkan kepemimpinan, semakin rendah pula semangat kerja guru dalam melaksanakan tugas di sekolah. Kondisi ini kemudian berhadapan dengan realitas kepemimpinan kepala sekolah yang sering terjadi, guru dianggap sebagai seorang petugas pembelajaran atau dapat dikatakan sebuah robot pembelajaran. Guru yang mendapatkan tugas pada salah satu sekolah yang sudah memiliki visi, misi dan tujuan yang sudah tersusun lengkap akan dihadapkan pada situasi berbeda yang tidak jarang berbeda dengan yang diharapkan. Seketika itu, kepala sekolah langsung men-set up semaunya, tanpa mengajak mereka merumuskan itu semua. Guru adalah manusia, ia bukanlah robot yang terbuat dari bahan mekanik yang mudah di-setting untuk mengerjakan perintah, diarahkan semaunya dan sebagainya dengan tidak manusiawi. Tugas mereka juga untuk manusia lainnya, begitu juga sekolah adalah sekolahnya manusia.

Jadi, sekolah seharusnya mengantarkan kemauan atau cita-cita bersama stakeholder, antara lain guru, peserta didik, orang tua siswa dan pihak lainnya, bukan sebaliknya. Boleh saja seorang kepala sekolah memiliki cita-cita seperti itu, namun yang patut diketahui oleh kepala sekolah bahwa lembaga pendidikan atau warga sekolah harus dapat memberikan konstribusi dalam menghantarkan cita-cita tersebut. Sebab, tidak semua guru dapat nyaman dan bisa untuk menuruti kemauan kepala sekolah. Komputer dan robot adalah contoh benda yang bisa melakukan segalanya sesuai prosedur dan harus sesuai prosedur, karena keduanya diciptakan untuk itu. Maka, jika guru dituntut harus selalu melakukan segalanya sesuai prosedur dan tidak boleh sedikitpun keluar dari prosedur tersebut, bukankah itu sebuah cara untuk menjadikan guru sebagai benda. Kondisi perkembangan pendidikan di Indonesia ini mencipta kecemasan tersendiri. Sekolah berdiri ibarat mesin yang menjadikan proses pembelajaran, target keberhasilan, hingga sistem penilaiannya didesain secara kering. Munif mengistilahkan sekolah model tersebut sebagai sekolahnya robot (Chatib, 2014).

Guru sebagai manusia memiliki kekhasan tersendiri. Guru yang satu berbeda dengan guru yang lainnya. Namun banyak sistem atau prosedur yang dibuat pemerintah justru membuat guru terbelenggu pada hal tersebut. Sehingga berdampak pada pasifnya guru, kurang kreatif, capek, bahkan kemauan untuk maju menjadi kurang bahkan hilang. Contoh sederhana adalah kewajiban guru golongan IV/a yang mau naik pangkat ke IV/b untuk membuat karya tulis ilmiah. Banyak guru yang sudah belasan tahun berada di golongan IV/a dan tidak mau berusaha untuk naik pangkat gara-gara karya tulis itu. Di satu sisi guru diwajibkan membuat karya tulis, tetapi di sisi lain guru dicekoki dengan jumlah jam mengajar yang sesungguhnya sangat berat 24 jam pelajaran seminggu. Tugas guru tidak sebatas mengajar tetapi masih ada sederetan kewajiban yang lain yang harus dilakukan. Jadi sulit bagi seorang guru untuk produktif dalam membuat karya tulis.

Dengan tugas yang begitu berat gurunya manusia mengefekkan beberapa fenomena, termasuk timbulnya tiga jenis guru yaitu guru robot, guru materialis dan gurunya manusia (Chatib, 2014). Guru robot, yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk, mengajar, lalu pulang. Mereka yang peduli kepada beban materi yang harus disampaikan kepada siswa. Mereka tidak mempunyai kepedulian terhadap kesulitan siswa dalam menerima materi. Apalagi kepedulian terhadap masalah sesame guru dan sekolah pada umumnya. Mereka tidak peduli dan mirip robot yang selalu menjalankan perintah berdasarkan apa saja yang sudah di programkan.

