Kematian Mengalahkan Aku dan Tujuh Belas Muridku

Header illustration
Ini kisah kanker yang telah menyerang selama delapan bulan.
Salah seorang muridku, Faiz, menghabiskan waktu delapan bulan ini dengan menyaksikan derita yang terus berkembang tak bisa ditahan. Kanker. Penyakit ganas itu menghantam ayahnya dan Faiz menyaksikan bagaimana penyakit itu berkembang dari stadium satu hingga empat. Puncak dari pertarungan.
Di sekolah, Faiz ini adalah murid idola bukan hanya guru, tapi juga teman-teman dan jamaah mushola di sekitar pondok. Dia rajin, langganan juara sejak SMP, rendah hati, penghafal Qur'an, suaranya merdu, beberapa kali juara lomba tahfidz, dan sudah dipercaya masyarakat untuk menjadi imam masjid juga mushola. Suara merdu serta kefashihan lisannya menambah kekhusyu'an jamaah.
Untuk seseorang sebaik itu, kau selalu ingin untuk terjun membantu.
Maka, ketika sejumlah siswa menghadap saya untuk melakukan sebuah penggalangan dana untuk pengobatan ayah Faiz, butuh waktu satu detik bagi saya untuk setuju dan terjun langsung.
"oke, kita akan lakukan dengan cara yang berkelas. Kita akan bikin video. Seperti video penggalangan dana UNICEF, yang pakai banyak selebritis."
Anak-Anak setuju. Kita antusias. Kita mulai shooting bergiliran. Dan... Di situ lah kesalahanku.
Menjelang akhir tahun pembelajaran dan perpulangan santri, kegiatan di sekolah juga pondok menjadi sangat padat. Video yang seharusnya rampung dalam dua hari kerja penuh, akhirnya tertunda... Tertunda... Tertunda... Dan saya rewel mengganti bagian yang buruk dengan yang lebih baik. Rekaman suara ulang. Aku selalu merasa bagian akhir masih beberapa tahun jauhnya. Sehingga ketika pembuatan video sudah 80% rampung, kabar itu datang. Dari Faiz sendiri. Tiba-tiba hb ayahnya turun, beliau dilarikan ke rumah sakit. Ngamar lagi. Aku berpikir, 20% video bisa kurampungkan dalam dua jam.
Tapi satu hari berlalu dan masih di titik 80. Salah seorang murid mengabari bahwa keadaan beliau semakin menurun, dan di sekolah ada pembagian rapot. Belum lagi, pada masa-masa itu putra saya pun sedang sakit. Video itu tidak bergerak. Hingga malam ini.
Saya bertekad video penggalangan dana itu harus rampung malam ini dan besok bisa diposting. Dan memang, sekitar pukul sembilan video rampung. Alhamdulillah. Bisa lanjut tadarus. Tapi sebelum itu, buka wa dulu... Dan kubaca pesan itu, yang diawali dengan kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun. Ayah Faiz sudah meninggal dunia.
Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun.
Beliau telah kembali pada Allah tepat di saat video penggalangan dana tersebut sudah rampung. Astagfirullah. Di saat itulah, pundakku jatuh. Di saat itulah, aku ingat telah berjanji untuk membantu qori' terbaik kami, di saat itulah aku ingat tujuh belas muridku yang sangat antusias menggagas rencana ini, di saat itulah... Aku ingat andai aku ngotot menyelesaikan video itu empat hari yang lalu.
Kuputar video itu. Kudengarkan baik-baik lagu tradisional Somalia yang membuka adegan, lalu lantunan ayat suci Al Qur'an yang dibaca Faiz, lalu teman-temannya yang muncul bergantian. Aku tercenung. Lamat-lamat, aku ingat sebuah nasihat, jangan pernah menunda kebaikan karena kesempatan berbuat baik bisa hilang kapan saja.
Kesempatan itu telah hilang tepat di depanku. Sangat cepat. Mencibirku.
***
Semoga Allah memberikan kesabaran dan kekuatan bagimu, Faiz, juga untuk seluruh keluargamu. Semoga almarhum ayah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Hey, beliau meninggal di malam jumat pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, di malam ganjil. Suatu waktu yang diprediksi oleh para ulama sebagai malam turunnya laylatul qadar. Insya Allah beliau khusnul khotimah.
Maafkan kami, Faiz.
Nb: video dalam postingan adalah proyek penggalangan dana yang kami garap beberapa hari ini #arulight
>>>>>>>>
Donasi bisa dikirimkan ke nomor rekening berikut:
Bank BRI
6300-01-019501-53-2
Atas nama: Catur Amrullah
Kepada para donatur, diminta dengan hormat untuk mengirimkan bukti transfer ke nomor berikut: 081553132333
Sudah dilihat 52 kali

Komentar