Kemarau Panjang Tahun Ini Ancam Produksi Pangan

30 August 2019, 15:04 WIB
1 0 168
Gambar untuk Kemarau Panjang Tahun Ini Ancam Produksi Pangan
Kemarau pada tahun ini diprediksi akan lebih panjang dibandingkan tahun 2018. Kondisi ini diprediksi akan berpengaruh terhadap sektor pertanian yang akan merasakan dampak besarnya.

“Tentunya, kemarau panjang pada tahun ini akan berdampak di beberapa sektor. Pertanian yang tidak ada hujan. Sektor sumber daya air yang dampaknya pada ketersediaan air dan lingkungan yang berpotensi Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan)," kata Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Hary Tirto Djatmiko.

Menurut Hery, dia tidak bisa menyamaratakan kondisi yang terjadi di seluruh Indonesia. Namun yang pasti, ketersediaan air tanah akan mengalami defisit.

"Sektor pertanian akan mengering karena air (tidak ada)," ujarnya. Kondisi defisit air seperti itu akan berdampak negatif pada sektor pertanian.

"Luas panen diperkirakan akan menurun di atas 500.000 hektare dibanding tahun 2018. Itu minimum," ujar Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Dwi Andreas, di kesempatan terpisah.

Turunnya luas panen tersebut, menurut Andreas, disebabkan karena mundurnya musim tanam, baik musim tanam pertama di musim hujan, maupun musim tanam kedua di musim gadu (padi yang ditanam pada musim kemarau).

"Perhitungan saya, penurunan produksi beras kira-kira dua juta ton, itu paling optimis. Bisa lebih dari dua juta ton," ujarnya lagi.

Karena itu, pemerintah harus benar-benar waspada. Kita tidak boleh terbuai dengan data yang menyebutkan adanya potensi surplus sekitar 4 juta ton hingga September 2019.

"Hitungan itu tidak memperhitungkan bahwa masa paceklik itu sampai Februari atau Maret tahun depan. Kebutuhan kita sebulan itu sekitar 2,5 juta ton. Artinya untuk dua bulan saja tidak cukup. Bagaimana untuk bulan-bulan berikutnya," beber Dwi Andreas.

Apalagi, dipastikan mulai bulan Oktober sampai Februari neraca akan defisit. "Jadi surplus saat ini empat juta ton itu tidak ada apa-apanya lah. Itu yang harus diwaspadai," imbuhnya.

Selain itu, indikasi turunnya jumlah produksi beras saat ini sudah terlihat. Yakni dari harga gabah kering panen (GKP) yang sudah hampir mencapai Rp6.000. "Lalu harga berasnya berapa? Ini tanda-tanda mulai terjadi kekurangan. Harga tidak bisa ditipu, kalau data sih terserah teman-teman Kementan (Kementerian Pertanian)," tuturnya.

Berkaca dari pengalaman tahun 2018, Andreas melihat bahwa pemerintah terkesan tidak melakukan analisis dan hitungan yang tepat. Kementan sempat berkukuh bahwa terdapat surplus 17,6 juta ton beras yang ujung-ujungnya harus impor karena terjadi potensi kekurangan stok di bulan Oktober hingga Februari.

Terkait kekeringan, pihak Kementan sendiri meyakini kondisi kini bisa diatasi dengan pompanisasi dan pembuatan embung air.

"Kita masih mencari solusi. Tapi untuk sementara ini bisa dengan pompanisasi dan pembuatan embung air," kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Sarwo Edhie di Purwakarta (24/8/2019) lalu, seperti dilansir dari Antara.

Sebagai antisipasi, pihak Kementan mengklaim bahwa tiga tahun terakhir pemerintah sudah menyalurkan bantuan 100.000 pompa ke seluruh Indonesia.

Kalangan Dewan mewanti-wanti pemerintah agar waspada dengan kemarau tahun ini. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi Pertanian, Viva Yoga Mauladi menyampaikan bahwa ada potensi terjadinya penurunan panen atau produksi turun karena kekeringan. "Ini yang harus diantisipasi pemerintah, jangan sampai pasokan bahan pangan itu turun sehingga harga naik," kata Yoga.

Yoga juga menekankan bahwa Kementan adalah penanggung jawab di bidang produksi.

"Kementerian pertanian harus kordinasi dengan pemerintah daerah. Kan yang punya lahan daerah. Wilayah kordinasi ini masih kurang sehingga data pangan tidak valid dan tidak akurat," pungkasnya.

---------
Sumber: AyoBogor.com
Penulis: Andres Fatubun
Editor : Andres Fatubun

  Komentar untuk Kemarau Panjang Tahun Ini Ancam Produksi Pangan

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. Berikut Link Pendaftaran BLT UMKM Rp2,4 Juta Kabupaten Bandung Tahap 3 Yang Dibuka Sampai November

    𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Rancaekek, Bandung Kabupaten  |  19 Oct 2020
  2. "Gerakan Serentak Penegakan Protokol Covid-19" di Jalan Tamansiswa, Wirogunan

    Abdul Razaq  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  21 Oct 2020
  3. Menguatkan Ketahanan Pangan, Kelurahan Wirogunan adakan Pelatihan "Buledamber"

    Abdul Razaq  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  18 Oct 2020
  4. Ini Reaksi Tubuh Saat Covid19 Menyerang

    Muh Agung  di  Solokuro, Lamongan  |  18 Oct 2020

Komentar Terbanyak

  1. 2
    Komentar

    Berikut Link Pendaftaran BLT UMKM Rp2,4 Juta Kabupaten Bandung Tahap 3 Yang Dibuka Sampai November

    𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Rancaekek, Bandung Kabupaten  |  19 Oct 2020
  2. 2
    Komentar

    NO ONE LEFT BEHIND

    Sulis Jember  di  Jember  |  14 jam lalu
  3. 2
    Komentar

    Menguatkan Ketahanan Pangan, Kelurahan Wirogunan adakan Pelatihan "Buledamber"

    Abdul Razaq  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  18 Oct 2020
  4. 2
    Komentar

    Sebagian Kain Menghasilkan Mikroplastik Ketika Dicuci

    𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Songgon, Banyuwangi  |  18 Oct 2020