Guru materialis yaitu guru yang selalu melakukan hitung-hitungan, mirip dengan aktivitas bisnis jual beli atau yang lainnya. Parahnya yang dijadikan patokannya adalah hak yang mereka terima. Barulah kewajiban mereka akan dilaksanakan sebesar tergantung dari hak yang mereka terima. Guru ini awalnya merasa professional, namun akhirnya akan terjebak dalam kesombongan dalam bekerja. Sehingga tidak terlihat benefiditas-nya dalam bekerja. Selanjutnya, gurunya manusia, yaitu guru yang mempunyai keikhlasan dalam hal mengajar dan belajar. Guru yang mempunyai keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat siswa berhasil memahami materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas untuk introspeksi apabila ada siswa yang tidak bisa memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar. Sebab mereka sadar, profesi guru adalah makhluk yang tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang keinginannya kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan mengembangkan. Gurunya manusia juga manusia yang membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bedanya, gurunya manusia menempatkan penghasilan sebagai akibat menjalankan kewajibannya yaitu keikhlasan mengajar dan belajar.

Melihat kenaturalan di atas maka tugas kepemimpinan kepala sekolahnya manusialah yang akan dapat mengerti dan memahami serta dapat memberikan solusi yang terbaik. Kepemimpinan ini sangat dibutuhkan agar guru yang ada merasakan bahwa dia itu manusia yang ingin melaksanakan tugas tanpa harus dikesampingkan kemanusiaannya. Dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolahnya manusia lebih fokus kepada kondisi gurunya. Tentu kepala sekolahnya manusia memahami kondisi gurunya berdasarkan data riil yang dimiliki. Semakin banyak data dan informasi tentang kondisi guru, semakin memudahkan kepala sekolah manusia mengarahkan dan mengkondisikan guru. Kepala sekolahnya manusia memandang setiap guru adalah orang yang professional dalam melaksanakan tugasnya, mengajar dengan hati dan menjadi sosok yang menyenangkan bagi siswanya. Kepala sekolahnya manusia menghindari prasangka kurang baik kepada guru, sebaliknya yakin bahwa guru dapat bekerja dengan baik dan disiplin di bawah pembinaan dan pengayomannya.

Kata disiplin sudah sering didengar namun kata disiplin guru masih cukup jarang didengar. Salah satu hal yang sering dianjurkan oleh pemerintah dengan adanya Gerakan Disiplin Nasional dimana salah satu yang ada didalamnya adalah disiplin mengajar bagi guru. Arti disiplin sangat penting bagi kehidupan manusia. Untuk itulah harus ditanamkan secara terus-menerus supaya disiplin menjadi suatu kebiasaan.

Disiplin merupakan bentuk ketaatan serta pengendalian diri secara sadar, rasional dan tidak memaksakan perasaan sehingga tidak emosional. Sumber lain menyatakan bahwa disiplin adalah suatu perbuatan yang taat, tertib akan aturan serta norma dan kaidah yang berlaku baik dimasyarakat atau ditempat kerja. Gambaran ini memberikan pemahaman bahwa setidaknya terdapat tiga sifat yang terkandung yaitu disiplin preventif, disiplin korektif dan disiplin progresif (Wursanto, 1988). Disiplin preventif adalah tindakan guru yang mempunyai dorongan untuk mentaati standar dan peraturan yang ada. Tujuannya adalah mendorong guru memiliki disiplin pribadi yang tinggi. Sedangkan disiplin korektif merupakan tindakan yang dilaksanakan sesudah terjadi pelanggaran. Tindakan untuk mencegah munculnya pelanggaran lebih lanjut dengan cara memberi hukuman. Disiplin progresif itu merupakan tindakan hukuman yang lebih berat dari kedua disiplin tadi. Jadi, disiplin merupakan sutau proses latihan dan belajar untuk meningkatkan kemampuan dalam bertindak, berfikir dan bekerja yang aktif dan kreatif. Disiplin juga merupakan suatu kepatuhan dari orang dalam suatu organisasi terhadap peraturan sehingga menimbulkan keadaan tertib.

