Kejahatan Gendam

30 August 2019, 22:55 WIB
1 0 168
Beberapa waktu yang lalu, di dalam bus TransJakarta 4C (Bunderan Senayan - TU GAS), saya melihat ada seseorang bapak separuh baya (60-65 tahun), berlogat jawa medok --sebut saja Joko, yang sedang dibuat bingung oleh beberapa laki-laki, yang saya duga berkomplot. Saya naik dari Halte Taman Suropati, dan Joko serta ketiga "pengeroyoknya" sudah terlebih dahulu di dalam bus. ketika bus berada di sekitaran RSCM, saya berdiri di dekat Joko duduk, dan di sebelahnya ada P1, di seberangnya P2 dan duduk dibaris belakang, ada P3. P1, P2, P3 adalah sebutan singkat Penipu satu hingga 3, dan TJ yg kami tumpangi adalah Bus dg susunan bangku memanjang kanan kiri dan satu baris di belakang; Joko duduk di baris kiri paling pojok belakang.
ketika saya dengarkan, Joko menanyakan alamat teman lamanya di Kampung Ambon, di jalan Ajudan. menurut P1, itu letaknya dekat Pulogadung. saya yg pernah tinggal di kawasan Kampung Ambon menengahi bahwa tidak ada jalan bernama Ajudan di Kampung Ambon. P1 tetap berusaha meyakinkan bahwa jalan itu di kawasan Pulogadung. saya katakan bahwa Kampung Ambon itu tidak berada di kawasan Pulogadung. P2 menyanggah perkataan saya dan mengatakan bahwa jalan Ajudan ada di belakang terminal Rawamangun dan itu masuh daerah Kampung Ambon Rawasari. Saya menegaskan kepada Joko, bahwa nama-nama jalan di sekitaran Kampung Ambon itu seperti nama alat dan bahan bangunan, sedang nama-nama jakan di belakang terminal Rawamangun itu sepertj nama ikan dan hewan air. saya hapal, karena saya tinggal di Kampung Ambon selama 12 tahun, dan di Rawamangun selama 10 tahun terakhir. saya hapal semua rute angkutan umum di sekitar Pulogadung dan Rawamangun. Nampaknya P1 dan P2 mempunyai niat kurang baik kepada Joko. sebagai hipnoterapis saya hafal dengan modus mereka yg mencoba membingungkan korbannya, yg ketika sudah benar-benar bingung, korban akan ditepuk untuk menghinopsis. masyarakat menamakan ini sebagai kejahatan gendam.
Saya semoat bercakap dengan menggunakan bahasa Jawa kepada Joko, bahwa beliau harus berhati-hati kepada orang yg baru dikenal, dan tiba-tiba P3 yg dari tadi diam, menghardik Joko, bahwa sebelum bepergian, harus menelpon temannya terlebih dahulu, agar tidak dibuat bingung oleh orang lain, sambil matanya melirik ke saya. sebelumnya saya sempat melihat P1 berpindah duduk dan berbisik-bisik kepada P3.
Akhirnya P3 turun di halte BPKP, Joko turun di halte UNJ, P2 turun di Sunan Giri. Saya turun di halter Layur dan P1 mengikuti saya. saya menunggu agar P1 keluar halte terlebih dahulu dan saya berjalan mengambil arah berlawanan dengan P1, meskipun tetap mengarah pulang ke rumah saya. saya sempat melihat, sebelum turun P1, P2 dan P3 saling melirik dan mengangguk, menunjukkan mereka kenal satu sama lain, dan berlagak menjadi orang asing.
Hati² terhadap orang asing yg berbicara dengan topik berganti-ganti dengan cepat, serta terkadang menggunakan kisah yang menarik empati kita. bukan tidak mungkin itu salah satu cara untuk "membuka" titik kritis kita, dan memudahkan mereka menyampaikan pesan² yg menghiposis.

  Komentar untuk Kejahatan Gendam

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. New Normal Starter Pack

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Cibeurum, Sukabumi Kota  |  30 May 2020
  2. Warga RW 22, Mergangsan Kidul Sulap Selokan Jadi Lahan Budidaya Ikan

    Abdul Razaq  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  2 Jun 2020
  3. Viral Video Anak Merokok, Yayasan Lentera Anak : Pelanggaran Peraturan Dan Hak Anak

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Jagakarsa, Jakarta Selatan  |  28 May 2020
  4. Penyakit Cengkal

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Kalipuro, Banyuwangi  |  30 May 2020

Komentar Terbanyak

  1. 3
    Komentar

    Aceh Sukses Putus Rantai Penyebaran COVID

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  28 May 2020
  2. 3
    Komentar

    TIDAK PERLU AJARI KAMI NEW NORMAL, SUDAH BIASA BOSCU

    Dhani Rama  di  Palu Kota  |  1 Jun 2020
  3. 3
    Komentar

    KAMPUNG UJUNG BERBENAH SAMBUT NEW NORMAL

    Ayu Darwiyanti  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  31 May 2020
  4. 2
    Komentar