Kenapa Kita Ikut Menguap Saat Melihat Orang Lain Menguap?

65584 medium 05072019
Pernahkah saat Anda sedang berkumpul bersama teman, tiba-tiba salah satu teman Anda menguap, dan Anda ikut menguap juga? Kok bisa ya?

Meski sering dianggap sebagai penanda rasa kantuk, menguap sebenarnya didesain untuk menjaga kita tetap terjaga, kata beberapa peneliti seperti dilansir BBC dalam sebuah penelitian yang dilaporkan pada tahun 2007 lalu.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa, lebih dari sekadar penanda waktunya tidur, alasan menguap adalah untuk mendinginkan otak, sehingga ia bekerja lebih efisien dan menjaga Anda tetap terbangun. Namun, berbagai teori ini masih menyisakan banyak pertanyaan tentang kebiasaan manusia perihal menguap, dan salah satunya adalah mengapa orang cenderung ikut menguap ketika melihat orang lain menguap, atau bahkan ikut menguap saat sedang membaca tentang menguap atau memikirkan tentang menguap.

Menguap bukan berarti mengantuk
Sedikit pencerahan dari ilmuwan asal University of Albany di New York, Dr. Gordon Gallup, yang melakukan penelitian tentang menguap ini: ikut-ikutan menguap bukan berarti kita “tertular” rasa kantuk orang lain. “Kami pikir menularnya menguap ini dipicu oleh mekanisme empati pada manusia, yang fungsinya menjaga kewaspadaan otak,” ujar Dr. Gordon, yang memimpin para peneliti di universitas tersebut.

Dalam penelitian lainnya dilaporkan bahwa menguap merupakan salah satu kebiasaan yang memiliki kemampuan “menggiring” secara tidak sadar, sama seperti ketika burung terbang dan mengepakkan sayapnya secara bersama-sama.

Teori lain berhipotesis bahwa jika seseorang menguap karena “tertular” orang lain, ini bisa membantu seseorang mengkomunikasikan tingkat kewaspadaan mereka sekaligus mengkoordinasikan waktu tidur. Pada dasarnya, jika salah seorang memutuskan untuk tidur, mereka akan mengatakannya kepada orang lain dengan menguap, dan akan dibalas dengan menguap juga sebagai sinyal bahwa mereka setuju.

Tidak terjadi pada semua orang
Molly Helt, peneliti dari psikologi klinis di University of Connecticut, Storrs, mengatakan, menguap dapat membantu dokter mendiagnosis perkembangan gangguan kesehatan pada seseorang. Menguap juga bisa membantu dokter untuk lebih memahami bagaimana seseorang berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain.

“Penularan emosional adalah insting alami yang dimiliki semua manusia. Menguap mungkin termasuk salah satunya,” kata Molly.

Inspirasi dari penelitian ini datang ketika ia mencoba untuk membersihkan telinga anaknya yang mengidap autisme. Ia berulang kali menguap di depan si anak, berharap anaknya juga menguap. Tapi anaknya tidak pernah menguap balik.

“Fakta bahwa anak autis tidak melakukannya bisa berarti mereka benar-benar tidak merespons hubungan emosi di sekitar mereka,” paparnya.

Selain itu Robert Provine, ahli saraf dari University of Maryland, Baltimore County mengatakan bahwa sebenarnya janin juga sudah bisa menguap. Janin menguap di dalam rahim kira-kira sejak 11 minggu setelah terbentuk.

Peneliti pun masih bingung
Sayangnya, alasan ilmiah yang pasti tentang mengapa menguap bisa menular belum bisa dijelaskan oleh para peneliti. Sama seperti menularnya tawa dan tangis, para peneliti dan ilmuwan memiliki teori bahwa menguap yang menular merupakan pengalaman bersama yang meningkatkan hubungan sosial. Secara spesifik Helt mengatakan, menguap bisa mengurangi stress dan menebarkan rasa tenang dalam sebuah kelompok.

Pada tahun 2014 lalu, sejumlah peneliti dari Duke University melakukan penelitian terhadap 328 orang sehat dengan meminta mereka menonton sebuah video berdurasi 3 menit tentang orang yang menguap. Beberapa peserta mulai tertular menguap dibandingkan peserta lainnya, dengan rentang dari nol sampai 15 kali menguap, berdasarkan studi yang dirilis 14 Maret pada jurnal PLOS ONE.

Usia adalah faktor utama yang secara signifikan mempengaruhi orang untuk tertular dan ikut menguap. Pada orang yang lebih tua, mereka tidak mudah tertular untuk menguap saat menonton video orang lain yang sedang menguap. Namun, usia hanya menjelaskan 8% perbedaan dari seluruh peserta yang merespon video tersebut.

“Penelitian kami tidak menunjukkan cukup bukti bahwa ada hubungan antara menguap yang menular, dengan sugesti empati,” tutur Elizabeth Cirulli, asisten profesor kedokteran di Center for Human Genome Variation di Duke University School of Medicine.

sumber: hellosehat
foto: hellosehat
Sudah dilihat 12 kali

Komentar