Selain konsep di atas, Tu’u (2004) menguraikan tentang konsep disiplin (1) disiplin otoritarian adalah pengendalian tingkah laku seseorang. Orang dalam lingkungan disiplin ini diminta mematuhi dan mentaati peraturan yang telah disusun dan berlaku di tempat itu; (2) disiplin permissive, dalam disiplin ini seseorang dibiarkan bertindak menurut keinginannya, dibebaskan mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai keputusan yang diambil. Jika berakibat pelanggaran norma atau aturan yang berlaku, tidak diberi sanksi dan (3) disiplin demokratis, berusaha mengembangkan disiplin yang muncul atas kesadaran diri sehingga seseorang dapat memiliki disiplin diri yang kuat dan mantal.

Guru merupakan suatu komponen manusia dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan aktif dalam usaha pembentukan sumber daya manusia (Sardiman, 2001). Guru juga merupakan semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan peserta didik baik individual maupun klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah (Dimyati, 2000). Ini berarti bahwa seorang guru minimal harus memiliki dasar kompetensi sehingga memiliki wewenang dan kemampuan menjalankan tugasnya terutama agar dapat meningkatkan suasana belajar yang kondusif. Imron (1997) menuliskan bahwa disiplin guru adalah suatu keadaan tertib dan teratur yang dimiliki oleh guru dalam bekerjka di sekolah, tanpa pelanggaran yang merugikan baik langsung maupun tidak langsung terhadap dirinya, teman sejawat dan sekolah secara keseluruhan.

Kaitannya dengan kepemimpinan kepala sekolahnya manusia, ada tiga hal yang menjadi pusat perhatian dalam meningkatkan kedisiplinan guru dalam mengajar, yaitu kehadiran guru, pelaksanaan tugas dan program tindak lanjut. Kehadiran guru meliputi (1) hadir di sekolah sebelum pelajaran dimulai dan pulang setelah jam pelajaran selesai. Hadir disekolah sebelum pelajaran di mulai dirincikan menjadi 15 menit, 10 menit, 5 menit, 0 menit; (2) menandatangani daftar hadir; (3) hadir dan meninggalkan kelas tepat waktu; (4) bila diperlukan, guru meninggalkan sekolah dengan izin Kepala Sekolah dan (5) mencatat kehadiaran/ketidakhadiran siswa. Pelaksanaan tugas (kegiatan) meliputi (1) membuat persiapan mengajar; (2) memeriksa setiap pekerjaan atau latihan siswa serta mengembalikan kepada siswa dan (3) mengisi buku batasan pelajaran setiap selesai mengajar. Sementara program tindak lanjut meliputi (1) memeriksa kebersihan dan kerapian siswa secara berkala dan (2) membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dan memberikan program pengayaan kepada yang mempunyai kecakapan lebih dan tuntas sesuai KKM. Indikator ini sekaligus menjadi indikator yang digunakan dalam penelitian.

Berpedoman dari bangunan konsep di atas, maka dirasa perlu untuk menerapkan konsep kepemimpinan kepala sekolahnya manusia di SMP Negeri 4 Pujut. Asumsi ini dibuat mengingat sekolah ini merupakan sekolah yang masih tergolong perlu mendapat perhatian serius dari kepala sekolah. Berdiri sejak 21 tahun yang lalu, namun masih memiliki capaian rendah dibandingkan sekolah lain di Kabupaten Lombok Tengah. Rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah apakah Kepemimpinan Kepala Sekolahnya Manusia dapat Meningkatkan Disiplin Guru dalam Mengajar di Kelas pada SMP Negeri 4 Pujut?

