Kelas Parenting : Bagaimana Caranya Menjelaskan Seks Kepada Anak?

29477 medium post 38549 e83709d9 4048 4b97 9ccf e7635d6d9062 2018 08 04t13 37 02.130 07 00 29478 medium post 38549 723e6f87 b538 4a83 9148 5880f62cccda 2018 08 04t13 37 02.793 07 00
Pembicaraan mengenai sex masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia, namun di zaman sekarang ini rasanya pendidikan sex perlu diperkenalkan lebih dini kepada anak. Sex education yang mendidik tentu tidak akan mencederai apa yang seharusnya dijaga dan dipertahankan, bukan malah mengarahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kesusilaan. Sebagai orangtua, kita perlu mewaspadai hal-hal yang sekiranya dapat mempengaruhi pergaulan anak-anak, tidak hanya itu bahan bacaan seperti buku pun patut menjadi perhatian.

Tidak ada lagi istilah tabu dalam membicarakan tentang masalah seksual di hadapan anak. Sejak dini orangtua sudah harus waspada tentang masalah ini karena kejahatan seksual semakin marak akhir-akhir ini.

Anak-anak semakin mudah mengakses internet dan membuka hal-hal yang tidak sepatutnya mereka lihat. Pengaruh teman sebaya juga sangat besar. Kata-kata yang diucapkan oleh teman sebaya seringkali di ‘copas’ begitu saja oleh anak-anak kita tanpa mereka tahu apa artinya. Tugas orangtualah untuk selalu menyaring dan memberikan pemahaman yang benar pada anak. Sedari dini, anak perlu mendapat pendidikan seks. Pendidikan seks ini disesuaikan dengan kelompok usianya.


1. Usia 2- 3 tahun

Pada usia ini kosa kata anak mulai bertambah. Anak-anak mulai menirukan kata-kata yang ia dengar dari orang-orang di sekitarnya. Dia mulai memahami bahwa setiap wujud benda pasti memiliki ‘nama/sebutan’.

Orangtua sebaiknya mengenalkan alat kelamin pria dan wanita dengan nama yang sebenarnya, yakni ‘penis’ dan ‘vagina’, bukan dengan istilah-istilah lain. Hal ini dimaksudkan agar anak tidak bingung dan salah persepsi, dan mengajarkan pada anak bahwa alat kelamin bukan untuk diejek atau dipermainkan.

2. Usia 3-4 tahun

Pada usia ini anak mulai bertanya “ Kok punya aku beda ama punya kakak?”, “ Kok bisa ada adik bayi?”. Berikan penjelasan dengan ‘bahasa anak’, bukan dengan bahasa yang rumit, misalnya : “Adik bayi itu dari dalam perut mama, awalnya kecil sekali lalu lama-lama menjadi besar dan siap untuk keluar ke dunia ini”.

Selain memberikan penjelasan bisa juga dengan menunjukkan contoh tantenya atau siapapun yang sedang mengandung anaknya, karena pada usia ini anak lebih mudah mencerna dengan melihat langsung. Mengajarkan anak tentang hak dan kewajibannya untuk menjaga milik pribadinya juga sangatlah penting, termasuk alat vitalnya. Beritahukan bahwa mereka tidak boleh menunjukkan alat kelaminnya secara sembarang tempat dan orang yang bukan muhrimnya. Hal ini untuk menghindari pelecehan seksual yang banyak mengincar anak-anak di sekitar kita.

Jika anak mencoba menolak dicium atau dipeluk orang lain, hargai keputusannya. Mereka memiliki hak untuk menolak segala macam bentuk kasih sayang dari orang lain yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman, jangan memaksakan mereka untuk melakukannya meskipun hanya sebagai bentuk penghargaan. Hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mereka belajar penolakan.


3. Usia 5-6 tahun

Pada usia ini anak sudah mulai bisa diberikan penjelasan yang lebih kompleks misalnya dengan menyebutkan tentang bagian rahim seorang wanita. Penjelasan bisa dilakukan dengan menunjukkan sebuah gambar.

Orangtua bisa mengatakan “ Di dalam perut mama itu seperti ini keadaannya, ini namanya rahim, ini namanya indung telur, adik bayi nanti bobo di sini selama 9 bulan”.

4. Usia 6-7 tahun

Pada usia ini kita mulai mengenalkan tentang hubungan antara laki-laki dan wanita, tentang konsep pernikahan, konsep keluarga, misalnya “ Papa dan mama harus menikah dulu baru boleh punya adik bayi”, mungkin bisa dikaitkan dengan konsep agama.

Anak-anak juga selalu diingatkan untuk menjaga miliknya, misalnya : “Tidak boleh ada yang memegang kamu dari bagian leher ke bawah selain mama atau papa”. Selain itu, tentang kebersihan juga harus selalu kita ingatkan.

