Karya Sastra Kepemimpinan Di Kasultanan Ngayogyakarta

15 September 2019, 18:05 WIB
1 0 247
Gambar untuk Karya Sastra Kepemimpinan Di Kasultanan Ngayogyakarta
KARYA SASTRA KEPEMIMPINAN DI KASULTANAN NGAYOGYAKARTA
Oleh: Tim YKB

Sastra merupakan salah satu hasil kebudayaan jawa di Kasultanan Ngayogyakarta. Pengembangan karya sastra dilakukan oleh Pujangga Kraton yang banyak menciptakan beragam karya sastra berupa babad dan serat. Sebagai contoh karya sastra itu antara lain ialah Serat Suryaraja oleh RM Sundoro, Babad Mangkubumi oleh Sultan Hamengkubuwono II, Serat Paramasastra, Babad Mataram, Kitab Anger-Anger, Kitab Suci Al-Qur’an berornamen lokal Jawa. Selain kitab-kitab itu ada beberapa serat lain. Diantaranya ada kitab yang membicarakan tentang kepemimpinan, selain Serat Suryaraja. Antara lain ialah Serat Warna-Warni, dan Serat Tajussalatin.

Serat Warna-Warni ditulis pada 7 April 1847 Masehi ditujukan untuk Sri Sultan Hamengku Buwana V yang berisi nasihat bagi para raja dan pejabat dalam menjalankan kekuasaan. Serat Warna-Warni menyebutkan bahwa kanggo dadi raja sing becik kuwi sarate ana 10 (sepuluh): 1. akil baliq, supaya raja bisa mbedakake ala lan becik; 2. alim, yaiku ahli ngelmu, ngerti maca-tulis, lan ngerti cerita kanggo tepa tuladan; 3. bisa milih punggawa kang apik budine lan pinter micar; 4. Alus wicrane lan bagus rupane kang marakake wong tresna karo dheweke; 5. Loma, ora cethil; 6. Tansah gawe kabecikan lan ngelingake wong liya supaya gawe kabecikan; 7. Wani maju ing perang; 8. Ngula anggone mangan lan turu; 9. Aja kerep milara marang wong wadon lan wong cilik; 10. Lanang, ratu kuwi sing utama wong lanang, dudu wong wadon.

Makna ungkapan serat Warna Warni di atas menyebutkan bahwa ada 10 (sepuluh) persyaratan untuk menjadi raja, yaitu akil baliq supaya dapat membedakan yang baik dan yang buruk; alim yang berarti berilmu, dapat membaca dan menulis, serta mengetahui cerita yang dapat dijadikan teladan; bisa memilih punggawa yang berbudi dan pandai berbicara; beradab dan berparas rupawan supaya orang mencintainya; dermawan atau tidak pelit; selalu berbuat baik dan senantiasa mengingatkan orang lain untuk berbuat baik; berani berperang; makan dan tidur secukupnya; tidak menyakiti perempuan dan orang kecil; dan laki-laki.

Serat Tajussalatin yang berarti Mahkota Segala Raja merupakan terjemahan dari kitab berbahasa Melayu karya Bukhari al-Jauharu dari Kasultanan Aceh Darussalam. Penerjemahan kitab ini dilakukan atas perintah Sultan Hamengku Buwono V yang dimulai pada 9 September 1851 hingga10 April 1852. Serat ini mengemukakan ajaran tentang konsep kekuasaan, kedudukan dan fungsi raja dalam perspektif ajaran Islam, yaitu sebagai khalifah. Raja disebutkan sebagai wakiling widhi (wakil Tuhan) yang bertugas untuk menjaga dan membina alam semesta seisinya (rumeksa jagad raya myang saisinipun) dan memerintah rakyatnya agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat (sayekti angsal kamulyan ngalam donya tumekeng ngakir).

Raja atau pemimpin adalah peran khusus manusia sebagai suh atau inti dari kondisi harmonis karena dalam gagasan Jawa, raja bukanlah semata-mata representasi rakyat, melainkan juga karena mendapatkan wahyu atau kewahyon. Apabila raja atau pemimpin itu tepat sebagai orang yang mendapatkan wahyu, maka terjadi kondisi kosmik dan tidak terjadi kekacauan baik di dalam masyarakat maupun di alam semesta. Itulah mengapa raja harus mempunyai pengetahuan yang luas untuk dapat menjaga ketertiban dan keteraturan. Selain itu, pada awalnya, raja juga harus mampu menciptakan harmoni dalam dirinya sendiri baru kemudian membangun keharmonisan bagi kerajaannya. Apabila seorang raja yang tidak lagi mempunyai kemampuan untuk membangun kondisi harmonis bagi dirinya sendiri dan kerajaannya, maka akan gugur legitimasinya sebagai pemimpin.