METODE

Penelitian menggunakan desain penelitian tindakan sekolah. Secara singkat penelitian tindakan sekolah (PTS) bertujuan untuk mencari pemecahan masalah nyata yang terjadi di sekolah, sekaligus mencari jawaban ilmiah bagaimana masalah tersebut bisa dipecahkan melalui tindakan perbaikan. Secara umum penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kepemimpinan kepala sekolahnya manusia terhadap peningkatan disiplin guru dalam mengajar di kelas. Rancangan penelitian terdiri dari dua siklus dan pada setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Data penelitian diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang selanjutnya dianalisis menggunakan analisa data kualitatif yang bersumber dari data primer maupun empiris. Dari tiga unsur yang menjadi fokus dalam menentukan kedisiplinan guru dalam mengajar di kelas dapat dijabarkan lagi ke dalam 10 indikator. Masing-masing indikator diberikan opsi skor 25 (kurang); 50 (sedang); 75 (baik) dan 100 (sangat baik).

HASIL PENELITIAN

Sebelum mulai kegiatan pada siklus pertama dilakukan observasi awal (prapenelitian) untuk mengetahui kondisi awal subjek yang diteliti terkait fokus yang akan ditelaah mendalam. Hasilnya seperti yang tertera pada tabel berikut.

Sumber: Data hasil penelitian, 2017

Dari hasil pemotretan awal kepeimpinan kepala sekolahnya manusia terhadap peningkatan disiplin mengajar guru di atas, dapat digambarkan bahwa disiplin guru dalam mengajar di kelas di SMP Negeri 4 Pujut masih rendah sekali yaitu skor 68, 41 untuk kelompok dan 0 untuk individual. Jika mengacu pada standar yang sudah ditentukan maka disiplin guru dalam mengajar baik individual maupun kelompok jauh dari kata tercapai. Hal ini bisa dilihat dari 10 indikator yang ada hanya indikator hadir 15 menit di sekolah sebelum pelajaran dimulai atau indikator 1 dengan skor 92 dan meninggalkan kelas tepat waktu atau indikator 3 dengan skor 97 yang sudah baik dan melampui standar keberhasilan 85%. Selebihnya masih sangat memprihatinkan. Namun demikian indikator 3 tentang guru meninggalkan kelas sesuai waktu sangat menggembirakan sebab dari 22 responden 20 orang sudah mencapai skor 100.

Tahapan ini mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan selanjutnya. Berikut adalah tabel hasil scoring kedisiplinan guru mengajar pada siklus pertama.



Sumber: Data hasil penelitian, 2017

Berdasarkan tabel data di atas terlihat bahwa tingkat disiplin guru dalam mengajar di kelas secara individu yaitu 59,09 dan kelompok meningkat menjadi 80,90. Artinya sebagian besar guru SMP Negeri 4 Pujut atau 13 orang dari 22 guru responden sudah menunjukkan tingkat disiplin yang lebih baik. Namun demikian sebagian besar indikator belum dipenuhi oleh para guru. Indikator yang sudah terpenuhi pada siklus pertama baru tiga yaitu hadir di sekolah sebelum pelajaran dimulai (indikator 1), meninggalkan kelas sesuai waktu yang ditentukan (indikator 3) dan melaksanakan program pengayaan bagi siswa yang telah tuntas (indikator 10). Selanjutnya, dua indikator masih memprihatinkan yaitu indikator 5 tentang mencatat kehadiran siswa dalam belajar di kelas dengan skor 71,59 dan indikator 8 tentang atensi guru terhadap kebersihan dan kerapian peserta didik dengan skor terendah 68, 18. Ini artinya bahwa guru kurang memberikan perhatian kepada hal yang berkaitan dengan non teknis pembelajaran dalam hal ini masalah pribadi siswa. Hasil ini memberi gambaran bahwa peningkatan disiplin guru dalam mengajar di kelas masih perlu diangkat dengan kepemimpinan kepala sekolahnya manusia dengan lebih fokus dan spesefik. Serta diperlukan tindakan perbaikan pada beberapa hal di siklus berikutnya (II).