5. Usia 8-9 tahun

Pada usia ini biasanya anak-anak sudah mulai mendengar tentang hal-hal seksual dari teman-temannya. Agar tetap terpantau, orangtua harus selalu menjaga kedekatan emosional dengan anak sehingga anak mau selalu terbuka.

Katakan pada anak jika ingin mengetahui segala hal tentang seksual, anak bisa bertanya pada orangtuanya. Pada masa ini, orangtua sudah mulai harus menjelaskan dengan lebih detail tentang hubungan antara pria dan wanita, misalnya tentang bertemunya sel sperma dan sel telur, tentang penyakit seksual, tentang pelecehan seksual, dan lain sebagainya. Ajarkan bahwa kita harus selalu menjaga teman-teman kita dan tidak boleh mengejek fisik anak lain.

Anda bisa mengajarkan anak mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual. Seperti mengajarkan mereka untuk menolak membuka pakaian, diraba alat vitalnya oleh teman, saudara atau orang yang dikenalinya meskipun diberikan imbalan. Mereka juga harus diberitahu cara merespon jika mereka dipaksa melakukan sesuatu atau diintimidasi oleh orang dewasa saat mereka mencoba melakukan penolakan yang membuatnya tidak nyaman. Dekati sang anak agar mereka selalu berusaha terbuka kepada orangtuanya.

6. Usia 9-11 tahun

Pada usia ini anak mulai masuk ke masa pubertas. Perubahan pada tubuh mulai dirasakan oleh anak seperti tumbuh jakun, payudara, rambut , dan lainnya. Orangtua mulai bisa menjelaskan tentang menstruasi pada anak perempuan atau mimpi basah pada anak laki-laki.

Setiap perubahan yang dirasakan oleh anak sebaiknya selalu didiskusikan bersama sehingga anak tidak mencari tahu dari media atau orang lain. Konsep pacaran juga sudah mulai diberikan pemahaman pada anak.

7. Usia 12 tahun ke atas

Pada usia ini anak sudah mulai paham tentang interaksi antara lawan jenis dan ada beberapa dari anak-anak yang sudah mulai berpacaran. Tentunya kontrol orangtua harus semakin ketat.

Orangtua harus selalu mengingatkan bahwa “tidak boleh menyentuh bagian tubuh orang lain”, “harus menghargai orang lain”, “tidak boleh memaksa”, dan lain sebagainya. Lakukan pendekatan pada anak dengan lembut, tanpa kekerasan, karena semakin kita keras pada anak, mereka akan semakin membangkang dan akan sengaja melakukan hal-hal yang dilarang.

Perlu diketahui bahwa dorongan atau gairah seksual pada masa puber meningkat sangat signifikan, oleh sebab itu orangtua seharusnya sudah mengajarkan seperti apa sistem reproduksi dan bagaimana cara kerjanya pada masa ini.

Memberikan pemahaman tentang arti cinta dan pacaran sangat mempengaruhi pemikiran sang anak dalam menyikapi pergaulan seks bebas yang terjadi di sekitarnya. Tanamkan pemahaman khususnya pada anak perempuan, bahwa jika ada laki-laki yang mengajaknya berhubungan di luar nikah bahkan sampai melakukan pemaksaan dan marah saat dia menolaknya bukan berarti dia tidak mencintainya. Justru jika hal tersebut terjadi, itu tandanya mereka tidak mencintai anak Anda dan hanya ingin menjadikan dia sebagai pelampias nafsunya saja. Sampaikan bahwa ada banyak konsekuensi yang akan dihadapinya jika mereka melanggar prinsip melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, baik dari sisi biologis, psikologis maupun sosial. Orangtua selalu dituntut untuk melakukan komunikasi dua arah untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan.

Hindari mengeluarkan kata-kata menghakimi agar anak-anak tidak merasa takut dan enggan untuk berbagi cerita dengan orangtuanya. Jika orangtua merasa berat untuk membicarakan bahasan tentang seks dengan anak, mungkin Anda bisa meminta bantuan kepada psikologi untuk memberikan pendidikan seks yang tepat.


Sumber :

http://www.buahatiku.com/waktu-yang-tepat-mengenalkan-sex-education-pada-anak/

http://m.tribunnews.com/kesehatan/2013/05/05/10-cara-sampaikan-pendidikan-seks-pada-anak-tanpa-vulgar

https://www.kompasiana.com/iinnadliroh/5a13e0e7a07a633aed332823/7-cara-mengenalkan-pendidikan-seks-pada-anak-usia-dini

http://sayangianak.com/ini-cara-memberikan-pendidikan-seksual-pada-anak-sesuai-tahap-perkembangannya/
Sudah dilihat 131 kali

Komentar