Untuk memimpin kerajaan, Sultan berpedoman pada hukum perundang-undangan Jawa, Serat Angger terdapat yang dalam berbagai judul. Satu di antara sekian banyak naskah Jawa tentang hukum perundangan Jawa adalah Serat Angger koleksi perpustakaan Museum Negeri Sanabudaya Yogyakarta nomor PBA 196. Naskah tersebut berisi tentang angger-angger atau perundang-undangan yang berlaku di Kraton Kasultanan Yogyakarta, tepatnya pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VI. Serat Angger PBA 196 ditulis oleh Raden Lurah Atmasuteja, abdi dalem lurah Ponakawan, putra ing Kadhaton, berdasarkan naskah induk milik Raden Riya Yudaprawira, bupati wadana dhistrik di Kalibawang. Penulisan/penyalinan naskah tersebut dilakukan atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwana VI (1855-1877).

Naskah Serat Angger PBA.196 setebal 391 halaman, dengan teks berbentuk prosa yang terdiri atas beberapa bagian, yaitu:
1. Keterangan pemilik naskah.
2. Keterangan mengenai para bupati di Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, meliputi nama, tanah lungguh, gaji, maupun jabatan.
3. Para pejabat Belanda yang berkuasa di Yogyakarta.
4. Para pejabat pribumi yang mempunyai kedudukan di wilayah Yogyakarta.
5. Pembagian wilayah kekuasaan kepolisian di wilayah Yogyakarta.
6. Daftar Isi Sĕrat Anggĕr Pradata Awal, Anggĕr Sĕdasa, Anggĕr Pranata Akir, Anggĕr Arubiru, Anggĕr Ageng Layanan.
7. Anggĕr Pradata Awal.
8. Anggĕr Sĕdasa.
9. Anggĕr Pranata Akir
10. Anggĕr Arubiru
11. Anggĕr Ageng Layanan
12. Anggĕr Rĕdi
13. Undang-Undang dari Negeri Belanda
14. Anggĕr Ukuman
15. Anggĕr Pranata Islam
16. Anggĕr Prajurit


Sumber:

Endah Susilantini, dkk., 2014, Serat Angger Pradata Awal dan Pradata Akir di Kraton Yogyakarta: Kajian Filologis Historis, BPNB Yogyakarta.

Siti Chamamah Soetanto dkk, 2001, Khasanah Budaya Kraton Yogyakarta II, Yayasan Kebudayaan Islam Indonesia, Yogyakarta.

M. Jandra dkk., 1998, Islam & Khasanah Budaya Kraton Yogyakarta, Yayasan Kebudayaan Islam Indonesia, Yogyakarta.

Tashadi dan Mifedwil J, 2001, Khasanah Budaya Kraton Yogyakarta II, IAIN Sunan Kalijaga dan Yayasan Kebudayaan Islam Indonesia, Yogyakarta.

S. Prawiroatmodi, 1994, Bausastra Jawa – Indonesia Jilid II, Haji Masagung, Jakarta.

R. Parmono, 1988, Konsep Kepemimpinan Dalam Budaya Jawa (Laporan Penelitian), Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.

Muhammad Rasjidi, 1973, Di Sekitar Kebatinan, Bulan Bintang, Jakarta

Simuh, 1996, Sufisme Jawa, Bentang Budaya, Yogyakarta.

Sartika Intaning Pradhani dan Alam Surya Anggara, 2015, Kedudukan Laki-laki Dalam Budaya Hukum Kasultanan Daerah Istimewa Yogyakarta dimuat pada Jurnal Penelitian Hukum Volume 2, Nomor 3, November 2015.



Sumber : Untuk makna dan kajian lengkapnya buka dan baca halaman FB Yogyakarta Kota Budaya berikut ini:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=754954664946842&id=621881678254142

  Komentar untuk Karya Sastra Kepemimpinan Di Kasultanan Ngayogyakarta

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. Bantuan Biaya Pendidikan Mahasiswa DKI Jakarta Tahun 2020

    𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Penjaringan, Jakarta Utara  |  14 Sep 2020
  2. Warung Digital Wirogunan "www.klarisan.com" tempat jualan online Warga Wirogunan

    Abdul Razaq  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  14 Sep 2020
  3. Berkolaborasi Menggapai Mimpi Kampung Karangwaru Kidul, Tegalrejo

    Abdul Razaq  di  Tegalrejo, Yogyakarta  |  18 Sep 2020
  4. Mimpi Kampung Dukuh Mengawali Masterplan di Kelurahan Gedongkiwo

    Abdul Razaq  di  Mantrijeron, Yogyakarta  |  14 Sep 2020

Komentar Terbanyak

  1. 14
    Komentar

    Di Serbu Dokter-Dokter

    Indra Suryanto  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  13 Sep 2020
  2. 5
    Komentar

    Mimpi Kampung Dukuh Mengawali Masterplan di Kelurahan Gedongkiwo

    Abdul Razaq  di  Mantrijeron, Yogyakarta  |  14 Sep 2020
  3. 5
    Komentar

    WORLDCLEANUPDAY, 19 SEPTEMBER 2020

    Umi sulvian  di  Jonggat, Lombok Tengah  |  19 Sep 2020
  4. 4
    Komentar

    Penyusunan Masterplan Kampung Surokarsan

    mas agus  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  19 Sep 2020