Dari sisi kepemimpinan kepala sekolahnya manusia, terdapat beberapa hal yang masih kurang dan perlu ditingkatkan agar lebih efektif. Artinya, dalam aspek ini belum mencapai hasil sesuai dengan standar yang sudah ditentukan di atas. Beberapa hal yang perlu diperbaiki adalah sentuhan kepala sekolah terhadap guru, terutama mereka dengan skor di bawah 80. Sentuhan yang dimaksud dapat berupa antara lain: sapaan hangat, tugas diperjelas secara akrab, memberi contoh pada unsur yang masih rendah, menghindari menunjukkan kesalahan secara vulgar, menghormati apa yang dia lakukan dan bersifat membantu. Soft warning kepala sekolah juga perlu dilakukan secara tepat pada guru yang tepat.

Gambaran ini menjadi alasan urgensinya siklus II dilakukan. Setelah selesai siklus kedua, dilakukan evaluasi guna melihat peningkatan disiplin guru dalam mengajar di kelas. Pada tabel (Siklus II) di atas ditunjukkan bahwa tingkat disiplin guru dalam mengajar di kelas secara individu yaitu 86,36 dan kelompok 83,90. Artinya sudah semua guru SMP Negeri 4 Pujut yang sebanyak 22 guru responden menunjukkan tingkat disiplin yang baik. Dilihat dari 10 indikator disipilin guru yang sudah ditetapkan, dapat disimpulkan bahwa ada 9 indikator sudah terpenuhi dan tinggal 1 yang masih memprihatinkan yaitu indikator 7 tentang mengisi buku batasan mengajar dengan skor 73,86. Hal kecil tersebut ternyata banyak guru yang sering melupakannya. Indikator yang bermasalah pada siklus pertama sudah dapat dituntaskan pada siklus kedua dan guru responden juga sudah tidak lagi meremehkan hal penting bersifat nonteknis seperti masalah pribadi siswa.

Berdasarkan rekapitulasi data di atas, dapat dibuat perbandingan capaian tingkat disiplin guru dalam mengajar di kelas. Pada siklus pertama untuk katagori tingkat disiplin guru mengajar secara individual berada pada skor 59,09, naik menjadi 86,36 pada siklus kedua. Terjadi peningkatan disiplin guru secara individual sebesar 27,27 poin. Untuk kategori kelompok telah terjadi peningkatan disiplin guru yang cukup signifikan yaitu skor 80,90 pada siklus pertama menjadi 83,90 pada siklus kedua. Artinya terjadi peningkatan 3,90 poin dari siklus pertama. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa keberhasilan penelitian cukup baik. Hal yang sama terjadi pada indikator disiplin guru mengajar yang pada studi awal hanya 3 (dari 10 indikator) yang membanggakan dengan skor 75,00 ke atas. Pada siklus pertama mengalami perbaikan menjadi 7 dan di siklus kedua mencapai 9 indikator yang sudah membanggakan. Dengan demikian maka penelitian tindakan sekolah ini sudah dapat diakhiri sampai siklus kedua karena sudah mencapai standar ketercapain yang sudah ditentukan, yaitu disiplin guru katagori individual skor 85,00 dan kelompok skor 82,50.

