Kenangan di Bulan September

38459 medium post 46222 909bafa5 503b 4a76 ada0 d0c449ba4d60 2018 11 10t13 30 20.541 08 00
Bukan kejadian yang biasa, kejadian seperti ini belum pernah ada dalam catatan sejarah Sulawesi Tengah. Bumi berguncang, laut menerka-nerka terombang-ambing dan tanah berputar seperti di blender ikut menghantam permukiman warga.
Likuifaksi! Sebagian besar para ahli Geologi mengungkapkan bencana yang terjadi di Palu, Donggala, dan Sigi adalah pergesekan sesar palu koro. Sedangkan bencana yang menimpa Kelurahan Petobo, Balaroa, dan beberapa Desa di Kabupaten Sigi di akibatkan Likuifaksi.
"Secara teori Likuifaksi adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat".
Saat ini pergerakan lapisan tanah terbesar di Dunia di akibatkan Likuifaksi tersebut telah menelan korban hingga ribuan, menghilangkan sebuah perkampungan, dan menenggelamkan rumah beserta isinya.
Selain itu di bibir Pantai ternyata air laut mulai surut seketika pasca gempa berkekuatan 7,4 SR lalu datang dengan ketinggian hingga 11 Meter, air yang berpusar laju menuju bibir pantai, ramai seperti benteng panjang yang berlari sama lajunya, ternyata Tsunami. Tsunami datang!
Mustahil tapi telah terjadi.
Mungkin hanya Kota Palu yang menjadi satu-satunya daerah berbentuk Teluk bisa terkena Tsunami, hampir semua para Ahli kebingungan. Kenapa bisa terjadi tsunami dan likuifaksi dalam waktu bersamaan.
29 Sep 2018 tepat satu hari setelah kejadian, semuanya mulai ramai tapi semuanya terdiam dan sebagianya bersujud syukur.
Sedang itu, opini yang dibangun pada hampir semua Masyarakat bahwa Walikota Palu bertanggungjawab atas musibah ini karena sedang melakukan ritual adat.
Kita menghargai opini Masyarakat, kita menghargai juga penjelasan para Ahli dan Akademisi. Dalam kondisi seperti ini siapa saja boleh berpendapat apapun itu dan siapa saja boleh men justice perbuatan orang lain asalkan siap bertanggungjawab. Kami menghargai pandanga-pandangan itu.
Di sisi lainya mulai muncul tagar Palu bangkit #PaluBangkit #SulawesiTengahBangkit). Saat yang lain saling menyalahkan, tagar ini menjadi spirit yang hadir pertama kalinya saat semua orang membisu. Saat yang lain saling sibuk untuk mencari kebutuhan pokok, ternyata Palu kedatangan Relawan para pekerja tanpa pamrih yang sedang menuntaskan tugas suci di Kota Palu.
Ratusan bahkan ribuan, Nasional bahkan Internasional orang-orang yang terlibat untuk membantu agar #PaluBangkit #SulawesiTengahBangkit kembali.
Bahkan pada Senin 1 Oktober 2018 beberapa hari pasca bencana saya sangat bersyukur masih diberikan umur panjang dan khususnya masih bisa selamat dalam musibah yang ada.
Tidak ada sambungan listrik dan jaringan ponsel untuk berkomunikasi dengan saudara, kerabat hingga orang tua sekalipun. Semuanya terputus, akses komunikasi lumpuh total.
Tahun-tahun sebelumnya Facebook adalah software yang paling pertama mengingatkan kepada semuanya. Tapi kali ini beda, jangankan facebook orang tua saja tidak tau lagi urusan waktu itu sudah tanggal berapa. Bahkan saya sekalipun menyadarinya beberapa hari kemudian. Karena baru dapat listrik generator untuk charger hp.
Sejak kejadian ini banyak hal yang tidak biasa coba saya kerjakan, mulai antrian mandi di sumur bor, antrian ambil sembako di lapangan, antrian bensin dari pagi pulang pagi dapatnya hanya dua liter, dan rutinitas terbaru saya dalam satu minggu pertama pasca gempa ialah mencatat merek Air mineral dan Supermi yang tiap kali saya konsumsi. Sampai detik ini saya masih menghitung merek Air mineral dan sekarang jumlahnya ada 49 merek dari berbagai perusahaan asal daerah luar Kota Palu.
Saya berhenti mencatat merek Supermi sejak saya berhenti makan mi. Alasanya cukup sederhana, tidak ada yang bisa menyaingi Indomi Goreng. It's simple wkwk
Pada akhirnya, kejadian 28 Sep 2018 akan menjadi memorial tersendiri untuk kita semua, kenangan yang di rindukan tapi tidak mengingkanya kembali. Masing-masing ada kesan, saya percaya bencana ini ada Hikmahnya.
Banyak dari kawan saya yang kehilangan keluarganya bahkan ada juga beberapa orang yang sangat dekat dengan saya menjadi korban bencana tersebut. Selamat jalan kawan.
Palu, Donggala, Sigi wajib bangkit dari keterpurukan entah harus menunggu berapa tahun lamanya.
Ternyata badai sudah berlalu kawan! #SulawesiTengahBangkit
Sudah dilihat 163 kali

Komentar