JATAM Sulteng: Melawan Tembok Jepang Dengan Mangrove.

50487 medium post 56885 9fc3d900 399d 4906 8a79 9f928a9ee83e 2019 02 17t16 17 19.774 08 00 50488 medium post 56885 31ab8a9f 3cf2 4fe3 ab69 3adb4383b17a 2019 02 17t16 19 34.127 08 00 50490 medium post 56885 63701bf1 7dea 4dc6 90f4 d209a7016ce0 2019 02 17t16 21 20.716 08 00
Minggu (17/2), Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Sulawesi Tengah bersama Pegiat mangrove Nggoneganti Kelurahan Kabonga Besar, Kabupaten Donggala melakukan diskusi mengenai upaya untuk mendorong perbaikan pesisir teluk Palu, melalui pelestarian hutan mangrove.

Menurut Alkiyat (Advokasi dan Kampanye-Jatam Sulteng) Bahwa upaya pelestarian hutan mangrove jika dilakukan secara serius dan berkelanjutan, bukan saja berdampak pada perbaikan pesisir secara pernanen, murah serta berbasis resiko pasca bencana, Juga merupakan langkah konkret dalam kerja penyadartahuan kepada masyarakat lingkar tambang yang bermukim di sepanjang pesisir teluk Palu, bahwa ada harapan lahirnya ekonomi alternatif yang berbasis potensi lokal non tambang.

"Kalau di Jepang, mereka mengantisipasi Tsunami dengan membangun tembok besar. Disini kami menggunakan cara yang lebih alami dan ramah lingkungan, cukup tanam dan lestarikan Mangrove", Sambung Alkiyat.

Kedepannya, Jatam Sulteng bersama komunitas pegiat hutan mangrove itu, akan mendorong terbentuknya Pusat Informasi Mangrove teluk Palu.
Sudah dilihat 216 kali

Komentar