PEMBAHASAN

Kepemimpinan kepala sekolah adalah satu kekuatan penting dalam rangka pengelolaan sekolah, karenanya kemampuan memimpin secara efektif merupakan kunci untuk mendorong guru melaksanakan tugasnya dengan baik. Esensi kepemimpinan kepala sekolahnya manusia adalah fellowership, kemauan guru atau orang lain untuk mengikuti keinginan kepala sekolah. Salah satu keinginan kepala sekolah adalah guru disiplin dalam mengajar di kelas. Agar guru disiplin mengajar maka kepala sekolah harus mampu mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri para guru (Wahjosumidjo, 2002). Selain itu juga kepala sekolah mampu memberikan dan mengarahkan para guru serta memberikan dorongan memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian ini bahwa kepemimpinan kepala sekolahnya manusia dengan mengedepankan pendekatan kemanusiaan agar guru mengajar dengan penuh semangat dan percaya diri. Guru SMP Negeri 4 Pujut telah berhasil meningkatkan disiplin mengajar di kelas di bawah kepemimpinan kepalanya sekolahnya manusia. Dengan kondisi yang diciptakan, guru dapat melaksanakan tugasnya dengan perasaan nyaman, bebas tanpa merasa ada tekanan kepala sekolah. Hal ini dapat dilihat dari hasil pada siklus pertama dan kedua. Dari 10 indikator guru disiplin dalam mengajar sudah dapat terealisasi 7 setelah siklus pertama dan 9 setelah tindakan siklus kedua. Yang belum dapat dilakukan dengan optimal adalah indikator nomor 8 yaitu mengisi buku batasan pelajaran setiap selesai mengajar dominan karena kelalaian guru, padahal indikator ini sangat penting dalam pembelajaran. Dapat dikatakan sebagai administrais utama di dalam kelas selain daftar hadir.

Kesepuluh indikator dimaksud adalah (1) hadir di sekolah sebelum pelajaran dimulai dan pulang setelah jam pelajaran selesai; (2) menandatangani daftar hadir; (3) hadir dan meninggalkan kelas tepat waktu; (4) bila diperlukan, guru dapat meninggalkan sekolah lebih awal dengan izin Kepala Sekolah; (5) mencatat kehadiaran/ketidakhadiran siswa; (6) membuat persiapan/perangkat mengajar; (7) memeriksa setiap pekerjaan atau latihan siswa serta mengembalikan kepada siswa; (8) mengisi buku batasan pelajaran setiap selesai mengajar; (9) memeriksa kebersihan dan kerapian siswa secara berkala dan (10) membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar (termasuk memberikan remedial teaching kemudian memberikan program pengayaan untuk siswa yang mempunyai kecakapan lebih dan tuntas sesuai KKM.

Untuk menjamin terpeliharanya tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas dalam mencapai tujuan sekolah, maka diperlukan guru yang penuh kesetiaan dan ketaatan pada peraturan yang berlaku dan sadar akan tanggung jawabnya untuk menyelenggarakan tujuan sekolah. Dengan kata lain kedisiplinan para guru sangat diperlukan dalam meningkatkan tujuan sekolah. Untuk itu, menegakkan disiplin merupakan hal penting, sebab dengan kedisiplinan dapat diketahui seberapa besar peraturan dapat ditaati oleh guru.

Dengan kedisiplinan dalam mengajar, proses pembelajaran akan terlaksana secara efektif dan efisien. Hal ini sesuai pendapat Arikunto (2013) bahwa pembelajaran yang efektif dan efisien adalah buah dari mengajar yang disiplin dan disiplin merujuk kepada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada kata hatinya. Kesadaran hati seorang guru sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolahnya manusia yang sangat mengedepankan kemanusiaan seorang guru. Guru sebagaima manusia biasa, bukan robot, memiliki kelebihan dan kekurangan, memiliki rasa senang dan tidak senang. Sehingga dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik membutuhkan perhatian dan penghargaan terutama ketika ia dituntut untuk disiplin mengajar. Menegakkan aturan seperti hadir di sekolah sebelum pelajaran dimulai, melaksanakan tugas dan memberikan tindak lanjut tidak bisa serta merta berjalan layaknya mesin atau komputer yang sudah dihidupkan dan bekerja sesuai dengan setting-annya. Dengan kata lain guru tidak dapat dipaksa harus taat atau disiplin dalam mengajar kecuali itu semua dilakukan dengan penuh kesadaran. Konsep kepemimpinan kepala sekolahnya manusia ini sejalan dengan konsep Tu’u (2004) yang menguraikan bahwa dalam disiplin permissive seseorang dibiarkan bertindak menurut keinginannya dan dibebaskan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai dengan keputusan yang diambilnya, serta berakibat pelanggaran norma atau aturan yang berlaku dan tidak diberi sanksi, tetapi diberikan pemahaman dan solusi.

