Ini Konsep JoTRAM Milik Dishub Kota Depok

67619 medium 23072019
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok, Dadang Wihana mengatakan, pesan Tertib Lalu Lintas (Tiblantas) yang akan diuji coba Agustus mendatang adalah sebagian kecil dari konsep Joyful Traffic Management (JoTRAM). Menurutnya, tujuan pesan Tiblantas melalui lagu bukan untuk mengusir stres pengendara di jalan, melainkan untuk mengedukasi masyarakat agar disiplin mematuhi rambu demi keselamatan di jalan raya.

“Ada kekeliruan persepsi di masyarakat. Pesan Tiblantas bukan pemutaran musik di sepanjang waktu atau sepanjang hari di traffic light (TL). Saat ini di beberapa kota besar TL dilengkapi dengan beragam bunyi. Di Depok rencananya bunyi-bunyian itu dengan lagu Tiblantas dan pesan Tiblantas dengan durasi 45- 60 detik dengan memperhatikan aspek keselamatan,” ujarnya kepada depok.go.id, Senin (22/07/2019).

Dikatakanya, pemutaran pesan Tiblantas dalam bentuk lagu-lagu adalah sebagai imbauan agar pengendara tertib berlalu lintas. Kegunaannya, kata Dadang, bagi penyeberang jalan menjadi penanda berawal dan berakhirnya lampu merah sehingga tetap waspada. Sedangkan bagi pengendara sebagai ajakan untuk tertib di jalab, sehingga memberi kenyamanan bagi pengendara yang lain.

“Alat yang digunakann juga adalah optimalisasi peralatan yang sudah ada di TL, yang sudah dilengkapi dengan CCTV dan terkoneksi dengan ATCS (Area Traffic Control System) di Dishub dan D’COR di Balai Kota,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, kegiatan ini menjadi salah satu bagian kecil saja dari konsep JoTRAM yang sedang dirumuskan, melalui kolaborasi sistem dengan pendekatan seni agar pengendara lebih tertib di jalan.

Selain itu, dilakukan juga pemberdayaan musisi jalanan bekerja sama dengan komunitas seni yang diberikan area khusus di Terminal Depok untuk tampil. Hal ini bertujuan agar ruang-ruang publik bisa memberi manfaat untuk warga dengan tanpa melanggar aturan.

“Dari sisi engineering sedang dirumuskan manajemen rekayasa yang cocok dengan kondisi Kota Depok. Data hasil survei kinerja jaringan jalan, saat ini Level Of Service (LoS) ruas Jalan Dewi Sartika dan Jalan Margonda Raya saat weekend sudah pada kategori D (artinya arus tidak stabil), di lain pihak kita sudah tidak mungkin menambah kapasitas jalan, maka manajemen rekayasa lalu lintas perlu dilakukan,” katanya.

Beberapa alternatif, tambah Dadang, sedang dikaji dan didiskusikan dengan pihak terkait di antaranya melalui contra flow di Jalan Arif Rahman Hakim yang bersinggungan dengan jalur kereta api. Pemerintah Kota Depok dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga sedang merencanakan pembangunan underpass di Jalan Dewi Sartika untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Depok.

“Kita pun akan membuka jaringan angkutan massal dari Terminal Terpadu-Juanda-Terminal Jatijajar, dan pada tahun ini akan menyusun koridor angkutan massal berbasis rel. Dari sisi penanggulangan hambatan samping seperti parkir di bahu jalan, kami mencoba fasilitasi dengan melakukan pendekatan dengan dunia usaha dan aplikator online dalam penyediaan shelter ojol. Saat ini, sudah ada di kawasan Stasiun Depok Lama yang kita fasilitasi dengan pendekatan community based, menyelesaikan masalah secara bersama-sama dengan mereka. Di Jalan Margonda Raya sedang dijajaki penyediaan shelter di ITC dan Depok Mall. Ini kita lakukan tanpa membebankan pada APBD,” tutupnya.

sumber: pemkot depok
foto: dishub depok
Sudah dilihat 18 kali

Komentar