Konsep kepemimpinan kepala sekolah ini juga membawa kearah kesadaran bahwa manusia tidak hanya sebatas menjadi homo, tetapi harus meningkatkan diri menjadi human. Manusia harus memiliki prinsip, nilai dan rasa kemanusiaan yang melekat pada dirinya. Manusia memiliki akal budi yang bisa memunculkan rasa atau prikemanusiaan. Prikemanusiaan inilah yang mendorong prilaku baik sebagai manusia. Memanusiakan manusia berarti perilaku manusia untuk senantisa menghargai dan menghormati harkat dan derajat manusia lainnya. Memanusiakan manusia adalah tidak menindas sesama, tidak menghardik, tidak bersifat kasar, tidak menyakiti dan prilaku lainnya yang sejenis. Memanusiakan manusia berarti memanusiakan antarsesama, memanusiakan manusia menguntungkan bagi diri sendiri dan orang lain. Bagi diri sendiri menunjukan harga diri dan nilai luhur pribadinya sebagai manusia. Bagi orang lain memberikan rasa percaya, hormat, kedamain dan kesejahteraan hidup. Sebaliknya, sikap tidak manusiawi terhadap manusia lain hanya akan merendahkan harga diri dan martabatnya sebagai manusia yang sesungguhnya makhluk mulia. Sedangkan bagi orang lain sebagai korban tindakan yang tidak manusiawi dan mencipta penderitaan, kesusahan, ketakutan, maupun dendam.

Sejarah membuktikan bahwa pertentangan dan peperangan yang terjadi diberbagai belahan dunia karena manusia belum mampu memanusiakan manusia lain. Sikap dan perilaku manusia didasarkan atas prinsip kemanusiaan yang disebut the mankind is one. Prinsip kemanusiaan tidak membeda-bedakan kita dalam memperlakukan orang lain atas dasar warna kulit, suku, agama, ras, asal dan status sosial ekonomi.

Selanjutnya, penjelasan di atas perlu dilengkapi bahwa manusia itu makhluk ciptaan-Nya yang unik. Karena diberikan kelebihan dari akal budinya, tapi juga memiliki kekurangan dibanding makhluk lain. Begitulah indahnya kehidupan. Dengan hanya mengandalkan otaknya, manusia bisa berdigdaya menundukkan alam ini. Manusia harus dimanusiakan. Seorang manusia berbeda antara satu dengan lainnya. Tidak ada yang sama persis. Karenanya dalam menangani manusia terdapat aspek yang customized, yang berbeda antara menangani satu orang dengan orang lain. Namun sekali lagi manusia adalah manusia. Disamping memiliki kekhasan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, terdapat pula kesamaan antara seorang manusia dengan manusia lain.

Setiap manusia ingin hidup nyaman, ingin dihargai, ingin dimengerti. Dalam konsep pengendalian, apabila kita berhasil memberikan apa yang diperlukan oleh orang disekitar kita, maka akan lebih mudah dan lebih merasa nyaman saat harus kita kendalikan. Dengan kata lain, karena manusia ingin hidup nyaman maka apabila kita berhasil memberikan kenyamanan, kita akan lebih mudah mengendalikan orang tersebut. Jadi, bila mereka ingin dihargai, maka berikan penghargaan. Mereka ingin dimengerti, maka berikan pengertian. Itu kiatnya. Berikan yang mereka inginkan, karena sebagian besar yang mereka inginkan sebetulnya kita mampu berikan. Iman dan taqwa adalah buah kesadaran, keyakinan – yang mana sudah ada di dalam diri setiap manusia. Kesadaran dan keyakinan perlu diungkapkan dan pengungkapan itu menjadi tugas Agama.

Kalau kita berhadapan dengan kekhasan orang, maka kita perlu memiliki soft skill untuk memahami orang per orang. Dari kebutuhan umum orang-orang disekitar kita yang dapat kita generalisasikan, ternyata ada prioritas yang berbeda antara satu dengan lainnya. Sadar atau tidak, pendidikan selain untuk mencerdaskan bangsa, juga membantu untuk mendewasakan bangsa, sehingga bangsa bisa memiliki karakter yang berpendidikan moral. Secara mendasar, pendidikan ada, karena ada manusia. Oleh karena itu, pendidikan ada hanya untuk manusia, bukan untuk hewan atau sejenisnya. Hal mendasar seperti inilah yang perlu kita catat besar-besar di kepala kita, khususnya bagi mereka yang menjadi seorang guru. Sebab, kita sering kali melupakan bahwa orang yang menjadi amanat kita adalah manusia yang memiliki keragam dan keseragaman yang begitu kompleks.

PENUTUP

Penelitian menyimpulkan bahwa implementasi konsep kepemimpinan kepala sekolahnya manusia dapat meningkatkan disiplin guru dalam mengajar di kelas pada SMP Negeri 4 Pujut. Hal ini terlihat dari perkembangan tingkat disiplin guru sejak dari studi awal, siklus pertama, dan siklus kedua. Tingkat disiplin guru katagori individual pada studi awal sebelum tindakan siklus pertama dilakukan berada pada skor 0, kemudian naik cukup drastis pada siklus pertama menjadi 59,09, selanjutnya kembali naik menjadi 86,36 pada siklus kedua. Untuk disiplin guru dalam mengajar di kelas katagori kelompok juga menunjukkan kenaikan yaitu pada studi awal berada pada skor 68,41, setelah dilakukannya tindakan pada siklus pertama meningkat menjadi 80,90, selanjutnya naik menjadi 83, 90 setelah dilakukannya siklus kedua. Demikian juga dengan komponen yang dijadikan indikator disiplin guru mengajar mengalami peningkatan. Pada studi awal hanya 3 dari 10 indikator yang membanggakan dengan skor 75,00 ke atas. Namun setelah diadakannya tindakan pada siklus pertama mengalami perbaikan menjadi 7 dari 10 indiaktor yang membanggakan, dan terakhir siklus kedua mencapai 9 dari 10 indikator yang sudah membanggakan.

Guna memaksimalkan capaian tersebut direkomendasikan agar guru terus-menerus meningkatkan disiplin dalam mengajar di kelas dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab dan tanpa menunggu teguran kepala sekolah. Sedangkan untuk Kepala Sekolah diharapkan untuk mencoba meneliti kepemimpinan kepala sekolahnya manusia terhadap pada bidang dan aspek lainnya di sekolah.

REFERENSI

Ali, Imron. 1997. Pemb
inaan Guru di Indonesia. Surabaya: Kartika.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Chatib, Munif. 2014. Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelge
nces di Indonesia. Bandung: Kaifa.
___________. 2014. Gurunya Manusia. Bandung: Kaifa.
___________. 2014. Kepala Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa.
___________. 2014. Kelasnya Manusia. Bandung: Kaifa.
Dimyati, Mujiono. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Fullan, 2001. Instructional Leadership in School: Relection and Empirical Evidence. School Leadership and Management.
Fullan, Michael. 2001. Leading In Culture Of Change. San Francisco: Jossey-Bass.
Gorton, R.A, & Schneider, G.T. 1991. School Based Leadership, Challenges and Opportunities. Keeper Boulevard, Dubuque: Wm.C. Brown Publishers.
Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta. Rajawali.
Sastrohadiwiryo, B. Siswanto DR. 2003. Manajemen Tenaga Kerja Indonesia, Edisi 2. Jakarta: Bumi Aksara.
Suharsimi dan Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Tu’u, Tulus. 2004. Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Belajar. Jakarta: Grasindo.
Wahjosumidjo. 2002. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: Rajawali Pers.
Wursanto. 1988.
Sudah dilihat 21 kali

Komentar